ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Istri Saya Anak Adopsi, Apakah Berhak Dapat Warisan Tanah Ibunya?

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 02 Feb 2022 08:52 WIB
Ilustrasi warisan
Ilustrasi warisan. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Thitiphat Khuankaew)
Jakarta -

Atas berbagai pertimbangan, ada pasangan memilih mengadopsi anak. Lalu apakah anak adopsi juga berhak mendapatkan warisan dari ayah dan ibunya layaknya anak kandung?

Hal itu menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate yang dikirim ke e-mail: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com :

Pak, saya D.

Sebelumnya terima kasih kepada detikcom yang telah membuat rubrik tanya jawab permasalahan hukum. Hal ini membuka wawasan masyarakat sehingga bisa menciptakan masyarakat sadar hukum.

Saya mau tanya.
Istri saya kan punya tanah dijual.
Lah istri saya anak angkat, dan ada penetapan adopsi dari pengadilan.
Sertifikat ini namanya istri bin ibunya.
Sedangkan ibu sama bapak sudah meninggal.

Apakah hasil penjualan tanah itu hak sepenuhnya milik istri saya pak?

Untuk menjawab masalah di atas, tim detik's Advocate meminta pendapat hukum dari Slamet Yuono, SH., MH (Partner pada Kantor Hukum 99 & Rekan). Berikut jawaban lengkapnya:

Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas pertanyaan yang Saudara sampaikan kepada detik's Advocate.
Dalam pertanyaan yang saudara sampaikan, saudara tidak menjelaskan apakah ada ahli waris dari ibu dan bapak yang telah mengadopsi istri saudara. Di samping itu saudara juga tidak menyampaikan bagaimana peralihan Sertifikat dari orang tua angkat kepada istri saudara.

Kami berasumsi istri saudara diangkat sebagai anak melalui Penetapan Adopsi dari Pengadilan Agama, hal ini karena saudara menyampaikan sertifikat atas nama istri bin ibunya (seharusnya istri binti ayah kandungnya, dalam kondisi tertentu baru bisa bernasab ke ibu kandungnya).

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai hak atas penjualan tanah sebagaimana saudara tanyakan, terlebih dahulu akan kami bahas mengenai anak angkat dan hibah (kami berasumsi harta atas nama istri saudara diperoleh dari hibah).

ANAK ANGKAT

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam, Buku II Hukum Kewarisan Pasal 171 huruf h, disebutkan :

"Anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan Pengadilan ".

Selanjutnya perlu kami tegaskan jika anak angkat bukanlah Ahli Waris, hal ini karena untuk menjadi Ahli waris haruslah ada hubungan darah sebagaimana dimaksud dalam Kompilasi Hukum Islam, Buku II Hukum Kewarisan Pasal 171 huruf c yang menyebutkan :

"Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris".

Walaupun anak angkat bukan Ahli Waris tetapi memiliki hak untuk mendapatkan "wasiat", sebagaimana dimaksud dalam Kompilasi Hukum Islam, Buku II Hukum Kewarisan, Bab V hal Wasiat, Pasal 194 ayat (1) yang berbunyi :

" Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta bendanya kepada orang lain atau lembaga".

Jika anak angkat ternyata tidak mendapatkan wasiat dari orang tua angkatnya yang telah meninggal dunia, maka anak angkat diberikan "wasiat wajibah" sebanyak 1/3 dari harta warisan orang tau angkatnya, hal ini sebagaimana diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, Buku II Hukum Kewarisan, Bab Wasiat, Pasal 209 ayat (2) yang berbunyi :

" Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya".

Jadi dengan wasiat wajibah seseorang dianggap menurut hukum telah menerima wasiat meskipun senyatanya tidak ada wasiat yang diberikan oleh orang tua angkatnya.

