Asal Mula Hoax Harta Sukarno di Swiss

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 30 Jan 2020 21:40 WIB
President John F. Kennedy walks with representatives from the Belgrade Conference of Non-Aligned Nations on the South Lawn of the White House, Washington, D.C. (L-R) Secret Service Agent Gerald “Jerry” Behn; Minister of Foreign Affairs of Indonesia Dr. Subandrio (wearing sunglasses); Secretary of State Dean Rusk; President Ahmed Sukarno of Indonesia; unidentified; President Kennedy; President Modibo Keïta of Mali.
Bung Karno memang pernah bertemu Kennedy, tapi bukan berarti rumor The Green Hilton Memorial Agreement itu benar. (Dokumentasi jfklibrary.org)
Jakarta -

King of The King mengusung dongeng klise soal harta Sukarno yang disimpan di Union Bank of Switzerland (UBS). Dongeng itu hoax, bersumber dari kisah tentang perjanjian antara Presiden RI Sukarno dan Presiden Amerika Serikat (AS) John F Kennedy (JFK), disebut sebagai The Green Hilton Memorial Agreement.

"Itu hoax. Dulu saya pernah kritik buku 'Harta Amanah Soekarno' yang mengemukakan hal itu," kata sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, kepada wartawan, Kamis (30/1/2020).

Buku 'Harta Amanah Soekarno' yang disebut Asvi sebagai karya Safari ANS, terbit pada 2014. Asvi mengamati, cerita tentang The Green Hilton Memorial Agreement sudah beredar di internet sejak 2009. Namun situs bibliotecapleyades sudah memuat isu ini sejak 28 November 2008.

Kembali ke 'Harta Amanah Soekarno' karya Safari ANS, buku itu memuat cerita tentang perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement. Disebut-sebut, perjanjian itu digelar pada 14 November 1963 di Jenewa, Swiss. Perjanjian itu diteken Bung Karno dan Kennedy, serta seorang saksi dari Swiss bernama William Vouker.

Safari ANS menyebutkan, dalam perjanjian itu, AS setuju mengakui bahwa kekayaan negara dalam bentuk emas yang jumlahnya 57 ribu ton emas berasal dari Indonesia. Dana dalam bentuk emas itu diklaim Bung Karno kepada Amerika sebagai harta rampasan perang.

Sebagaimana diberitakan detikcom pada 2014, Safari selaku penulis buku mengaku memiliki salinan dokumen-dokumen sebagai bukti tulisannya. Dia juga yakin harta Sukarno di Bank UBS Swiss bisa dicairkan. Dia juga percaya pejabat Indonesia diam-diam mencoba mencairkan harta itu.

"Banyak dokumen-dokumen di seluruh dunia ini bisa dicairkan. Meski pemerintah Indonesia tidak mengakui secara resmi, namun secara 'diam-diam' pejabat Indonesia, seperti menteri yang masih aktif hingga mantan presiden, datang ke UBS/Bank Swiss untuk mencairkan dana tersebut," ungkap Safari dalam bedah buku di Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, 7 Mei 2014.

Asal Mula Hoax Harta Sukarno di SwissFoto ilustrasi: UBS, Bank di Swiss yang jadi klaim tidak benar bahwa bank ini menjadi tempat penyimpanan harta raja-raja Nusantara dan Bung Karno. (Fabrice Coffrini/AFP)

Selanjutnya
Halaman
1 2