Round-Up

10 Poin soal Aliran Suap hingga Safe House di Dakwaan AKP Robin

Tim Detikcom - detikNews
Senin, 13 Sep 2021 23:16 WIB
AKP Stepanus Robin Pattuju
Foto: Azhar Bagas Ramadhan/detikcom

6. Ancaman AKP Robin ke Pemberi Suap: Uang Tak Dibayar Bapak Tersangka

AKP Stepanus Robin Pattuju disebut pernah mengancam salah seorang pemberi suap, yaitu Usman Effendi. Bagaimana ceritanya?

Usman diketahui sebagai Direktur PT Tenjo Jaya yang terjerat kasus korupsi hak penggunaan lahan di Kecamatan Tenjojaya, Sukabumi, Jawa Barat. Perkaranya diusut kejaksaan.

Dia diketahui divonis 6 tahun penjara dan ditahan di Lapas Sukamiskin. Saat itulah Usman diduga terseret perkara yang ditangani KPK.

Usman diduga memberikan 1 unit mobil Toyota Land Cruiser Hardtop tahun 1981 kepada mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husen yang diduga diberikan pada Mei 2018. Perkara Wahid Husen sendiri ditangani KPK.

Dalam surat dakwaan AKP Robin, terungkap adanya upaya Usman memberikan suap ke AKP Robin agar memantau namanya terkait perkara mantan Kalapas Sukamiskin. Usman diminta AKP Robin menyerahkan uang Rp 1 miliar. Jika tidak, Usman akan dijadikan tersangka.

"Bahwa pada tanggal 3 Oktober 2020, terdakwa menghubungi Usman Effendi via telepon dan memperkenalkan diri sebagai teman Radian Ashar dan juga penyidik KPK. Pada saat itu, terdakwa menyampaikan kepada Usman Effendi bahwa terdakwa mencari Usman Effendi karena ada hal darurat, yaitu Usman Effendi akan dijadikan tersangka terkait kasus Kalapas Sukamiskin, oleh karenanya terdakwa meminta mereka bertemu," kata jaksa dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (13/9/2021).

Kemudian terjadilah pertemuan antara AKP Robin dan Usman Effendi di Puncak Pass. Dalam pertemuan itu, Usman Effendi meminta bantuan AKP Robin agar dirinya tidak dijadikan tersangka oleh KPK. Robin kemudian menyanggupi itu dan meminta Rp 1 miliar sebagai imbalan membantu Usman.

"Pada malam harinya, bertempat di Puncak Pass, Usman Effendi meminta bantuan Terdakwa agar dirinya tidak dijadikan tersangka oleh KPK. Terdakwa lalu menyampaikan kepada Usman Effendi kalau dirinya dan tim dapat membantu Usman dengan imbalan sejumlah Rp 1 miliar," kata jaksa.

Namun, saat itu Usman keberatan karena jumlah uang yang diminta besar. AKP Robin lantas merayu Usman bahwa uang itu tidak perlu dibayar langsung.

"Terdakwa lalu menyampaikan 'Bapak bayar Rp 350 juta saja untuk tim dan tidak harus sekali bayar lunas. Yang penting masuk dananya hari Senin, karena jika tidak hari Senin dibayar, Bapak akan dijadikan tersangka pada ekspos pada hari Senin jam 16.00'," kata jaksa sambil menirukan ucapan Robin ke Usman kala itu.

Hingga akhirnya pada 6 Oktober 2020, Usman Effendi mentransfer uang ke rekening yang sudah diberikan Robin dengan jumlah keseluruhan Rp 525 juta. Uang itu kemudian dibagi dua, Robin menerima Rp 252 juta, sedangkan Maskur Husain memperoleh Rp 272,5 juta.


7. Eks Bupati kukar Diminta Rp 10 M

Penerimaan uang dari mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari ke mantan penyidik KPK AKP Stepanus Robin Pattuju terungkap di surat dakwaan. Jaksa menyebut awalnya Rita diminta Rp 10 miliar untuk mengurus sidang peninjauan kembali (PK).

Jaksa mengatakan percakapan mengenai permintaan Rp 10 miliar itu terjadi saat AKP Robin bersama rekannya yang merupakan pengacara, Maskur Husain mendatangi Rita di Lapas Kelas IIA Tangerang. AKP Robin dan Rita awalnya dikenalkan oleh Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin.

Kembali ke pertemuan AKP Robin, Maskur, dan Rita, jaksa menyebut Robin dan Maskur meyakinkan Rita agar mengajukan PK. Robin dan Maskur disebut menawarkan diri untuk mengurus aset-aset Rita yang disita KPK.

"Terdakwa dan Maskur Husain meyakinkan Rita Widyasari bahwa mereka bisa mengurus pengembalian aset-aset yang disita KPK terkait TPPU dan peninjauan kembali (PK) yang diajukan Rita Widyasari, dengan imbalan sejumlah Rp 10 miliar, dan apabila pengembalian aset berhasil, Maskur Husain meminta bagian 50% dari total nilai aset," kata jaksa KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Senin (13/9/2021).

Jaksa mengatakan Maskur Husain melobi Rita agar membayar Rp 10 miliar. Maskur, kata jaksa, juga menyebut Rp 10 miliar itu murah karena perkara ini langsung ditangani oleh dia dan AKP Robin yang saat itu merupakan penyidik KPK.

"Maskur Husain menyampaikan bahwa lawyer fee sejumlah Rp 10 miliar tersebut lebih murah daripada yang biasanya dia minta, dimana hal tersebut bisa karena ada Terdakwa yang sebagai penyidik KPK bisa menekan para hakim PK, dan akhirnya Rita Widyasari setuju memberikan kuasa kepada Maskur Husain," ungkap jaksa.

Setelah menyanggupi itu, Rita kemudian menghubungi Azis Syamsuddin guna menginformasikan komunikasi dirinya dengan Robin dan Maskur. Hingga akhirnya Rita memberikan uang ke Robin dan Maskur secara bertahap, namun uang yang diberikan Rita jadinya hanya Rp 5 miliar.