Mulutmu Harimaumu! Dampak Ngeri Pernyataan Arteria soal Berbahasa Sunda

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 21 Jan 2022 20:31 WIB
Anggota DPR Arteria Dahlan memaparkan pandangannya terkait polemik UU KPK dalam diskusi Mengukur Sepak Terjang KPK di Jakarta. Begini ekspresinya.
Arteria Dahlan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pernyataan anggota DPR Arteria Dahlan ternyata berdampak ngeri. Demonstrasi terjadi di pelbagai wilayah di Tatar Sunda. Geger itu berawal dari kata-kata yang keluar dari mulut Arteria di ruang rapat wakil rakyat.

Mulutmu harimaumu! Begitulah peribahasa yang senantiasa diingat orang Indonesia untuk menjaga setiap kata-katanya, agar si penutur tidak celaka oleh ucapan sendiri.

Terlepas dari kasus aktual Arteria politikus PDIP itu, peribahasa 'mulutmu harimaumu' berarti 'kata-kata yang pedas atau buruk sering kali mencelakakan diri sendiri'. Demikian dikutip dari buku Ainia Prihantini.

Dikutip dari situs Universitas Gadjah Mada, peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr Sailal Arimi pernah menjelaskan bahwa peribahasa adalah media penyimpan kearifan budaya. Peribahasa bersifat universal, bahkan bisa berubah mengikuti perkembangan zaman. Misalnya 'mulutmu harimaumu' bisa menjadi 'jarimu harimaumu' di era internet ini, karena orang menjadi lebih banyak mengetik ketimbang berbicara.

Arteria Dahlan bahkan tidak menyampaikan kata-kata kontroversialnya lewat ketikan, tapi benar-benar lewat mulut. Kata-kata itu dia ucapkan di ruang rapat Komisi III DPR, saat rapat bersama Kejaksaan Agung, Senin (17/1) lalu. Arteria meminta jajaran Kejagung bersikap profesional. Dia menyinggung seorang kepala kejaksaan tinggi yang menggunakan bahasa Sunda ketika rapat kerja. Dia meminta Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin memecat Kajati itu.

"Ada kritik sedikit, Pak JA. Ada Kajati yang dalam rapat dan dalam raker itu ngomong pakai bahasa Sunda, ganti, Pak, itu," kata Arteria Dahlan saat itu.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum, bahkan hingga politikus PDIP juga angkat bicara. Dewan Keratuan Majelis Adat Sunda juga melaporkan Arteria ke Polda Jabar. Di Twitter, muncul tagar #SundaTanpaPDIP. Ramailah jadinya!

Arteria sendiri kemudian meminta maaf atas sikapnya yang menyinggung orang Sunda. Dia mengaku tidak bermaksud menyakit hati warga Sunda.

"Terkait hal tersebut saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, kepada seluruh tokoh masyarakat tokoh adat, tokoh agama, tokoh muda semua karena saya menganggap orang Sunda Itu bagian dari keluarga besar kami," kata Arteria.

Simak juga video 'PDIP Jabar: Permintaan Maaf Arteria Semoga Bikin Jera':

[Gambas:Video 20detik]



Namun situasi kadung ramai. Masyarakat Sunda telanjur terpantik. Demo di mana-mana, sampai kaca pecah. Begini demo-demo seharian ini: