Sidang Dakwaan AKP Robin

Jaksa Beberkan 5 Perkara di KPK Bertabur Suap untuk AKP Robin

Zunita Putri - detikNews
Senin, 13 Sep 2021 11:13 WIB
AKP Stepanus Robin Pattuju
AKP Stepanus Robin Pattuju (Foto: Azhar Bagas Ramadhan/detikcom)
Jakarta -

Jaksa KPK mengungkap satu per satu lima perkara di KPK yang berkaitan dengan dakwaan mantan penyidik KPK AKP Stepnus Robin Pattuju. Apa saja 5 perkara itu?

Lima perkara bertabur suap untuk AKP Robin itu terungkap di surat dakwaan jaksa KPK. Surat dakwaan KPK dibaca jaksa dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (13/9/2021).

Berikut lima perkara tersebut:

1. Perkara Kasus Suap Jual Beli Jabatan di Pemkot Tanjungbalai

Perkara ini melibatkan Wali Kota Tanjungbalai nonaktif M Syahrial dan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin. Dalam perkara ini AKP Robin menerima suap Rp 1,695 miliar.

Jaksa KPK mengatakan AKP Robin dikenalkan M Syahrial oleh Wakil Ketua DPR RI, Azis Syamsuddin. Pertemuan Syahrial dan Robin itu terjadi di rumah dinas Azis di Jalan Denpasar Raya, Kuningan, Jaksel.

Dalam pertemuan itu Syahrial menjelaskan bahwa dirinya sedang tersandung kasus di KPK. Syahrial meminta agar Robin membuat kasus jual beli jabatan di lingkungan Pemkot Tanjungbalai yang sedang dilidik KPK tidak naik ke tingkat penyidikan.

Robin pun menyanggupi permintaan Syahrial. Namun, Robin meminta imbalan Rp 1,7 miliar dan disanggupi oleh Syahrial.

"Bahwa Terdakwa kemudian membahas kasus-kasus yang melibatkan M Syahrial dengan Maskur Husain, dan akhirnya mereka sepakat untuk membantu M Syahrial dengan imbalan sejumlah uang. Akhirnya disepakati antar mereka besaran imbalan adalah sejumlah Rp 1.700.000.000 yang diberikan secara bertahap," kata jaksa

Namun pada akhirnya total suap yang diberikan Syahrial ke Robin secara bertahap senilai Rp 1,695 miliar, uang itu kemudian dibagi dengan Maskur Husain. AKP Robin mendapat Rp 490 juta, sedangkan Maskur mendapat Rp 1,205 miliar.

Selain itu, Robin juga mendapat privilege dari Syahrial, yakni Robin pernah meminjam mobil dinas milik Pemkot Tanjungbalai merek Toyota Kijang Innova tahun 2017 dengan plat nomor BK1216Q. Peminjaman mobil itu dilakukan sejak 22 Desember 2020 hingga 13 April 2021.

Lebih lanjut, jaksa juga menyebut Robin memberikan informasi kedatangan penyidik KPK di Tanjungbalai ke Syahrial. Hal itu bertentangan dengan pekerjaan Robin selaku penyidik KPK.

Robin juga disebut jaksa memberi informasi terkait kasus jual beli jabatan di Tanjungbalai ini ke Azis Syamsuddin dan Syahrial. Robin memberi tahu kasus ini naik ke tingkat penyidikan ke Azis dan Syahrial.

2. Perkara Suap di Lampung Tengah

Jaksa mengatakan sekitar Agustus 2020, Robin yang diminta tolong oleh Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin. Azis meminta Robin untuk mengurus kasus yang melibatkan Azis dan Aliza Gunado terkait penyelidikan KPK di Lampung Tengah.

Lalu Robin berdiskusi dengan Maskur Husain guna membahas tentang apakah mereka bersedia mengurus kasus itu. Akhirnya Robin dan Maskur sepakat untuk mengurus kasus yang melibatkan Azis dan Aliza Gunado tersebut asal diberi imbalan uang sejumlah Rp 2 miliar dari masing-masing orang yaitu Azis Syamsuddin dan Aliza Gunado dengan uang muka sejumlah Rp 300 juta. Azis pun menyanggupi itu.

Setelah uang muka diterima, Robin membagi uang itu dengan Maskur, Robin mendapat Rp 100 juta dan Maskur mendapat 200 juta. Uang itu ditransfer langsung dari rekening Aziss pada 3 Agustus 2020.

Kemudian pada 5 Agustus 2020, Robin menerima uang lagi dari Azis di rumah dinas Azis Syamsuddin di Jalan Denpasar Raya, Kuningan, Jaksel, senilai USD 100 ribu. Uang itu diterima langsung oleh Robin.

"Uang tersebut sempat Terdakwa tunjukkan kepada Agus Susanto saat ia sudah kembali ke mobil dan menyampaikan Azis Syamsuddin meminta bantuan Terdakwa, yang nantinya Agus Susanto pahami itu terkait kasus Azis Syamsuddin di KPK," tutur jaksa.

Uang itu, kata jaksa, kemudian dibagi yakni USD 36 ribu ke Maskur Husain di Pengadilan Negeri Jakpus dan menukarkan sisanya sebanyak USD 64 ribu di money changer dengan menggunakan identitas Agus Susanto, sehingga memperoleh uang rupiah sejumlah Rp 936 juta. Uang hasil penukaran itu lalu Robin berikan sebagian ke Maskur Husain yaitu sejumlah Rp 300 juta.

Pemberian selanjutnya masih di Agustus 2020 sampai Maret 2021, Robin disebut jaksa beberapa kali menerima uang dari Azis Syamsuddin dan Aliza Gunado dengan keseluruhan sejumlah USD 171.900. Uang itu kemudian ditukarkan menjadi rupiah dengan senilai Rp 1.863.887.000, dan sebagian uang diberikan ke Maskur Husain, yakni senilai Rp 1,8 miliar.

"Bahwa untuk mengurus kasus yang melibatkan Azis Syamsuddin dan Aliza Gunado di KPK, Terdakwa dan Maskur Husain telah menerima
uang dengan jumlah keseluruhan sekitar Rp 3.099.887.000 dan USD 36.000," ungkap jaksa.

"Uang tersebut kemudian Terdakwa dan Maskur Husain bagi, dimana Terdakwa memperoleh Rp 799.887.000, sedangkan Maskur Husain memperoleh Rp 2.300.000.000 dan USD36.000," imbuh jaksa.

3. Perkara Kasus Bansos di Kabupaten Bandung

Kejadian ini terjadi pada sekitar Oktober 2020 di Lapas Sukamiskin. Jaksa mengatakan AKP Robin bersama Agus Susanto dan Maskur Husain bertemu dengan seseorang bernama Saeful Bahri. Pada kesempatan tersebut, Maskur Husain menginformasikan terdapat kemungkinan Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna sedang menjadi target KPK dan Saeful Bahri lalu meminta agar Ajay dibantu.

Saat itu Ajay kemudian ditemui dan diyakinkan oleh seseorang bernama Yadi kalau di Bandung Barat sedang ramai kasus bansos dan dilidik oleh KPK termasuk Kabupaten Bandung, Kota Bandung serta Kota Cimahi. Saat itu disebutlah nama salah satu penyidik KPK bernama Roni yang pada akhirnya diketahui Roni itu adalah AKP Robin, disebut Robin ini bisa membantu Ajay agar terhindar dari kasus ini.

Berdasarkan masukan Yadi tadi, Ajay kemudian menemui AKP Robin di salah satu Hotel. Dalam pertemuan itu, Robin bersedua membantu AJay agar tidak masuk dalam penyidikan perkara bansos dengan imbalan sejumlah uang.

Mereka kemudian bertemu lagi pada 14 Oktober 2020 di kawasan Jaksel, di sana lagi-lagi AKP Robin menyampaikan kesanggupannya membantu Ajay. Asalkan diberi uang Rp 1,5 miliar, namun saat itu Ajay keberatan dan disepakatilah angka Rp 500 juta, untuk uang muka Ajay hanya mampu memberikan Rp 100 juta.

"Keesokan harinya, juga bertempat di penginapan Tree House Suite Jakarta Selatan, Evodie Dimas Sugandy (ajudan Ajay Muhammad Priatna) menyerahkan tambahan uang sejumlah Rp 387.390.000 dalam bentuk mata uang rupiah, dolar Singapura, dan dolar Amerika Serikat kepada Terdakwa dan Maskur Husain dengan meletakkannya di sebuah kamar yang telah ditentukan, sebagaimana percakapan Ajay dengan Maskur," kata jaksa.

Sisanya diberikan pada 24 Oktober 2020 senilai Rp 20 juta. Uang itu diterima langsung oleh AKP Robin di rumah makan di kawasan Dago, Bandung.

"Bahwa untuk membantu Ajay Muhammad Priatna agar Kota Cimahi tidak masuk dalam penyidikan perkara bansos, Terdakwa dan Maskur Husain telah menerima uang dengan jumlah keseluruhan Rp 507.390.000. Uang tersebut kemudian Terdakwa dan Maskur bagi, dimana Terdakwa memperoleh Rp 82.390.000, sedangkan Maskur Husain memperoleh Rp 425.000.000," tegas jaksa.

4. Perkara Eks Kalapas Sukamiskin

Jaksa mengatakan pemberian suap terkait perkara ini bermula pada 3 Oktober 2020, Robin saat itu menghubungi Usman Effendi. AKP Robin saat itu mengenalkan diri sebagai teman Radian Ashar yang juga penyidik KPK.

Pada saat itu, Robin menyampaikan kepada Usman Effendi bahwa Robin sedang mencari Usman karena ada hal darurat yaitu Usman EFfendi akan dijadikan tersangka terkait kasus Kalapas Sukamiskin. Saat itu juga Robin disebut meminta mereka bertemu.

Kemudian terjadilah pertemuan dengan Usman Effendi di Puncak Pass. Di pertemuan itu, Usman meminta bantuan Robin agar dirinya tidak dijadikan tersangka oleh KPK, Robin kemudian menyanggupi itu dan meminta Rp 1 miliar sebagai imbalannya membantu Usman.

Jaksa menyebut saat itu Usman keberatan karena jumlah uang yang diminta besar. Namun, saat itu Robin mengancam Usman dengan mengatakan jika tidak memberi imbalan akan dijadikan tersangka.

" Terdakwa lalu menyampaikan 'Bapak bayar Rp 350 juta saja untuk Tim dan tidak harus sekali bayar lunas. Yang penting masuk dananya hari Senin, karena jika tidak hari Senin dibayar, Bapak akan
dijadikan tersangka pada ekspos pada hari Senin jam 16.00'," kata jaksa sambil menirukan ucapan Robin ke Usman kala itu.

Pada 6 Oktober 2020, Usman Effendi mentransfer uang ke rekening yang sudah diberikan Robin dengan jumlah keseluruhan Rp 525 juta. Uang itu kemudian dibagi dua, Robin menerima Rp 252 juta sedangkan Maskur Husain memperoleh Rp 272,5 juta.

5. PK Eks Bupati Kukar, Rita Widyasari

Dalam perkara ini, jaksa KPK kembali mengungkapkan ada peranan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin. Jaksa menyebut Azis mengenalkan Robin ke mantan Bupati Kutai Kartangera (Kukar), Rita Widyasari.

Robin dan Maskur Husain kemudian datang ke Lapas Kelas IIA Tangerang menemui Rita Widyasari dan menyampaikan dirinya merupakan penyidik KPK dengan memperlihatkan kartu Identitas penyidik KPK serta memperkenalkan Maskur Husain sebagai pengacara.

Jaksa menuturkan saat itu, Robin dan Maskur meyakinkan Rita bahwa mereka bisa mengurus pengembalian aset-aset yang disita KPK terkait TPPU dan peninjauan kembali (PK) yang diajukan Rita Widyasari. Namun keduanya meminta imbalan Rp 10 miliar.

"Dengan imbalan sejumlah Rp 10 miliar dan apabila pengembalian aset berhasil, Maskur meminta bagian 50% dari total nilai aset. Maskur menyampaikan bahwa lawyer fee sejumlah Rp 10 miliar tersebut lebih murah daripada yang biasanya dia minta, dimana hal tersebut bisa karena ada terdakwa yang sebagai penyidik KPK bisa menekan para hakim PK, dan akhirnya Rita Widyasari setuju
memberikan kuasa kepada Maskur Husain," ungkap jaksa.

Setelah pertemuan dengan Maskur dan Robin, Rita kemudian menghubungi Azis Syamsuddin guna menginformasikan komunikasi dirinya dengan Robin dan Maskur.

Kemudian pada 20 November 2020, seseorang bernama Usman Effendi mentransfer uang RP 3 miliar ke rekening Maskur Husain sebagai pembayaran lawyer fee oleh Rita, Rita juga menyerahkan aset ke Robin Maskur Husain.

"Menindaklanjuti perjanjian Usman Effendi dengan Rita Widyasari tanggal 16 November 2020 yang menyebutkan pinjaman uang akan diganti dua kali lipat oleh Rita Widyasari dengan jaminan 1 sertifikat tanah atas nama Dayang Kartini (ibu dari Rita Widyasari) seluas 140m² di Bandung. Selain itu, Rita Widyasari juga menyerahkan dokumen atas aset kepada Terdakwa dan Maskur Husain, berupa: 1 unit Apartemen Sudirman Park Tower A Lt 43 Unit C di Jakarta Pusat; dan sebidang tanah beserta rumah yang terletak di Jalan Batununggal elok I No 34, Bandung," ucap jaksa.

Setelah menyerahkan itu, pada 27 November 2020 Rita Widyasari menandatangani surat kuasa kepada Maskur Husain terkait permohonan PK dan mencabut kuasa kepada penasihat hukum sebelumnya. Menurut jaksa, sejak Januari hingga April 2021, Rita memberikan uang ke Robin dengan jumlah keseluruhan Rp 60,5 juta.

Selain itu Robin juga menerima SGD 200 ribu atau senilai Rp 2.137.300.000 untuk mengurus perkara Rita Widyasari yang diambil AKP Robin bersama Agus Susanto dari rumah dinas Azis Syamsuddin. Kemudian sebagian hasil penukaran valuta asing tersebut sejumlah Rp 1,5 miliar Robin berikan ke Maskur Husain.

"Bahwa uang yang diperoleh Terdakwa dan Maskur Husain terkait kepentingan Rita Widyasari adalah sejumlah Rp 5.197.800.000, di mana
Terdakwa memperoleh Rp 697.800.000, sedangkan Maskur Husain memperoleh sejumlah Rp 4.500.000.000," kata jaksa KPK.

Terkait pemberian suap ini, jaksa menyebut seluruh uang suap diterima Robin di rekening penampung atas nama Riefka Amalia yang merupakan adik dari teman wanita AKP Robin. Rekening beserta M-Banking Riefka itu sepenuhnya dikendalikan AKP Robin.

Atas dasar itu, AKP Robin dan Maskur Husain didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 jo Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Simak juga 'Dewas KPK Pecat Penyidik Stephanus Robin Prattuju Penerima Suap':

[Gambas:Video 20detik]



(zap/dhn)