detik's Advocate

Saya Pasangan Samen Leven, Bagaimana Status Hukum Anak Kami?

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 28 Jul 2021 09:06 WIB
Hispanic Couple Viewing Potential New Home
Ilustrasi (Foto: iStock)
Jakarta -

Banyak alasan orang hidup serumah tanpa menikah atau yang biasa dikenal dengan samen leven. Masalah menjadi rumit ketika pasangan samen leven terlibat pertengkaran, tapi ada anak yang harus dipertahankan dari hasil hubungan tersebut. Bagaimana solusinya?

Berikut cerita yang ditulis pembaca detikcom dalam sepucuk surat elektronik ke detik's Advocate. Mari kita baca bersama:

Saya Kumbang, tinggal di Klaten. Saya memiliki anak usia 2 tahun 2 bulan. Anak tersebut merupakan hasil dari hubungan saya dengan Bunga.

Saya dan Bunga merupakan dua sejoli yang melakukan hubungan itu tidak terikat pernikahan, dikarenakan Bunga masih dalam status mahasiswi sehingga kami tidak mendapat restu kala itu.

Bunga menunda alasan pernikahan tersebut karena ingin mendapatkan restu dari ayahnya agar ayahnyalah yang menjadi wali dalam pernikahan kami nantinya, dengan syarat harus menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu, karena itu janjinya dahulu kepada ayahnya, boleh menikah kalau sudah selesai kuliah.

Beberapa kali kami ditanyakan oleh pihak keluarga saya mengenai kapan rencana kami akan menikah mengingat usia anak kami semakin bertambah. Saya selalu menjawab siap kapan pun untuk menikah. Dan jawaban Bunga selalu mengatakan selesai dulu kuliahnya.

Di hadapan keluarga saya Bunga pernah beberapa kali berjanji akan menikah apabila selesai kuliahnya. Meski berat bagi saya dan keluarga saya, saya tetap menjalaninya sampai hari ini, 3 tahun hidup serumah dan membesarkan anak tanpa status pernikahan bukanlah hal mudah bagi saya, demi menyelesaikan kuliah Bunga.

Dan pada akhirnya Bunga pun wisuda tahun yang lalu. Berbesar hati lah saya dengan harapan akan segera menikah. Dan petaka pun datang ketika beberapa hari setelah acara wisuda Bunga, Bunga pun kabur dari rumah saya mengabaikan janji nya kepada saya juga keluarga saya, dan melupakan anaknya hingga hari ini, tanpa komunikasi apa apa dan tanpa nafkah dan sebagainya.

Pernah saya coba untuk datang ke rumah keluarga Bunga, tapi alhasil orang tua Bunga menyembunyikan Bunga dengan alasan tak ada di rumah dan tak ada di sini. Padahal niat saya hanya ingin mempertemukan Bunga dengan anaknya, karena anak saya sangat merindukan Bunga juga merasa kehilangan sosok ibu lebih dari 6 bulan.

Malah kedatangan saya kala itu diintimidasi oleh keluarga Bunga dengan mengatakan Bunga tidak ada di sini tak perlu kau mencarinya lagi. Bahkan salah seorang kerabat istri saya ingin memukul saya dengan sikap mengeluarkan ancang-ancang untuk memukul dan seorang lainnya dengan ancang-ancang menghujamkan tombak (alat angkat tandan buah sawit).

Tapi saya tetap tenang dan berkata, "Salah saya di mana?".

Simak juga 'Bolehkah Menceraikan Pasangan yang Dipenjara karena Korupsi?':

[Gambas:Video 20detik]