detikcom Do Your Magic

Suara PKL di Trotoar Pasar Induk Kramat Jati: Zaman COVID Keuangan Susah

Athika Rahma - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 20:11 WIB
Trotoar di sekitar Jl Raya Bogor, depan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. (Athika Rahma/detikcom)
Trotoar di sekitar Jl Raya Bogor, depan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. (Athika Rahma/detikcom)
Jakarta -

Pedagang kaki lima (PKL) tetap berdagang di trotoar depan Pasar Induk Kramat Jati meski Satpol PP sempat menertibkan mereka. Berjualan di trotoar harus mereka lakoni bukan karena mereka suka ketidaktertiban, melainkan demi mencukupi kebutuhan hidup.

Kamis (9/9/2021), trotoar di pinggi Jl Raya Bogor, Jakarta Timur, ini sudah ditempati pedagang-pedagang kecil mulai pukul 15.00 WIB. Meski baru diizinkan berjualan pukul 17.00 WIB sore, dua jam sebelumnya mereka sudah ada di jalur pedestrian ini.

Yuni (22), satu dari sekian pedagang buah-buahan yang menggelar lapak di atas trotoar ini, mengaku tak punya pilihan lain. Banyak tanggungan yang harus dia hadapi, apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang serba menyulitkan.

"Ya untuk makan, untuk kontrakan, bayar cicilan ini-itu. Sekarang lagi zaman COVID-19, keuangan susah, terpaksa di sini," kata Yuni saat dijumpai detikcom di depan Pasar Induk Kramat Jati.

Yuni pedagang buah di trotoar depan Pasar Induk Kramat Jati, 9 September 2021. (Athika Rahma/detikcom)Yuni, pedagang buah di trotoar depan Pasar Induk Kramat Jati, 9 September 2021. (Athika Rahma/detikcom)

Yuni bercerita, dalam sehari, dia mengeluarkan modal Rp 300 ribu untuk membeli buah nangka yang akan dijual. Buah tersebut sudah dikupas dan dibungkus styrofoam dan plastik sehingga pembeli tidak perlu repot mengupas buah berkulit tajam dan bergetah lengket itu.

Dalam sehari pula, rata-rata Yuni mendapat keuntungan Rp 100 ribu dari berjualan nangka kupas ini.

"Bayar kontrakan Rp 600 ribu sebulan, kita juga kasih makan ke orang tua ikut di kontrakan, buat cicilan lain, ya disyukuri saja," katanya.

Yuni pedagang buah di trotoar depan Pasar Induk Kramat Jati, 9 September 2021. (Athika Rahma/detikcom)Yuni, pedagang buah di trotoar depan Pasar Induk Kramat Jati, 9 September 2021. (Athika Rahma/detikcom)

Saat berjualan di tempat lamanya, yaitu di daerah Palmerah, Yuni mengaku tidak mendapatkan untung lantaran sepi pembeli. Apalagi, dia harus membayar sewa tempat di sana.

"Jadi malah rugi gitu. Di sana juga udah banyak yang jualan. Jadi kita pindah ke sini, baru seminggu. Senggaknya di sini nggak harus bayar sewalah," ujarnya.

Yuni juga berjualan sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh pemerintah setempat. Beberapa kali, Satpol PP di kawasan tersebut mengingatkan agar pedagang hanya berjualan di sore hari agar tidak terkena razia.

"Suka diingatkan, jangan jualan pagi sama siang, mengganggu ketertiban. Kita turutin aja biar nggak diangkut paksa. Kita harap nggak digituin sih, di sini kitanya juga nggak mau langgar-langgar. Soalnya udah nggak tahu mau jualan di mana," katanya.

PKL lain di sini, Suryo, mengaku jarang melihat razia penertiban oleh Satpol PP. Meski begitu, dia menyimpan kekhawatiran lapaknya diangkut Satpol PP dalam sekali aksi penertiban tak terduga. Maka, dia berusaha mengatur waktu berjualan mulai sore hari saja.

"Ya kalau takut diangkutin, pasti takutlah. Makanya main aman ajalah. Ikutin aja. Kalau masih dirazia ya pergi dulu," kata Suryo.

Ada pula pedagang yang menjajakan dagangannya mulai dari pagi hari. Salah satu pedagang, Yanti (40), mengatakan pernah terkena razia Satpol PP.

"Tapi alhamdulillah nggak diapa-apain sih. Cuma disuruh rapihin, jangan di atas trotoar, gitu. Nggak diobrak-abrik, alhamdulillah," tutur Yanti.

Aparat Kota memahami masalah ini. Solusi yang paling masuk akal, memang PKL tetap diperbolehkan berdagang di trotoar, tapi bukan pagi dan siang hari, melainkan hanya sore hingga malam hari.

"Mereka di sini bukan untuk cari kaya, tapi memang bekerja sehari-hari," kata Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Ciracas Sri Daljoko, kepada detikcom, Selasa (31/8) lalu.

Kasi Pemerintahan Kecamatan Ciracas Sri DaljokoKasi Pemerintahan Kecamatan Ciracas Sri Daljoko (Athika Rahma/detikcom)

Ada tawaran, pedagang akan direlokasi ke lokasi sementara di Pasar Rebo, tapi pedagang menolak karena lokasi itu tidak strategis bagi mereka. Di sisi lain, mulai muncul rencana revitalisasi trotoar meski masih terus didiskusikan hingga kini.

Kepala Satpol PP Jakarta Timur Budhy Novian mengatakan para pedagang boleh berdagang di trotoar pada malam hari tapi tidak menggunakan badan jalan, termasuk badan jalan di bagian pinggir (bahu jalan). Komandan Polisi Pamong Praja (Manpol) Ciracas Endharwanto mengatakan PKL bisa berdagang di atas pukul 17.00 WIB sore.

Satpol PP tertibkan PKL di trotoar Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.Satpol PP menertibkan PKL di trotoar Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. (Athika Rahma/detikcom)

"Akhirnya kita berusaha sementara sampai ada kebijakan lebih lanjut. Jadi penggunaan trotoar di jangka waktu tertentu, di atas jam 5 (sore) itu yang bisa diambil. Untuk mobil buah, itu sudah sama sekali nggak boleh meskipun malam. Kalau ada, kita derek," kata Endar kepada detikcom di trotoar Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/8).

(dnu/dnu)