Ini Dugaan Plagiasi Rektor Unnes yang Berujung Laporan ke Komnas HAM

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 19 Des 2019 14:39 WIB
Fathur Rokhman (Foto: Angling AP/detikcom)
Yogyakarta - Dugaan plagiasi disertasi oleh Rektor Unnes Semarang, Fathur Rokhman, kembali memanas seiring pemeriksaan yang dilakukan UGM, kampus tempat Fathur menempuh pendidikan strata-3 (S-3). Buntutnya Fathur mengadukan Ketua Senat Akademik UGM ke Komnas HAM. Begini awal mula dugaan plagiasi tersebut muncul ke permukaan.

Isu plagiasi itu mencuat jelang suksesi rektor di Universitas Negeri Semarang (Unnes) Semarang pertengahan 2018 lalu. Saat itu sebagai calon incumbent, Fathur diterpa isu plagiasi disertasi yang tersebar di sejumlah tautan medsos.

Tim investigasi internal dibentuk, melibatkan 4 guru besar yang diketuai oleh Prof Dr Mungin Eddy Wibowo MPd Kons.


Dari investigasi didapati artikel karya Anif Rida tahun 2003 berjudul 'Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya Bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas' ada kemiripan dengan karya Fathur tahun 2004 berjudul 'Kode Bahasa Dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas'.

"Memang saat artikel Anif Rida dan Fathur Rokhman disandingkan, nampak banyak kesamaan, sehingga intuisi kebanyakan orang menyimpulkan Fathur Rokhman menjiplak Anif Rida," papar Mungin.

Namun, tim Investigasi mengaku menemukan dokumen hardcopy yaitu penelitian Fathur Rokhman tahun 2002 atau sebelum Anif Rida menulis artikel yang berisi tabel dan paragraf yang sama dengan artikel karya Anif dan Fathur. Dokumen itu ditandatangani pejabat lama dan sudah dicap.

"Yang dokumen tahun 2002 ini memang tidak dipublikasi. Ini hasil penelitian, saat itu Pak Fathur masih doktorandus (Drs). Anif ini mahasiswa bimbingannya Pak Fathur, latihan menulis jurnal," jelasnya.


Menurut tim Investigasi, dua artikel tersebut memiliki sumber penelitian yang sama yaitu dari tabel penelitian Fathur Rokhman tahun 2002 yang tidak dipublikasi. Sehingga, keduanya tidak bisa disebut plagiasi.

"Kesimpulannya, Fathur Rokhman tidak melakukan plagiasi. Informasi yang terlanjur viral tidak mencantumkan dokumen (tahun 2002) sehingga menimbulkan kesan Fathur Rokhman Plagiat. Padahal sebenarnya Fathur Rokhman (tahun 2004) mengutip hasil penelitiannya sendiri tahun 2002," kata Mungin saat itu.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4