ADVERTISEMENT

NasDem Nilai Penindakan Hukum untuk Buzzer Sulit: Unfollow Aja Mereka

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 07 Jun 2022 06:13 WIB
Ketua DPP Nasdem, Willy Aditya
Willy Aditya (Foto: Lisye/detikcom)

Minta Abaikan Buzzer

Menghadapi persoalan buzzer yang dinilai menjadi peruncing polarisasi ini, menurut Willy, memang bukan perkerjaan yang mudah. Dia menyebut butuh waktu lama untuk memperbaiki dan mencegah polarisasi ini.

"Dan mengatasi situasi semacam ini bukan pekerjaan sehari dua hari bahkan setahun dua tahun. Ini pekerjaan peradaban yang membutuhkan mungkin satu atau dua generasi ke depan untuk memperbaikinya," tutur dia.

Menurut Willy ada hal yang sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegah meruncingnya polarisasi itu. Dia mengajak warga untuk perpikir kritis dan meninggalkan para buzzer.

"Wujud yang paling sederhananya, mulai tinggalkan para buzzer itu. Unfollow mereka, jangan dengarkan mereka. Mulailah punya pikiran dan sikap sendiri," pungkasnya.

Survei Litbang Kompas

Litbang Kompas merilis hasil survei terkait polarisasi atau pembelahan imbas Pilpres 2019, yang dianggap masih terjadi hingga kini. Hasilnya, 36,3% responden menilai pihak yang semakin memperuncing polarisasi adalah buzzer atau influencer.

"Hal ini disampaikan oleh 36,3% responden. Orang-orang ini (yang memperuncing polarisasi) ialah pendengung (buzzer) atau bisa juga influencer," demikian hasil survei Litbang Kompas seperti dilihat detikcom, Senin (6/6).

Untuk mencegah polarisasi terus berlanjut, sebagian besar responden setuju agar buzzer atau influencer provokatif dan memperkeruh suasana ditindak tegas. Ada 87,8% responden yang setuju agar buzzer atau influencer provokatif dan memperkeruh suasana ditindak tegas.

"Selain itu, influencer atau buzzer provokatif yang memperkeruh suasana harus ditindak tegas (87,8%)," demikian hasil survei Litbang Kompas.


(lir/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT