DetikNews
Minggu 14 Oktober 2018, 07:53 WIB

Tradisi Sedekah Laut Ditentang, Banyak Kalangan Meradang

Pradito Rida Pertana - detikNews
Tradisi Sedekah Laut Ditentang, Banyak Kalangan Meradang Salah satu spanduk yang dipasang penolak sedekah laut (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
FOKUS BERITA: Ricuh Sedekah Laut
Bantul - Acara sedekah laut di Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul, DIY, batal digelar setelah sekelompok orang merusak properti di lokasi acara hari Jumat (12/10/2018) malam. Perusakan itu dilakukan karena sedekah laut dianggap bermuatan unsur syirik.

"Jam setengah 12 malam ada sekitar 50 orang datang dengan sejumlah motor, dua mobil dan ada satu mobil ambulan," kata Tuwuh (48), warga Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul, kemarin Sabtu, (13/10/2018).


"Setelah itu mereka merusak meja dan membanting kursi, diobrak-abriklah pokoknya sekitar 15 menit sambil minta acara dibatalkan karena syirik dan musyrik," lanjutnya.

Selain itu, kata Tuwuh, perusak itu sempat memasang spanduk di sekitar lokasi acara yang bertuliskan 'Kami Menolak Semua Kesyirikan Berbalut Budaya, Sedekah Laut atau Selainnya'. Tak berselang lama kemudian kelompok tersebut meninggalkan Pantai Baru.

Meski mengalami perusakan, sejak pagi hari warga yang tinggal di pesisir Pantai Baru sibuk menata makanan yang terdiri dari ayam suwir, lalapan dan nasi gurih ke dalam sebuah pincuk berwarna putih yang disebut takir. Selanjutnya, makanan yang diwadahi takir itu langsung dibagi-bagikan kepada warga dan pengunjung Pantai tersebut.


"Daripada mubazir mending dibagi-bagikan sekarang ke pengunjung dan warga sekitar. Jadi untuk kirab, labuhan, pangkur dan gambyong dihilangkan dan tinggal reog saja rencananya," ujarnya.

Para nelayan setempat kecewa dengan tidak berjalannya sedekah laut sesuai jadwal, mengingat ia bersama masyarakat telah mempersiapkan takir untuk 2500 orang untuk sedekah laut tahun ini.

"Ya gimana lagi, yang jelas kecewa. Karena sudah dipersiapkan sejak 15 hari sebelumnya," katanya.


Terpisah, Kapolres Bantul, AKBP Sahat Marisi Hasibuan membenarkan adanya perusakan yang dilakukan sekelompok orang di Pantai Baru hari Jumat malam. Pihaknya juga telah mendatangi lokasi dan meminta keterangan dari orang-orang yang diduga terlibat dalam aksi perusakan tersebut.

"Tadi dapat laporan dari anggota, laporannya bahwa terjadi perusakan terkait acara sedekah laut di Pantai Baru. Sudah ditangani dan ada 9 orang yang diperiksa saat ini di Reskrim," katanya saat dihubungi wartawan, Sabtu (13/10).

Disinggung mengenai 9 orang tersebut tergabung dalam ormas masih belum bisa dipastikan pihaknya. Mengingat saat ini masih dalam pemeriksaan secara intensif oleh pihaknya.

"Belum bisa dikatakan semuanya (9 orang yang diperiksa) ormas ya. Yang jelas kita lihat perkembangannya dari pemeriksaan ini untuk mencari pelakunya," ucapnya.

Selain memintai keterangan 9 orang tersebut, pihaknya turut menyita beberapa barang bukti yang menguatkan adanya perusakan di Pantai Baru, bahkan ada satu spanduk yang disita. Mengenai spanduk, Kapolres membenarkan bahwa spanduk yang disita bertuliskan penolakan kesyirikan berbalut budaya. Dari penelusuran detik.com, spanduk itu bertuliskan 'Kami Menolak Semua Kesyirikan Berbalut Budaya, Sedekah Laut atau Selainnya'.


"Kalau (Mobil) ambulans belum. (Barang bukti yang diamankan) hanya spanduk dari Ormas, serta penjor (Hiasan tarup dari pohon pisang) untuk ritual sedekah (Laut) yang dirusak (Kelompok tak dikenal)," ujarnya.

Disinggung mengenai adanya senjata tajam (Sajam) yang diduga dibawa kelompok tersebut untuk melakukan perusakan belum dapat dipastikan pihaknya. Hal itu dikarenakan saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan di Polres Bantul.

"Informasinya begitu (Ada yang bawa senjata tajam), tapi akan kita pastikan dengan pemeriksaan yang dilakukan," ucapnya.


Polisi juga meminta keterangan dari panitia acara sedekah laut di Pantai Baru, Bantul. Dari keterangan yang diterima pihaknya, bahwa pihak panitia mengaku telah memprediksi kedatangan kelompok tersebut ke Pantai Baru. Mengingat sebelumnya telah terjadi pro kontra terkait postingan mengenai pamflet acara sedekah laut di media sosial (medsos).

"Dari pengakuan panitia, dia posting (Pemberitahuan acara sedekah laut) ke medsos dan ada yang kontra. Tapi dari panitia tetap ingin melaksanakannya dan terjadi kejadian itu (Perusakan),"ujarnya.


Karena kejadian tersebut, pihak panitia acara masih mengalami trauma. Selain itu, pihak panitia mengharapkan agar kejadian serupa tidak terulang lagi dan menyatakan tidak mempermasalahkan kejadian itu lebih lanjut.

"Panitianya mengaku masih trauma dan tidak mempermasalahkan, yang penting tidak terulang lagi. Tapi tetap kita lakukan upaya dan proses hukum dengan pemeriksaan karena telah terjadi perusakan," ujar Kapolres.

Reaksi bermunculan. Sosiolog UGM, Arie Sujito, mengingatkan bahwa ketidaksepahaman harap diselesaikan dengan dialog. Tradisi masyarakat Yogya, kata dia, adalah ngobrol, berdialog. Berbeda pandangan jangan diselesaikan dengan dirusak.

"Karena (pelarangan sedekah laut dengan cara kekerasan) nanti menciptakan ketegangan dan konflik sosial," ucapnya.


DPRD DIY juga juga mendesak aparat kepolisian tegas menindak pelaku perusakan. Sedangkan bupati Bantul, buru-buru mengingatkan agar warga tidak emosional, tidak terpancing provokasi, tetap tenang dan jangan takut beraktivitas.

Bahkan PBNU dan ulama juga menyayangkan aksi hantam kromo itu. "Banyak orang yang gagal paham, salah paham atau pahamnya salah. Menurut saya, selama tujuan tradisi adat untuk nguri-uri (melestarikan) budaya, itu tidak ada masalah. Tapi jika sifatnya peribadatan, jelas itu salah," tegas Gus Miftah, ulama muda di Sleman.
(mbr/mbr)
FOKUS BERITA: Ricuh Sedekah Laut
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed