Round-Up

Kasus Pelecehan di Bandara Soetta Berujung Penahanan Tersangka

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 06:17 WIB
Polisi rilis kasus pelecehan di Bandara Soekarno-Hatta
Tersangka pelecehan dan pemerasan di Bandara Soetta ditahan sejak Sabtu 26 September. (Tiara Aliya/detikcom)

Tak hanya melakukan melakukan pencabulan kepada korban, tersangka EF melakukan penipuan dan pemerasan kepada korban. Dengan dalih menawarkan korban mengubah hasil rapid test dari reaktif menjadi non-reaktif, tersangka meminta korban sejumlah uang. Padahal, hasil rapid test korban dinyatakan non-reaktif.

"Petugas pada saat pelaksanaan rapid test dan juga dilakukan penipuan sebesar Rp 1,4 juta ini sempat ramai, jadi pelaku sudah berhasil kita amankan inisialnya adalah EFY," ucap Yusri.

Polisi telah memeriksa sejumlah saksi terkait kasus itu. Di antaranya PT. Kimia Farma, selaku penyelenggara rapid test, universitas swasta di Sumatera Utara tempat EF menimba ilmu sebagai Sarjana Kedokteran hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Hasil penyelidikan mengungkap bahwa tersangka belum layak disebut dokter karena belum melaksanakan uji kompetensi dokter Indonesia (UKDI).

"Hari ini kita dapat keterangan bahwa yang bersangkutan belum dokter, karena belum ada uji kompetensi dokter Indonesia yang dikeluarkan oleh IDI. Jadi belum sah dia jadi dokter tapi dia adalah Sarjana Kedokteran. Kalau S.Ked, iya sudah," jelas Yusri.

EF pun dijerat tiga pasal berlapis dengan ancaman hukuman terberat 9 tahun penjara.

"Yang pertama adalah adanya 368 di pasal 368 KUHP kemudian 378 penipuan juga ada di pasal 289 dan 294 tentang pencabulan yang dilakukan oleh tersangka," jelasnya.

"Untuk pasal sudah jelas disampaikan yang termasuk ancaman tertingginya adalah 9 tahun penjara. makanya bisa kita lakukan penahanan terhadap yang bersangkutan," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4