ADVERTISEMENT

detikcom Do Your Magic

Kini Hangus, Lenggang Jakarta Dulu Didirikan Ahok untuk Menata PKL Monas

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 07 Apr 2022 14:34 WIB
Pemprov DKI berencana menata dan menambah 200 kios di Lenggang Jakarta. Nantinya, pembangunan kios disesuaikan dengan alur pejalan kaki yang masuk ke Monas.
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Jakarta -

Ratusan kios di Lenggang Jakarta, kawasan IRTI Monas, hangus terbakar. Kawasan Lenggang Jakarta merupakan peninggalan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat masih menjadi Gubernur DKI sebagai cara menata kawasan Monas.

Pedagang kaki lima (PKL) di Monas menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh Ahok semasa menjabat jadi Gubernur pada 2014. Ahok menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo (Jokowi), yang terpilih menjadi presiden.

"Dulu waktu saya dengan Pak Jokowi, kami berpikir, ingat nggak waktu kami masuk Monas itu steril tidak ada PKL? Sejak kami baru (memimpin Jakarta), Monas bisa ada PKL, kami yang izinkan. Pak Jokowi kasih izin," cerita Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin 1 Januari 2015.

"Dulu acara saja nggak boleh di Monas, mau Lebaran Betawi juga nggak ada," lanjutnya.

Bahkan pedagang ini kucing kucingan dengan petugas jika tidak ada mereka membuka lapak kembaliBahkan pedagang ini kucing-kucingan dengan petugas. Jika tidak ada petugas, mereka membuka lapak kembali (Lamhot Aritonang/detikcom)

Ahok menilai keberadaan PKL itu di satu sisi dibutuhkan untuk memberi kemudahan bagi warga. Meskipun peraturan daerah (perda) melarang PKL berjualan di tempat keramaian, Ahok tidak sependapat dengan itu. Sebab, menurutnya, peraturan semacam itu bertolak belakang dengan hakikat PKL.

"Lalu kami berpikir alangkah baiknya jika PKL bisa ditata di taman untuk jualan, walaupun perda melarang jualan di taman. Lalu kita berpikir Monas gede gitu kalau di titik-titik tertentu bisa dipakai untuk jualan (kan bagus)," terang Ahok.


Peresmian Lenggang Jakarta

Setelah PKL diberi izin di Monas, kawasan Monas malah disebut dikuasai oleh preman dan oknum-oknum aparat. Kondisinya tidak tertib dan hanya menguntungkan sebagian orang.

"Kita buka UKM kecil. Tapi begitu dibuka, bos-bos preman matokin lahan-lahan, di-Pylox (cat semprot), aparat terlibat. Mereka bayar ke oknum, satpam-satpam kita main juga. Makanya dibersihkan dulu semua," ujar Ahok dalam sambutannya di acara peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang digelar di Monas, Sabtu 13 Desember 2014.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akhirnya meresmikan kantin Lenggang Jakarta di Monas, Jumat (22/5/2015). Ahok berani menjamin tidak ada jajanan yang menggunakan zat pengawet ataupun zat kimia di kantin tersebut. Grandyos Zafna/detikcom.Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akhirnya meresmikan kantin Lenggang Jakarta di Monas, Jumat (22/5/2015).

Pedagang di Lenggang Jakarta pun merupakan pedagang yang telah diseleksi oleh Pemprov DKI Jakarta. Hanya 350 kios yang disediakan oleh Pemprov DKI.

Lenggang Jakarta diresmikan oleh Ahok pada 22 Mei 2015. Selain soal menjamin makanan yang dijual di Lenggang Jakarta Aman, Ahok pun menjamin bahwa pedagang di sini tidak akan lagi diusik oleh preman. Sebab, Ahok atau gubernurlah yang menjadi 'bos'.

"Saya kepala preman baru, Bapak/Ibu. Setor ke DKI, kami. Ini kepala mafia baru. Mafia yang baik hati ingin membuat kepala dan perut Bapak Ibu penuh. Dengan mengucap syukur, setelah menunggu lama dan setelah agak naik darah, Lenggang Jakarta saya resmi buka," kata Ahok diikuti riuh tepuk tangan para pedagang dan perwakilan Pemprov DKI Jakarta yang hadir.

Sempat Ditolak PKL

Ratusan pedagang kaki lima (PKL) Monas berunjuk rasa di depan Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Pendemo menolak kebijakan lokalisasi PKL di kantin Lenggang Jakarta Monas. Mereka masih ingin berjualan diarea Monas lainnya.

Demonstrasi digelar di depan Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, 26 Mei 2015 pukul 12.30 WIB.

Demonstran berorasi dan membawa bendera APKLI (Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia). Spanduk lainnya berbunyi, "PKL Monas Jakarta Bukan Pencuri atau Perampok, Jangan Aniaya, Kami Lawan!!!."

