ADVERTISEMENT

Perspektif

Nama-nama Potensial Capres 2024 Sudah Cukup Menarik untuk Cegah Golput?

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 10 Jun 2022 18:31 WIB
Tokoh-tokoh yang sering berseliweran masuk bursa capres potensial 2024. (Ilustrasi: Fuad Hasim/detikcom)
Tokoh-tokoh yang sering berseliweran masuk bursa capres potensial 2024. (Ilustrasi: Fuad Hasim/detikcom)
Jakarta -

Pilpres 2024 masih dua tahun lagi, namun nama-nama potensial capres sudah bermunculan bak jamur di musim hujan. Survei-survei pencapresan semakin ramai mencuatkan politikus-politikus unggulan. Apakah capres-capres potensial yang kini beredar sudah cukup menarik di mata rakyat sehingga mampu mencegah besarnya angka golput?

Sekelumit tinjauan telah direkam oleh Poltracking Indonesia lewat survei periode 16-22 Mei 2022. Baru 62,7 persen responden yang menyatakan 'Ya, pasti mencoblos' pada Pemilu 2024 nanti. Sisanya, 18,4 persen belum pasti mencoblos; 2,8 persen tegas membulatkan tekat untuk tidak mencoblos, dan 16,1 persen belum tahu atau tidak menjawab.

Terlepas dari survei Poltracking, angka golput (golongan putih) di Indonesia terlihat dinamis dari pemilu ke pemilu. Mari kita kerucutkan untuk konteks Pilpres saja.

Partisipasi Pilpres

- Pilpres 2009: 71,17%
- Pilpres 2014: 69,58%
- Pilpres 2019: 81,97%

Perspektif Pakar

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes melihat pilihan capres (atau lebih tepatnya potensial capres) sudah semakin banyak. Tiga nama mencuat di survei-survei setidaknya sampai beberapa hari terakhir ini, sebut saja Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, atau silakan mengubah urutannya. Itu sudah cukup menarik.

"Pilihan calon relatif lebih banyak, kemungkinan akan ada tiga pasang calon apabila melihat manuver politik akhir-akhir ini," kata Arya Fernandes kepada detikcom, Jumat (10/6/2022).

Dia melihat preferensi pemilih sudah mulai mengerucut ke beberapa nama. Orang-orang diprediksi bakal tertarik melangkah ke tempat pemungutan suara (TPS) pada 2024 nanti. Golput dinilainya bakal kecil saja.

"Dugaan saya, golput tidak akan besar. Dorongan untuk melakukan golput tidak ada yang kuat, jadi tidak ada alasan yang kuat bagi pemilih untuk golput," kata Arya.

Arya Fernandes is a researcher in the Department of Politics and International Relations at the Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta, Indonesia. He joined CSIS in August 2014. Prior to joining CSIS, Arya worked as a research manager at Charta Politika Indonesia, a political research and consulting firm (2008-2014) and journalist at Media Indonesia newspaper. Arya has been conducted national and local survey of Indonesia public opinion since 2009. The poll assesed national/local trends and mood of electorate regarding important issues such as: the approval of national government policies, the incumbents perfomance, political participation, citizen engagement in the political process, and public images of presidential candidates and political parties. Arya received his bachelor degree from Political Science Department at the State Islamic University, Jakarta. He continued his master degree at the Paramadina Graduate School of Political Communication, University of Paramadina.Arya Fernandes (Ari Saputra/detikcom)

Direktur Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah Putra menyampaikan pandangan. Dia juga memprediksi angka partisipasi di Pilpres 2024 bakal tinggi.

"Gerakan golput di 2024 saya kira bakal lebih sedikit ketimbang sebelumnya," kata Dedi Kurnia Syah Putra saat dihubungi detikcom secara terpisah.

Dedi menjelaskan, loyalis-loyalis Prabowo, Anies, Ganjar, Puan, AHY, atau yang lain-lain sudah terasa fanatik pada dua tahun jelang Pilpres 2024 ini. Meski begitu, ada satu kondisi yang bisa memicu golput, yakni bilamana calon yang sangat potensial gagal mencalonkan diri lewat partainya sehingga banyak pendukung kecewa.

"Misal di PDIP memilih Puan Maharani sebagai capres sehingga Ganjar Pranowo tidak ada parpol yang mengusung, besar kemungkinan golput akan muncul dari simpul-simpul semacam ini," kata Dedi.

Direktur Indonesia Politial Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah Putra. (Sumber: Situs web IPO)Direktur Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah Putra. (Sumber: Situs web IPO)

Nanti pemilih pemula dan milenial bakal ramai. Mereka adalah kelompok dengan antusiasme politik yang tinggi. Namun partisipasi politik juga dipengaruhi oleh upaya penyelenggara pemilu.

"Bergantung bagaimana KPU melakukan sosialisasi dan menarik minat pemilih," kata dia.

Survei IPO pada 23-28 Mei terhadap 1.200 responden, sebanyak 43 persen calon pemilih belum mengetahui jadwal perhelatan pemilu dan pilpres yang akan digelar pada 14 Februari 2024. Jumlah itu terbilang sangat besar, menurut Dedi. Maka itu menjadi pekerjaan rumah penyelenggara pemilu.

Simak juga video 'Elektabilitas Ganjar-Prabowo Moncer, Pengamat: Survei Permainan Oligarki':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya, sudah ada yang semenarik Jokowi?:

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT