Arteria Minta Kajati Bicara Sunda Dicopot, Dosen-Budayawan: Itu Keterlaluan!

Dony Indra Ramadhan, Ismet Slamet - detikNews
Selasa, 18 Jan 2022 18:52 WIB
Komisi III DPR RI melakukan rapat kerja bersama Kejaksaan Agung (Kejagung). Dalam rapat tersebut, anggota Komisi III DPR F-PDIP, Arteria Dahlan sempat menyinggung Kajati yang berbahasa Sunda (Matius Alfons/detikcom)
Foto: Komisi III DPR RI melakukan rapat kerja bersama Kejaksaan Agung (Kejagung). Dalam rapat tersebut, anggota Komisi III DPR F-PDIP, Arteria Dahlan sempat menyinggung Kajati yang berbahasa Sunda (Matius Alfons/detikcom)
Bandung -

Pernyataan Arteria Dahlan soal Kajati dicopot gegara bicara bahasa Sunda menuai kontroversi. Dosen Sastra Unpad Gungun Gunardi ikut menyoroti pernyataan Arteria Dahlan tersebut.

Gungun menuturkan suatu kewajaran apabila ada seseorang dari Sunda berbicara dengan bahasa Sunda di ranah formal. Terlebih, bangsa Indonesia sendiri terdiri dari multietnis.

"Jadi hal yang wajar lah orang Sunda menyampaikan sesuatu dalam koridor formal menyampaikan dengan bahasa Sunda, asal dijelaskan saja diterangkan saja. Arteria Dahlan tidak bisa begitu, harusnya paham dong bahwa bangsa kita adalah bangsa multietnis dan bangsa multi bahasa dan kita ini adalah bangsa yang memegang teguh bhinneka tunggal ika," ujar Gungun saat dihubungi, Selasa (18/1/2022).

Gungun juga menilai apa yang diucapkan Arteria bahkan sampai meminta untuk Kajati dicopot keterlaluan. Menurutnya, Arteria tak perlu sampai harus berbicara pencopotan hanya karena bahasa Sunda.

"Itu mah keterlaluan (minta dicopot), nggak perlu, diingatkan saja seharusnya supaya tidak menggunakan bahasa Sunda. Kenapa harus takut dengan menggunakan bahasa Sunda? Kan ada penerjemah ada interpreter yang bisa menjelaskan, kalau bahasa Sunda itu vulgar contohnya yang kasat sekali dan menohok seseorang, itu baru tidak harus dicopot yaitu masuk ke ranah pidana," tutur dia.

"Itu pun harus dipelajari lagi. Apalagi itu langsung bilang mencopot, itu mah naon atuh. Saya tidak setuju. Kalaupun ada penggunaan bahasa Sunda maka pakai interpreter dijelaskan apa artinya. Kalau itu jorok, mem-bully seseorang dan sebagainya ya itu ada hukum yang berlaku kan pencemaran nama baik dan sebagainya. Masa seorang anggota DPR tidak paham dengan hukum di Indonesia," kata dia menambahkan.

Dia meminta agar Arteria menjelaskan maksud dari pernyataannya itu. Termasuk berbicara dengan masyarakat Sunda terkait ucapannya.

"Saya kira yang terbaik adalah Arteria Dahlan berbicara, mungkin dia dalam kondisi emosi atau apa, berbicara dengan baik kepada masyarakat Sunda. Karena begini, masyarakat Sunda ini kalau diganggu budayanya atau bahasanya, reaksinya itu cepat. Jadi, reaksinya luar biasa. Jangan diganggu budayanya dan jangan diganggu adatnya, etnisnya dan bahasanya," ujar Gungun.

Sementara itu, budayawan Sunda Abah Ruskawan menyayangkan pernyataan anggota DPR RI Arteria Dahlan terkait permintaannya agar Kajati yang berbicara bahasa Sunda dipecat. Pernyataan Ateria dikhawatirkan dapat memicu konflik SARA.

Abah Ruskawan yang juga Komda Wilayah II Paguyuban Pasundan ini menyebut jika Arteria Dahlan tidak paham tentang filosofi terbentuknya NKRI.

"Negara ini lahir jadi NKRI dari berbagai keberagaman daerah. Sebetulnya nasional tidak punya budaya nasional tapi yang ada budaya daerah yang keberagamannya menjadi pemersatu," kata dia, Selasa (18/1/2022).

Menurutnya Kajati yang disebut oleh Arteria yang menggunakan bahasa daerah menunjukan keberpihakan pada pelestarian budaya dan bahasa daerah agar tidak punah.

Dia menyebut jika desakan mengganti Kejati lantaran berbahasa Sunda saat rapat merupakan hal yang keterlaluan.

"Bahasa menunjukan jati diri bangsa, sudah melaksanakan kearifan lokal. Sekalipun dalam rapat, di sebelah mana kesalahannya?" ungkap dia.

Abah Ruskawan menuturkan pernyataan tersebut dapat memicu reaksi yang lebih besar, bahkan mengarah ke isu SARA. "Bisa saja nanti jadi dilihat later belakang sukun dari Arteria, kemudian saling sindir antar sukunya, jadinya ini akan bergejolak. Ini yang dikhawatirkan dari pernyataan tersebut," ungkapnya.

"Harus ada permohonan untuk warga Jawa Barat, terutama suku Sunda. Dan Arteria harus lebih bijak lagi menyatakan pendapat, apalagi di forum resmi," pungkasnya.

Sebelumnya, saat rapat kerja bersama Jaksa Agung ST Burhanuddin, Senin (17/1), Arteria meminta jajaran Kejaksaan Agung bersikap profesional dalam bekerja. Arteria lantas menyinggung seorang kepala kejaksaan tinggi yang menggunakan bahasa Sunda ketika rapat kerja. Dia meminta Jaksa Agung (JA) ST Burhanuddin memecat kajati tersebut.

"Ada kritik sedikit, Pak JA. Ada kajati yang dalam rapat dan dalam raker itu ngomong pakai bahasa Sunda, ganti, Pak, itu," katanya.

Arteria menyayangkan sikap kajati yang menggunakan bahasa Sunda saat rapat. Menurutnya, seharusnya kajati itu menggunakan bahasa Indonesia.

"Kita ini Indonesia, Pak. Jadi orang takut kalau ngomong pakai bahasa Sunda nanti orang takut ngomong apa dan sebagainya," ujarnya.

"Kami mohon sekali yang seperti ini dilakukan penindakan tegas," imbuh dia.

Sebelumnya, saat rapat kerja bersama Jaksa Agung ST Burhanuddin, Senin (17/1), Arteria meminta jajaran Kejaksaan Agung bersikap profesional dalam bekerja.
Arteria lantas menyinggung seorang kepala kejaksaan tinggi yang menggunakan bahasa Sunda ketika rapat kerja. Dia meminta Jaksa Agung (JA) ST Burhanuddin memecat kajati tersebut.

"Ada kritik sedikit, Pak JA. Ada kajati yang dalam rapat dan dalam raker itu ngomong pakai bahasa Sunda, ganti, Pak, itu," katanya.

Arteria menyayangkan sikap kajati yang menggunakan bahasa Sunda saat rapat. Menurutnya, seharusnya kajati itu menggunakan bahasa Indonesia.

"Kita ini Indonesia, Pak. Jadi orang takut kalau ngomong pakai bahasa Sunda nanti orang takut ngomong apa dan sebagainya," ujarnya.

"Kami mohon sekali yang seperti ini dilakukan penindakan tegas," imbuh dia.

(yum/bbn)