Round Up

Jaksa Agung vs Keluarga Korban Semanggi Berlanjut ke Kasasi

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 13 Mar 2021 05:52 WIB
Jaksa Agung melantik Sesjampidum dan 5 Kajati
Jaksa Agung ST Burhanuddin (Foto: dok, Kejagung)
Jakarta -

Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Jakarta mengabulkan gugatan banding yang diajukan Jaksa Agung, dengan begitu putusan PTUN Jakarta yang menyatakan Jaksa Agung melawan hukum dibatalkan. Tak terima dengan putusan itu, keluarga korban peristiwa Semanggi I dan II kembali mengajukan langkah hukum kasasi.

Awalnya pengacara keluarga korban peristiwa Semanggi I-II mengatakan akan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung terkait putusan PTTUN Jakarta yang memenangkan gugatan banding Jaksa Agung. Pengacara korban Semanggi I-II, Muhammad Isnur mengaku kecewa karena PTTUN Jakarta membatalkan putusan PTUN Jakarta yang menyatakan Jaksa Agung melawan hukum.

"Bu Sumarsih sejak awal sebenarnya sudah punya standing, beliau sudah berjuang hampir 20 tahun lebih tidak ada kata mundur, kata takut, tidak ada kemudian kata kira-kira khawatir atas putusan ini, beliau akan terus maju dan mengupayakan kasasi," ujar Isnur, dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube KontraS, Rabu (10/3/2021).

Lebih lanjut, ia berharap majelis hakim kasasi di Mahkamah Agung dapat mengoreksi putusan PTTUN Jakarta dan memberikan putusan yang adil. Selain itu, Isnur berharap tidak ada upaya intervensi terhadap proses hukum tersebut.

"Sebenarnya dalam tanda kutip kita tahu bersama ada problem di dalam ranah independensi. Kami tahu ada banyak kasus hakim-hakim ditangkap oleh KPK, panitera, bahkan levelnya Ketua MK saja pernah ditangkap KPK, nah kami sebenarnya tidak ingin menuduh, tapi kami sebenarnya tidak ingin menuduh, tapi kami khawatir kalau kemudian ada praktik-praktik seperti ini, praktik-praktik intervensi, praktik-praktik lobi, dan lain-lain di belakang. Kami yakin mudah-mudahan Mahkamah Agung bisa menjaga jika terjadi dan terus menjaga jika terjadi dan terus menegakkan hukum dan keadilan," ungkapnya.

Kemudian, Isnur menyoroti pertimbangan hakim PTTUN Jakarta yang menyatakan belum dapat menerima permohonannya karena pemohon belum mengajukan banding administratif. Menurut Isnur, sebenarnya pemohon Sumarsih telah mengajukan banding administratif meskipun bertandatangan di dalam surat terbuka ke Presiden Jokowi dengan kop surat Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), tapi menurut hakim PTTUN Jakarta seharusnya surat tersebut disampaikan melalui kuasa hukum. Isnur berharap hakim majelis kasasi akan memeriksa perkara tersebut dengan adil.

"Dari putusan PTTUN ini kita bisa lihat, PTTUN ini tidak membantah atau sama sekali tidak kemudian mengusik-ngusik soal pokok perkara yang menjelaskan bahwa pernyataan Jaksa Agung itu perbuatan melawan hukum, justru PTTUN itu sangat kira-kira menurut kami agak sedikit mengkhawatirkan kalau kemudian permainannya seperti ini," ungkap Isnur.

"PTUN apa tidak melihat dalam surat tersebut JSKK itu siapa, JSKK itu bu Sumarsih sendiri, jadi bu Sumarsih tanda tangan walaupun dia pakai kop JSKK, tapi dia pribadi sebagai penggugat telah mengajukan dalil administratif. Jadi kalau kita mau melakukan dalil PTTUN, PTTUN sendiri melakukan kecerobohan yang luar biasa, dengan bilang bu Sumarsih karena sudah ngasih kuasa ke LBH Jakarta sehingga JSKK tidak berhak melakukan banding padahal JSKK itu adalah bu Sumarsih sendiri. Jadi menurut saya ini beban berat dari Mahkamah Agung, Mahkamah Agung harus mengkoreksi hakim-hakim seperti ini," ujarnya.


Ibu Korban Bicara Sulitnya Cari Keadilan


Ibu korban peristiwa Semanggi I-II Sumarsih mengaku kecewa terkait putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Jakarta yang memenangkan gugatan banding Jaksa Agung yang sebelumnya dihukum melawan hukum oleh PTUN Jakarta. Sumarsih berbicara tentang sulitnya mencari keadilan.

"Putusan majelis hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta itu kan menyebut ya, 'Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa', tetapi mengapa tidak menolak kebohongan Jaksa Agung. Pertanyaannya adalah keadilan seperti apa yang dimaksud," kata Sumarsih dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube KontraS, Rabu (10/3/2021).

"Ini yang menjadi keluhan saya, yang menjadi keprihatinan saya selama 23 tahun mencari kebenaran dan keadilan tetapi ternyata sangat sulit sekali," imbuhnya.

Sumarsih menilai putusan PTTUN itu telah menutup celah harapan keluarga korban yang sebelumnya muncul melalui putusan PTUN Jakarta yang menyatakan Jaksa Agung melawan hukum. Sumarsih juga menyoroti Jaksa Agung yang tak kunjung menindaklanjuti kasus tragedi Semanggi I dan II ke tingkat penyidikan.

"Bagi saya, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta ini telah menutup pintu kebenaran yang sudah terbuka di Pengadilan TUN Jakarta. Kemudian juga tidak peka terhadap roh gugatan yang kami lakukan karena Jaksa Agung tidak mau menjalankan apa yang menjadi tugas dan kewajibannya," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3