detik's Advocate

Saya Hanya Punya Ahli Waris Anak Angkat, Bagaimana Pembagian Warisnya?

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Jan 2022 08:43 WIB
ilustrasi menabung
Ilustrasi (Foto: iStock)
Jakarta -

Sepanjang 2021, detik's Advocate mendapat ratusan pertanyaan dari pembaca. Salah satu yang terbanyak adalah soal waris, seperti seorang suami yang ditinggal istri dan hanya memiliki anak angkat. Berikut pertanyaan lengkapnya.

Sebelumnya, tim pengasuh detik's Advocate mengucapkan selamat tahun baru 2022. Semoga tahun 2022 menjadi tahun kesuksesan bagi pembaca semua. Antusiasme pembaca selama setahun terakhir memacu tim detik's Advocate untuk bisa memberikan jawaban terbaik dan diharapkan setahun ke depan terus meningkat.

Hal itu menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate yang dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com. Berikut pertanyaan lengkapnya:

Assalamualaikum Wr. Wb.
Yth. detikcom,

Saya PS 67 tahun dan istri saya sudah meninggal 3 tahun yang lalu, sedangkan kami tidak dikaruniai keturunan tetapi sejak tahun 1984 kami mengangkat seorang anak laki-laki yang masih kerabat, di mana ayah dan ibunya sudah meninggal. Pengangkatan anak disahkan oleh Pengadilan Negeri.

Saya mempunyai sebuah rumah yang dibangun tahun 1992 dan kini masih ditinggali saya sendiri, yang ingin saya ditanyakan adalah:

Bilamana rumah itu dijual bagaimana pembagiannya dan siapa saja yang berhak mendapatkan bagian?
Apabila saya meninggal, siapa yang berhak dapat bagian?
Bolehkah saya menyerahkan rumah tersebut/balik nama atas nama anak saya?

Terimakasih.
PS

Jawaban:

Salam sehat selalu Pak PS

Sebelumnya, saya mengucapkan terimakasih kepada Pak PS yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menjawab dan memberikan solusi atas persoalan hukum yang dihadapi. Semoga Pak PS beserta keluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT.

Ketentuan waris Islam di dalam nash termuat di dalam Surat Al-Nisa' ayat 11-12 dan ayat 176. Hukum kewarisan Islam termasuk bagian hukum nasional kerena menjadi kompetensi absolut Pengadilan Agama yang merupakan salah satu dari empat lingkungan peradilan di Indonesia, sebagaimana ketentuan Pasal 49 huruf b Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009.

Hukum kewarisan Islam diatur di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Berdasarkan ketentuan Pasal 71 huruf a Kompilasi Hukum Islam, hukum kewarisan merupakan hukum yang mengatur tentang pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagian masing-masing.

Sebelum menjawab pertanyaan Pak PS, saya melihat bahwa permasalahan yang disampaikan selain berkaitan dengan hukum kewarisan juga berkaitan dengan harta perkawinan. Dalam ketentuan Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juncto Pasal 47 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam, harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama pasangan suami istri, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian kawin.

Berdasarkan ketentuan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam, apabila salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka sebelum dilakukan pembagian harta warisan, harta dibagi dua terlebih dahulu, seperdua (½) menjadi bagian harta bersama milik pasangan yang masih hidup dan seperdua (½) lainnya menjadi harta bersama milik pewaris (pasangan yang meninggal dunia) yang untuk selanjutnya dibagikan kepada para ahli waris sesuai dengan bagian masing-masing.

Dari kasus posisi yang disampaikan, saat ini Pak PS tidak memiliki keluarga selain dari satu orang anak angkat. Berdasarkan beberapa uraian pokok di atas, selanjutnya saya akan menjawab masing-masing pertanyaan Pak PS, sebagai berikut:

Pertanyaan Pertama

Cara pembagian hasil penjualan rumah. Oleh karena rumah tersebut diperoleh dalam masa perkawinan Pak PS dengan istri, maka sebagaimana telah dijelaskan di atas, harta tersebut adalah harta bersama Pak PS dan istri.

Sebelum hasil penjualan rumah tersebut dibagikan, maka dibagi dua terlebih dahulu untuk memisahkan bagian harta bersama antara Pak PS dengan istri dengan ketentuan ½ bagian adalah milik pak PS dan ½ adalah milik istri yang menjadi harta peninggalannya (tirkah).

Hak istri dibagikan kepada ahli waris. Dari cerita yang disampaikan, ahli waris yang ditinggalkan cuma suami, di samping meninggalkan satu orang anak angkat. Perlu dipastikan terlebih dahulu memang tidak ada ahli waris yang lain seperti ayah, ibu, dan saudara laki-laki atau perempuan (kandung/seayah/seibu).

Anak angkat bukanlah ahli waris, namun berdasarkan ketentuan Pasal 209 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam, anak angkat yang tidak diberi wasiat oleh orang tua angkatnya diberi wasiat wajibah maksimal sepertiga (1/3) dari harta peninggalan pewaris.

Jika dipastikan tidak ada ahli waris yang lain, harta peninggalan istri Pak PS (½ dari hasil penjualan rumah) dapat dibagi sebagai berikut:

1. Anak angkat mendapat wasiat wajibah dengan nilai maksimal 1/3;
2. Pak PS sebagai suami seharusnya mendapat hak waris sebesar ½ karena tidak ada anak, namun karena tidak ada ahli waris lain, maka sisa harta dengan porsi 2/3 menjadi hak Pak PS.

Simak jawaban selengkapnya di halaman selanjutnya.

Simak juga Video: Bisakah Anak Hasil Nikah Siri Dapat Warisan?

[Gambas:Video 20detik]