HIBAH

Bahwa dalam kronologi yang saudara sampaikan, saudara tidak menjelaskan mengenai perolehan harta tersebut dari orangtua angkatnya maka kami berasumsi perolehan harta berupa tanah tersebut melalui hibah pada saat orangtua angkat istri saudara masih hidup.

Perlu diketahui Hibah yang diberikan oleh orang tua angkat kepada anak angkat sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta bendanya", hal ini sebagaimana diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, Buku II Hukum Kewarisan, Bab VI mengenai Hibah Pasal 210 ayat (1) yang menyatakan :

"Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun berakal sehat tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 harta bendanya kepada orang lain atau lembaga di hadapan dua orang saksi untuk dimiliki".

Dari uraian Pasal 210 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam tersebut, maka hibah yang diberikan oleh orangtua angkat tidak boleh lebih dari 1/3 harta benda yang dimiliki oleh orangtua angkat, batasan pemberian hibah tersebut adalah untuk melindungi hak para ahli waris.

Dalam permasalahan saudara, jika ternyata orangtua angkat istri saudara memiliki ahli waris maka istri saudara berhak atas 1/3 dari hasil penjualan tanah dimaksud dan ahli waris mendapatkan 2/3 dari hasil penjualan tanah dimaksud.

Terhadap Pembatasan pemberian hibah sebesar 1/3 ini, disamping diatur dalam Pasal 210 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam, juga diatur dalam sumber hukum lainnya yaitu Yurisprudensi Putusan MARI. No. 76 K/AG/1992 tanggal 23 Oktober 1993, dengan ketetapan hukum (dikutip dari https://jdih.mahkamahagung.go.id) :

"Hibah yang melebihi 1/3 dari luas obyek sengketa yang dihibahkan adalah bertentangan dengan ketentuan hukum".

Terlepas dari sumber hukum tentang pembatasan hibah sebagaimana dimaksud di atas, jika tanah tersebut senyatanya dibeli oleh istri saudara dengan menggunakan uang dari hasil jerih payah sendiri maka hasil penjualan atas tanah tersebut seluruhnya adalah hak istri saudara, atas dalil ini jika ahli waris dari orang tua angkat mengajukan gugatan waris maka istri saudara harus membuktikan disertai dengan bukti-bukti yang menunjang.

Selanjutnya apabila orang tua angkat istri saudara memiliki harta lain selain tanah yang telah disertifikatkan atas nama istri saudara, jika ternyata tidak ada wasiat dari orangtua angkat kepada istri saudara maka terhadap istri saudara diberikan "wasiat wajibah" sebesar 1/3 dari harta warisan orangtua angkat, hal ini sebagaimana dimaksud dalam Kompilasi Hukum Islam, Buku II Hukum Kewarisan, Bab Wasiat, Pasal 209 ayat (2).

Terhadap tanah atas nama istri saudara jika memang senyatanya adalah hasil hibah dari orangtua angkatnya, maka kami menyarankan untuk diselesaikan secara kekeluargaan baik dengan membagi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam atau dibagi dengan perhitungan harta benda peninggalan lain dari orangtua angkat hal ini jika istri saudara belum mendapatkan wasiat wajibah dari harta peninggalan yang lain.

Kami menyarankan langkah demikian untuk menghindari penyelesaian melalui Pengadilan yang tentunya akan menyita biaya, waktu, fikiran dan tenaga.

Demikian uraian jawaban dari kami, semoga bermanfaat bagi saudara, para pembaca detik.com dan masyarakat pada umumnya.

Hormat kami,

Slamet Yuono, SH., MH
s_yuono@yahoo.com

SEMBILAN SEMBILAN & REKAN
Advokat dan Konsultan Hukum
Menara 165, 4th Floor
Jl TB Simatupang, Cilandak,
Jakarta Selatan
021 50812002 ext 575

Dasar Hukum :
Kompilasi Hukum Islam
Website :
https://jdih.mahkamahagung.go.id

Lihat juga video 'Bisakah Anak Hasil Nikah Siri Dapat Warisan?':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT