Round-Up

8 Fakta Gempar Buaya 'Siluman' Dikubur Pisah Kepala-Badan

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2020 05:37 WIB
Momen buaya siluman dievakuasi dari Sungai Kayubesi di Babel.
Foto: Momen 'buaya siluman' dievakuasi dari Sungai Kayubesi di Babel. (Istimewa)

7. Di Filipina, Ada Buaya yang Lebih Raksasa dari yang di Babel

Amir Hamidi menyebut buaya yang ditangkap warga kemungkinan berjenis kelamin jantan. Buaya itupun diduga dominan di habitatnya.

"Dari sisi ukuran, buaya muara jantan dominan bisa mencapai ukuran yang besar," kata Amir kepada detikcom.

Namun jika disebut buaya raksasa, Amir menuturkan ada yang berukuran lebih besar daripada yang ditangkap warga di Babel. Yaitu buaya bernama Lolong, yang ditangkap di Mindanao, Filipina.

"Rekor terbesar ukuran buaya muara adalah 6 meter. Itu tercatat di Guinness World of Records. Buaya 6 meter itu bernama Lolong, berasal dari Mindanao Filipina," ujar Amir.

Lolong si buaya raksasa itu ditemukan hidup-hidup di Bunawan pada September 2011. Hewan raksasa itu ditemukan dalam operasi perburuan yang diprakarsai pemerintah setempat, setelah muncul rumor bahwa binatang itu telah memakan seorang nelayan dan menggigit kepala seorang pelajar putri.

Dengan panjang 6,17 meter dan berat 1.075 kilogram, Lolong dinobatkan sebagai buaya air asin terbesar di dunia oleh Guinness World of Records. Buaya raksasa ini mematahkan rekor sebelumnya yang dipegang Cassius, buaya Australia, dengan panjang 5,48 meter.

Lolong sudah mati pada 10 Februari 2013 akibat penyakit misterius. Setelah itu, Cassius menjadi buaya terbesar di dunia.

Gedung LIPIGedung LIPI Foto: Foto. Dok Instagram @lipiindonesia

8. Buaya 'Siluman' Dilindungi, Ini Solusi Agar Tak Konflik dengan Manusia

Amir Hamidi menengarai dua kemungkinan. Pertama, populasi buaya meningkat. Kedua, populasi manusia meningkat. Dua kemungkinan ini mengakibatkan konflik buaya versus manusia tidak terelakkan.

"Populasi buaya di beberapa wilayah meningkat. Buaya muara sangat adaptif di lingkungan air," tutur Amir.

Buaya muara, dikatakan Amir, merupakan hewan yang mudah beradaptasi di wilayah perairan. Tidak seperti wilayah daratan, wilayah perairan lebih jarang terusik perkembangan permukiman manusia, karenanya buaya bisa tetap hidup sampai berukuran besar dan banyak.

Di sisi lain, buaya muara adalah hewan yang dilindungi. Amir menyebut aturan yang melindungi buaya ini adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

"Permasalahannya, ketika buaya semakin besar maka dia bersifat semakin teritorial, semua dia anggap sebagai mangsa, apalagi saat musim kawin maka dia lebih agresif. Di sisi lain, populasi manusia semakin bertambah. Konflik menjadi tidak terelakkan," kata Amir.

Amir menilai perlu pemetaan populasi buaya muara di wilayah Bangka supaya langkah-langkah terukur bisa segera diambil. Ini solusi agar manusia dan buaya tak berkonflik.

"Buaya di Bangka Belitung masuk ke kanal-kanal perkebunan sawit, ke bekas galian timah. Kini harus ada survei yang integratif, survei mengenai populasi buaya," jelas Amir.

Masih kata Amir, populasi buaya bisa saja telah mengalami peningkatan jumlah, Di sisi lain, 'pemanenan' buaya dari alam tidak boleh dilakukan sembarangan karena bisa kena jerat hukum. Harus ada langkahh pengendalian populasi buaya menurutnya.

"Di dalam regulasi nasional pun, manajemen populasi (mengambil sejumlah hewan yang populasinya sudah naik) itu boleh dilakukan, tapi harus ditetapkan oleh SK Satwa Buru, diterbitkan berdasarkan rekomendasi ilmiah melalui survei populasi," ucap Amir.

Halaman

(aud/aud)