Negara Jadi-jadian

Paguyuban di Garut Tambah Daftar Panjang Penipu Harta Karun di Bank Swiss

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 11:24 WIB
Uang Paguyuban Garut
Uang yang dicetak oleh Paguyuban Tunggal Rahayu di Garut (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Dongeng lawas soal harta karun bangsa yang disimpan di bank Swiss ternyata masih dipakai untuk menipu orang. Paguyuban Tunggal Rahayu yang heboh gara-gara mengubah Garuda Pancasila dikabarkan juga memakai dongeng itu.

Paguyuban bak 'negara jadi-jadian' yang punya lambang dan mencetak uang ini menambah daftar panjang kelompok nyeleneh yang mendengungkan dongeng harta karun di bank Swiss. Dongeng soal harta karun di bank Swiss memang sudah usang tapi terus diulang-ulang. Masih ada saja orang yang teperdaya.

Dongeng ini bervariasi, di satu dongeng ada yang mengisahkan harta itu adalah warisan Sukarno, di dongeng yang lain ada yang membual bahwa harta itu adalah warisan raja-raja Nusantara. Bentuk harta yang dijanjikan bisa uang, bisa pula emas.

Kesamaan yang menyatukan dongeng-dongeng harta di bank Swiss adalah soal cara mencairkannya. Masyarakat bisa mencairkan dan menarik harta karun itu apabila masyarakat menyetorkan sejumlah uang sebagai syarat. Akibatnya, masyarakat tertipu dan benar-benar memberikan sejumlah uang kepada pihak pendongeng. Tentu saja harta di Swiss itu tidak pernah ada.

Cerita harta karun

Ada satu buku yang memuat soal dongeng ini, judulnya 'Harta Amanah Soekarno' karya Safari ANS, terbit pada 2014. Di situ diceritakan, Presiden RI Sukarno menjalin perjanjian dengan Presiden Amerika Serikat (AS) John F Kennedy (JFK) dalam perjanjian 'The Green Hilton Memorial Agreement'.

Pertemuan Presiden Sukarno dengan Kennedy di Amerika Serikat 1961Pertemuan Presiden Sukarno dengan Kennedy di Amerika Serikat 1961 (Foto: dok. jfklibrary.org)

Safari ANS menyebutkan, dalam perjanjian itu, AS setuju mengakui bahwa kekayaan negara dalam bentuk emas yang jumlahnya 57 ribu ton emas berasal dari Indonesia. Dana dalam bentuk emas itu diklaim Bung Karno kepada Amerika sebagai harta rampasan perang.

Sebagaimana diberitakan detikcom pada 2014, Safari selaku penulis buku mengaku memiliki salinan dokumen-dokumen sebagai bukti tulisannya. Dia juga yakin harta Sukarno di Bank UBS Swiss bisa dicairkan. Dia juga percaya pejabat Indonesia diam-diam mencoba mencairkan harta itu.

Sejarawan membantah kebenaran narasi semacam ini. Asvi Warman Adam dari LIPI adalah salah satunya. Dia mengatakan dongeng itu sebagai hoax.

Biasanya, si pendongeng hoax menunjukkan surat-surat, sertifikat-sertifikat, dan kertas-kertas perjanjian penyimpanan harta di bank Swiss. Dengan cara ini, dongeng harta di bank Swiss bakal tampak meyakinkan di mata calon korban hoax.

Green Hilton Memorial Agreement antara Sukarno dan JFK sendiri tidak pernah ada. Pengusung dongeng menyebut Green Hilton Memorial Agreement berlangsung di Swiss pada 14 November 1963, padahal saat itu JFK sedang menggelar jumpa pers di Auditorium Departemen Luar Negeri AS, Washington DC, sebagaimana tercatat dalam situs John F Kennedy Presidential Library and Museum.

Foto ilustrasi: UBS, Bank di Swiss yang jadi klaim tidak benar bahwa bank ini menjadi tempat penyimpanan harta raja-raja Nusantara. (Fabrice Coffrini/AFP)Foto ilustrasi: UBS, Bank di Swiss yang jadi klaim tidak benar bahwa bank ini menjadi tempat penyimpanan harta raja-raja Nusantara. (Fabrice Coffrini/AFP)

Tonton video 'Pengakuan Aneh Bos Paguyuban Pengubah Lambang Garuda soal Gelar Profesor':

[Gambas:Video 20detik]



Berikut adalah daftar kelompok pengusung hoax harta di bank Swiss, dari dalam dan luar negeri, yang terbaru ada Paguyuban di Garut:

Selanjutnya
Halaman
1 2 3