Kaleidoskop 2020

Deretan Kepala Daerah di Jatim Terpapar hingga Meninggal Positif COVID-19

Suparno, Ghazali Dasuqi - detikNews
Minggu, 27 Des 2020 08:43 WIB
Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin
Plt Bupati Sidoarjo meninggal positif COVID-19 (Foto: Faiq Azmi/detikcom)
Surabaya -

Sepanjang tahun 2020 saat pandemi COVID-19, kepala daerah di Jawa Timur satu per satu terpapar COVID-19. Total ada 7 kepala daerah positif COVID-19 dan 3 di antaranya meninggal dunia.

1. Plt Bupati Sidoarjo Meninggal Positif COVID-19
Bermula Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin, kepala daerah pertama meninggal positif COVID-19. Cak Nur sapaan akrabnya meninggal usia 57 tahun, Sabtu (22/8/2020).

Meninggalnya pria yang juga Wakil Bupati Sidoarjo ini mengejutkan masyarakat. Selain tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, suami Hj Turidatus Salimah ini masih beraktivitas normal. Bahkan Rabu (19/8/2020). bapak dari Chulliatul Murodah, Muhammad Abdul Aziz dan Muhammad Hanif Mubarok, masih menghadiri rapat paripurna DPRD Sidoarjo.

Namun kisah lain diceritakan Dirut RSUD Sidoarjo dr Atok Irawan. Dia mengaku almarhum sudah mengalami keluhan sejak sepulang dari Jakarta, Rabu (19/8) dan minta diperiksa.

Atas permintaan itu, pihaknya kemudian melanjutkan pemeriksaan paru dengan foto thorax. Pemeriksaan itu dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB dan diketahui ada pneumonia di parunya. Karena hasil tersebut, Atok kemudian menyarankan untuk dilakukan rawat inap di rumah sakit. Namun Wabup Sidoarjo itu menolaknya dan hanya minta obat. Sebab sorenya harus menghadiri rapat paripurna

"Saya foto sekitar pukul 2 ternyata ada pneumonia. Kemudian saya tawarkan dirawat inapkan. Tapi bilang 'waduh nanti sore pukul 6 ada rapat paripurna. Saya minta rawat jalan saja'. Beliau hanya minta obat," terangnya.

dua orang dampingi peti jenazah plt bupati sidoarjo tanpa pakai hazmat2 orang dampingi peti jenazah plt bupati sidoarjo tanpa berhazmat/ Foto: Suparno

Karena menjalani rawat jalan, Atok kemudian berinisiatif menanyakan kabar Plt Bupati Sidoarjo itu melalui apliaksi percakapan pada Kamis (20/8) dan Jumat (21/8). Namun saat itu tidak dibalas oleh Cak Nur.

"Hari Kamis Jumat kan libur. Saya WA beliau menanyakan kondisinya. Mungkin istirahat tidak sempat dijawab. Tadi pagi, saya dihubungi bilang mau diopname. Akhirnya pukul 9.00 kami jemput ke rumah dinas. Akhirnya kami infus. Kami periksa semua," tuturnya.

Atok mengungkapkan, selama di rumah sakit, Cak Nur harus diinfus. Sebab selama 2 hari tidak mau makan. Dan saat menjelang siang, Cak Nur kemudian bersikeras turun dari bed untuk melaksanakan salat zuhur.

"Beliau bersikeras untuk turun sambil duduk ingin salat zuhur. Saat itu sesak mendadak. Ya akhirnya kami nastesi dan pasang ventilator. Setelah dipasang stabil (Kondisinya). Tapi jantung berhenti mendadak," tandas Atok.

Atas meninggalnya Wakil Bupati Sidoarjo, 30 orang menjalani swab. Terdiri dari 22 orang yang menghuni rumah dinas termasuk keluarga dan 8 orang yang mengikuti perjalanan almarhum Wabup Bupati Sidoarjo ke Jakarta. Di antaranya ajudan, protokol, sopir, keamanan anak-anaknya hingga juru masak di rumah.

Tonton juga 'Tangkal Virus Corona Ala Menristek: 3M dan Jaga Imun Tubuh':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5 6 7