Round-Up

9 Fakta Pencemaran Parah Bengawan Solo, Ikan Teler hingga Murka Ganjar

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 08:58 WIB
Sungai Bengawan Solo tercemar industri rumah tangga ciu. Pencemaran terjadi dari hulu yakni tempuran kali Samin.
Penampakan Bengawan Solo di pertemuan arus Kali Samin di pinggiran Kota Solo (Foto: Agung Mardika)
Solo -

Pencemaran Bengawan Solo selalu menjadi masalah setiap tahun, terutama ketika musim kemarau. Lagi-lagi limbah industri kecil ciu atau alkohol menjadi biang keladinya.

Tentunya, limbah-limbah industri lain juga turut andil besar dalam pencemaran lingkungan, namun khusus industri kecil memang banyak yang belum terfasilitasi IPAL. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Polda Jateng pun mengancam akan memidanakan pelaku pencemaran.

Berikut 7 fakta pencemaran Bengawan Solo:

1. PDAM setop operasi

Akibat air Bengawan Solo menghitam pekat, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Semanggi, Solo, menyetop produksi. Dirut PDAM Solo, Agustan menerangkan pencemaran terjadi dari hulu yakni tempuran kali Samin.

"Pencemaran dari atas tempuran Kali Samin industri rumah tangga ciu," kata Agustan saat ditemui detikcom di pos pengambilan air di Semanggi, Solo, Selasa (7/9/2021).

2. Warga panen ikan teler

Selain di Solo, Kabupaten Blora juga lagi-lagi menjadi daerah terdampak pencemaran. Namun di tengah pencemaran, warga tetap memanfaatkan situasi itu untuk mencari ikan mabuk atau disebut pladu.

Pencemaran sungai memang membuat ikan-ikan teler dan mengapung di permukaan. Warga pun semakin mudah untuk menangkap ikan.

"Saya dapat info jika ada pladu di bengawan. Saya langsung ke sini untuk menangkap ikan," kata Lilik warga Desa Ngloram, Cepu, kepada detikcom, Rabu (8/9).

3. Ganjar kirim tim

Gubernur Ganjar Pranowo kemudian mengirimkan tim terkait pencemaran di Bengawan Solo akibat industri rumahan alkohol. Ia ingin memastikan siapa pihak yang harus bertanggung jawab terkait pencemaran tersebut.

"Kita cek. Siapa pencemarnya dan sebagainya harus bertanggungjawab," kata Ganjar di Magelang, Rabu (8/9/2021).

4. IPAL komunal tak juga dibangun

Pencemaran tak kunjung membaik, salah satunya karena rencana pembangunan IPAL komunal yang tak kunjung terealisasi. Rencana sejak 2019 itu terkendala pandemi COVID-19.

"Kemarin (pembuatan IPAL komunal industri alkohol) terkendala pandemi, tapi sudah kita ajukan lagi untuk 2022. Harapannya tahun depan sudah selesai," kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jateng, Widi Hartanto saat dijumpai di Solo, Rabu (8/9/2021).

Dia mendata ada 92 industri kecil yang memproduksi alkohol di Sukoharjo. Menurutnya, alkohol memiliki karakteristik limbah yang berbeda sehingga butuh penanganan khusus.

"92 industri itu di Sukoharjo, nanti kita buatkan limbah komunal. Untuk industri ciu (alkohol) karakteristiknya memang berat, membutuhkan biaya yang sangat besar," ujar dia.

5. Ada 4 perusahaan yang terancam pidana

Widi juga menyebut ada 63 perusahaan kelas menengah hingga besar yang ketahuan melanggar aturan terkait pembuangan limbah ke sungai. Namun hanya empat yang masuk kategori berat hingga terancam pidana.

"Ada 63 perusahaan yang sudah kita awasi karena melanggar, kita berikan sanksi. 34 perusahaan sudah memperbaiki, 4 perusahaan kita bawa ke KLHK, sisanya sedang proses perbaikan," kata Widi saat dijumpai di Solo, Rabu (8/9/2021).

"Empat perusahaan ini termasuk bandel. Penegakan hukumnya belum tahu, bisa denda, yang paling tinggi bisa jadi masuk pidana pelanggaran lingkungan. Tapi kalau setelah ini langsung memperbaiki, sanksi kita batalkan," ujar dia.


Ganjar: pencemar seakan menantang pemerintah!