ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Apakah Boleh Saya Menghibahkan Seluruh Harta Sebelum Meninggal?

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 04 Feb 2022 08:42 WIB
Ilustrasi warisan
Foto: Ilustrasi harta warisan (Getty Images/iStockphoto/Thitiphat Khuankaew)

Bagaimana dalam hal ahli waris tidak keberatan pewaris pada masa hidupnya menghibahkan seluruh hartanya?

Oleh karena alasan hukum seseorang hanya boleh menghibahkan maksimal sepertiga (1/3) hartanya adalah untuk melindungi hak ahli warisnya, maka dalam kondisi ini menurut pendapat saya dapat dianalogikan dengan hibah seseorang dalam kondisi sakit yang dekat dengan kematian (sakaratul maut), dibolehkan asalkan diizinkan oleh para ahli warisnya.

Jawaban untuk pertanyaan kedua

Pembagian harta warisan ayah dari NN. Berkaitan dengan pertanyaan ini, NN tidak menjelaskan secara rinci anak yang ditinggalkan oleh ayah dari NN apakah semuanya perempuan atau ada yang laki-laki, namun dari narasi yang disampaikan, saya memahami bahwa 6 (enam) orang anak yang ditinggalkan adalah perempuan. Sebelum menjawab pertanyaan kedua, saya memandang bahwa permasalahan yang diajukan oleh NN selain berkaitan dengan hukum waris juga berkaitan dengan kedudukan harta dalam pernikahan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juncto Pasal 47 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam, harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama pasangan suami istri, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian kawin.

Berdasarkan ketentuan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam, apabila salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka sebelum dilakukan pembagian harta warisan, harta dibagi dua terlebih dahulu, seperdua (½) menjadi bagian harta bersama milik pasangan yang masih hidup dan seperdua (½) lainnya menjadi harta bersama milik pewaris (pasangan yang meninggal dunia) yang untuk selanjutnya dibagikan kepada para ahli waris sesuai dengan bagian masing-masing.

Dengan demikian sebelum rumah peninggalan orang tua NN dibagikan kepada ahli waris yang ditinggalkan, dikeluarkan terlebih dahulu seperdua (½) bagian menjadi hak ibu dari NN dari bagian harta gono gini selama terikat perkawinan dengan ayah dari NN. Adapun seperdua (½) bagian lagi adalah hak ayah dari NN yang dapat ia hibahkan, berkaitan juga dengan pertanyaan pertama, dan yang akan dibagikan kepada para ahli waris. Oleh karena itu ibu dari NN tidak boleh menjual seluruh harta tersebut.

Sebelum ayah dari NN meninggal dunia, ia telah bercerai terlebih dahulu dengan ibu dari NN, maka ahli waris ayah dari NN adalah 6 (enam) orang anak perempuannya. Berdasarkan ketentuan Pasal 176 Kompilasi Hukum Islam (KHI) dua orang anak perempuan atau lebih mendapatkan bagian 2/3, namun oleh karena tidak ada ahli waris lain, seluruh harta ayah dari NN dibagi rata di antara 6 (enam) orang anak perempuannya.

Ilustrasi KeluargaFoto: Ilustrasi Keluarga (shutterstock)

Simak untuk jawaban atas pertanyaan ketiga di halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT