Suami Kepergok Chat Mesum dengan Pelakor, Apakah Sudah Bisa Dipidana?

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 11 Jan 2022 08:57 WIB
“Semalam sudah diperiksa 4 siswa dengan orang tuanya, mereka mengaku dikirimi berbagi gambar porno,” ujar Hendy.

Sejauh ini polisi belum menemukan indikasi adanya tindak asusila terhadap 4 siswi yang dikirimi chat porno. Namun polisi masih melakukan pendalaman.
        
“Hingga tadi malam, dari keempat siswi yang kita periksa masih sebatas dikirim chat porno. Apabila dalam perkembangan penyidikan ada korban yang mendapat perilaku menyimpang, maka kita berikan trauma healing,” tutur Hendy.
Foto: Ilustrasi chat mesum (Fuad/detikcom)
Jakarta -

Pertengkaran dalam rumah tangga bisa bermula dari banyak hal, salah satu di antaranya kehadiran orang ketiga atau yang biasa disebut perebut laki orang (pelakor) atau perebut bini orang (pebinor).

Namun, bagaimana bila bukinya hanya dari chatting, apakah sudah bisa dipidanakan?

Hal itu sebagaimana diceritakan pembaca detik's Advocate yang dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com. Berikut kisah lengkapnya:

Assalamualaikum

Nama Saya A

Saya di sini mau bertanya apakah saya bisa membawa kasus secara hukum dengan bukti chat sosial media dengan mengarah kejadian asusila.

Saya sudah berumah tangga 6 tahun dan memiliki dua orang putra. Kejadiannya sekitar sebulan yang lalu.

Saya memergoki suami saya menghubungi si pelakor melalui media sosial. Setelah itu saya dan suami bertengkar besar tetapi keluarga suami masih tidak mempercayai saya. Setelah itu semua kembali seperti biasa.

Dua minggu kemudian suami saya meminta saya untuk menginap sementara di rumah orang tua saya selama satu minggu. Setelah satu minggu saya tidak dijemput juga.

Pada hari Rabu tanggal 5 Januari 2022, saya kembali bertengkar hanya saja tidak secara langsung atau melalui media sosial.

Pada hari berikutnya tanggal 6 Januari 2022 saya memergoki semua isi chat suami saya dan semua itu mengarah terhadap tindak asusila.

Apakah saya bisa melaporkan kasus ini atau mendapat ganti rugi kepada suami dan pelakor?

Karena saya pulang hanya membawa anak dan utang yang suami ambil atas nama saya.

Terima kasih sebelumnya.

JAWABAN:

Sebelumnya, kami bersimpati atas kasus yang menimpa A. Semoga masalah rumah tangga saudari segera bisa diselesaikan. Untuk menjawab runtutan kejadian yang saudari alami, akan kami uraikan satu persatu.

Kasus Chatting Mesum

Untuk kasus chatting mesum ini, saudari dapat membuat laporan ke kepolisian dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang mana dalam pasal 27 ayat (1) disebutkan:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Namun dalam pasal ini penekanannya pada pendistribusian informasi elektronik yang memuat pelanggaran kesusilaan, bukan juga terkait perselingkuhan. Jika bukti-bukti chatting yang anda kemukakan tersebut terdapat hal-hal yang dirasa ada muatan yang melanggar kesusilaan dan anda merasa dirugikan, bisa saja membuat pelaporan ke kepolisian setempat.

Dengan catatan agar pelaporan tidak sia-sia, perlu dipersiapkan yang baik serta mempersiapkan bukti-bukti pendukung, misalnya identitas terlapor, saksi, bukti dan dokumen-dokumen yang lain.

Untuk memudahkan dalam melaporkan suatu tindak pidana, anda terlebih dahulu harus memahami daerah hukum dan wilayah administrasi kepolisian. Artinya pelaporan/pengaduan harus disesuaikan daerah hukum wilayah administrasi kepolisian dengan lokasi terjadinya tindak pidana. Namun tidak menutup kemungkinan juga, membuat laporan/pengaduan ke wilayah administrasi kantor kepolisian yang ada di atasnya.

Pelaporan/pengaduan biasanya dilakukan di bagian Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), yaitu pelaksana bidang pelayanan kepolisian yang memberi pelayanan terhadap laporan/pengaduan masyarakat, memberi bantuan dan pertolongan dan pelayanan informasi.

Delik Aduan

Delik ini adalah delik aduan sehingga saudari harus mengadukan ke aparat apabila apa yang anda alami ingin diusut. Dalam laporan tersebut, sebaiknya sertakan bukti WhatsApp yang tidak wajar tersebut.

Dalam delik aduan, korban tindak pidana dapat mencabut laporan apabila telah terjadi suatu perdamaian di antara korban dan terdakwa. Hal ini diterangkan dalam Pasal 75 KUHP yang menyebutkan bahwa orang yang mengajukan pengaduan berhak menarik kembali pengaduannya dalam waktu 3 bulan setelah pengaduannya diajukan.

Mengapa Bukti Ini Menjadi Penting?

Bukti menjadi penting karena sebagai dasar hakim dalam menjatuhkan pidana kepada terdakwa dalam perkara tersebut. Tanpa bukti yang cukup, maka terdakwa bisa bebas. Hal itu tertuang dalam Pasal 183 KUHAP berbunyi:

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Pasal 184 menyatakan:

(1) Alat bukti yang sah ialah :
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa.

(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.