Kemudian pada 20 Juni 2015, ratusan PKL menyerbu kawasan Monas melalui gerbang timur, bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Para oknum PKL itu membabi buta melakukan pengerusakan fasilitas umum di Monas dan melakukan penyerangan terhadap Satpol PP yang tengah berjaga.

Kawasan Lenggang Jakarta diserangan para PKL pada Sabtu (20/6) sore lalu. Sejumlah fasilitas umum dirusak. Ini kondisi Lenggang Jakarta Monas pasca penyerangan, Senin (22/6). Grandyos Zafna/detikcom.Kawasan Lenggang Jakarta diserangan para PKL pada Sabtu (20/6) sore lalu. Sejumlah fasilitas umum dirusak. Ini kondisi Lenggang Jakarta Monas pasca penyerangan, Senin (22/6). Grandyos Zafna/detikcom. Foto: Grandyos Zafna

Para PKL juga membakar tenda tempat Satpol PP berjaga. Beberapa kendaraan Satpol PP dan pengunjung Monas tak luput dari amukan PKL.

Tak sampai di situ, kawasan Lenggang Jakarta yang tengah ramai pengunjung juga ikut diserang. Para PKL melakukan pengerusakan di area Lenggang Jakarta.

Aksi penyerangan tersebut merupakan yang kedua dalam sepekan. Penyebab aksi rusuh itu disebut-sebut karena para PKL marah dilarang berjualan di Monas. Atas kejadian itu, Polisi menangkap satu orang.

Kebakaran di Lenggang Jakarta

Kebakaran tejadi pada Kamis 31 Maret 2022, pukul 04.45 WIB. Sebanyak 240 kios di Lenggang Jakarta terbakar.

Polisi menetapkan pria inisial WST (29) sebagai tersangka kebakaran kios Lenggang Jakarta. Polisi mengungkapkan adanya dugaan kecemburuan di balik aksi pria WST ini.

"Untuk motif sementara ini masih kita dalami," kata Wakapolres Jakpus AKBP Setyo Koes Heriyanto dalam jumpa pers di Polres Metro Jakarta Pusat, Senin (4/4/2022).

"Namun ada keterangan tersangka menyebutkan karena cemburu, apakah ini cemburu terhadap siapa dan apa, masih kita dalami," katanya kepada wartawan, Senin (4/3/2022).

Pedagang melihat kondisi puing-puing kios pascakebakaran di kawasan Monas, Jakarta, Kamis (31/3/2022). Sebanyak 172 kios lenggang Jakarta terbakar diduga akibat korsleting listrik dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp1,2 miliar. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/tom.Pedagang melihat kondisi puing-puing kios pascakebakaran di kawasan Monas, Jakarta, Kamis (31/3/2022). Sebanyak 172 kios lenggang Jakarta terbakar diduga akibat korsleting listrik dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp1,2 miliar. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/tom. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Kasus ini bermula ketika tersangka WST dan seorang pria pemilik kios souvenir, DL, bertengkar.

"Jadi Saudara WST itu pada malam itu memang bertengkar dengan DL," kata Wisnu dalam jumpa pers di Polres Metro Jakarta Pusat, Senin (4/4/2022).

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Wisnu Wardhana mengatakan WST bukan pedagang di sana. Awalnya WST datang ke Kios Lenggang untuk menemui DL. Namun, DL tidak ada di lokasi.

Sebelum pergi, WST kemudian membakar kios DL. Tadinya WST niatnya hanya membakar kios suvenir milik DL.

Harapan Pedagang Korban Kebakaran

Pedagang korban kebakaran kios Lenggang di area parkir IRTI Monas, Jakarta Pusat berharap agar kios mereka kembali dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta. Selain itu, mereka pun ingin agar kawasan Monas dibuka untuk wisatawan.

"Kalau bisa, Monas dibuka lah, Monas itu dibuka agar apa? Agar beban kerigian ini berkurang lho. Sambil nunggu kios ini dibangun kembali sambil dari pengelola ini apa mengusulkan untuk ganti rugi," kata pemilik salah satu kios yang terdampak kebakaran, Dapit Wibisono di IRTI Monas, Rabu (6/4/2022).

Sampai saat ini, pedagang yang menjadi korban belum berjualan. Mereka sedang membahas soal relokasi sementara dan pembangunan ulang kios dengan Pemprov DKI Jakarta.

Pedagang mengusulkan agar Plaza Monas dijadikan sebagai tempat relokasi sementara. Menurutnya, permintaan itu telah disampaikan kepada Dinas UMKMP DKI Jakarta.

"Para pedagang sih sudah setuju ya tinggal pengusulannya nanti di Dinas UMKM Pemprov saja. Sudah diusulkan ke Dinas UMKM, belum ada keputusan karena kita kan masih nyusun data nih, data-data kerugian itu sih," ujarnya.

"Sudah secara lisan kan kita udah usulkan secara lisan tapi belum secara surat, secara lisan 'nanti di bawah saja pak' seperti itu," tambahnya.

(aik/dnu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT