Divonis Hari Ini, Begini Perjalanan Kasus Raja-Ratu Keraton Agung Sejagat

Rinto Heksantoro, Ristu Hanafi - detikNews
Senin, 14 Sep 2020 10:49 WIB
Keraton Agung Sejagat
Ilustrasi Keraton Agung Sejagat. (Ilustrator: Edi Wahyono)
Yogyakarta -

Masih ingat dengan Keraton Agung Sejagat? Kerajaan fiktif yang viral dan menghebohkan publik pada awal tahun 2020 tersebut berujung ke ranah hukum dan menanti vonis hari ini.

Kedua terdakwa, Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41) yang mengklaim diri sebagai Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat awalnya ditetapkan polisi sebagai tersangka kasus penipuan dan keonaran. Proses hukum keduanya saat ini telah memasuki babak akhir, yakni putusan dari pengadilan.

Berikut ini rangkuman perjalanan kasus Keraton Agung Sejagat yang berada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah tersebut:

13 Januari 2020

Viral di media sosial kemunculan kerajaan baru di Purworejo, Jawa Tengah. Kerajaan tersebut menamakan diri Keraton Agung Sejagat (KAS), terletak di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo.

Saat dimintai konfirmasinya, Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong mengecek informasi tersebut dengan memanggil petinggi Keraton Agung Sejagat dan perangkat desa yang nantinya akan dipertemukan dengan Pemda Purworejo.

"Kita nanti akan panggil Totok serta perangkat desa, kita temukan dengan Pemda bagian Penanganan Konflik Sosial (PKS). Nanti kita bahas bersama dengan ahli sejarah Keraton. Jangan sampai nanti terjadi konflik di masyarakat, masyarakat jangan berbuat macam-macam karena masalah yang belum jelas," kata Indra saat dihubungi detikcom, Senin (13/1).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo turut angkat bicara soal Kerajaan Keraton Agung Sejagat yang viral itu.

"Mungkin dari Pemkab Purworejo baik juga ajak komunikasi ke mereka agar mengerti ini apa, mau ke mana dan sebagainya. Jangan sampai orang berpikir ini apa dan jadi pertanyaan di publik," kata Ganjar di kantornya, Jalan Pahlawan, Semarang, Senin (13/1).

14 Januari 2020

Polda Jawa Tengah turun tangan melakukan penyelidikan. Kapolda Jawa Tengah saat itu, Irjen Rycko Amelza Dahniel mengatakan pihaknya sedang mempelajari soal deklarasi Keraton Agung Sejagat.

"Kami sudah mendapatkan informasi dari warga kemudian Kapolres Purworejo bersama dengan jajaran intelijen dan jajaran reserse kriminal umum sudah mempelajari apa yang terjadi di Purworejo sehubungan dengan adanya deklarasi pembentukan Keraton Agung sejagat di Purworejo," kata Rycko di Mapolda Jateng, Semarang, Selasa (14/1).

Selasa (14/1) malam, polisi menangkap Toto Santoso dan Fanni Aminadia yang mengaku sebagai raja dan ratu Keraton Agung Sejagat. Penangkapan dilakukan oleh Ditreskrimum Polda Jawa Tengah.

"Kita amankan keduanya (Toto dan Fanni), (penangkapan) malam ini. Kedua terduga (Toto dan Fanni) diamankan polisi pada pukul 18.00 WIB," kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Iskandar Fitriana Sutisna kepada detikcom, Selasa (14/1/2020).

Polisi turun tangan karena keberadaan Keraton Agung Sejagat memicu keresahan di kalangan masyarakat. Sejumlah saksi telah dimintai keterangannya.

"Dua orang pelaku diduga melakukan perbuatan melanggar Pasal 14 UU RI No 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana 'barang siapa menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat' dan atau Pasal 378 KUHP tentang penipuan," jelas Iskandar.

Sejumlah barang bukti berupa KTP hingga dokumen palsu ikut diamankan dari keduanya.

15 Januari 2020

Hasil pemeriksaan polisi, Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat menjanjikan jabatan dan gaji dalam bentuk dolar kepada pengikutnya. Namun para anggotanya yang bergabung harus menyetor uang pendaftaran.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Iskandar Fitriana Sutisna mengatakan uang dari anggota yang mendaftar berkisar Rp 3 juta sampai Rp 30 juta.

"Mendaftar itu menyerahkan uang. Ada Rp 3 juta, Rp 20 juta, bahkan Rp 30 juta. Mereka diiming-imingi jabatan tinggi dan gaji besar dalam dolar. Ini penipuan publik," kata Iskandar di Mapolda Jateng, Rabu (15/1).

Setelah menjalani pemeriksaan, Toto Santoso dan Fanni Aminadia resmi ditetapkan menjadi tersangka. Keduanya dijerat dengan pasal penipuan dan keonaran.

"Dari aspek yuridis yang menjadi bidang kami, kami sudah menemukan bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan tahap ke penyidikan. Tanggal 14 (Januari) kemarin sudah ditetapkan tersangka," kata Kapolda Jawa Tengah saat itu, Irjen Rycko Amelza Dahniel saat jumpa pers di Mapolda Jateng, Semarang, Rabu (15/1).

"Bukti permulaan yang kami temukan adanya motif untuk melakukan menarik dana dari masyarakat, iuran, dengan cara-cara tipu daya dengan menggunakan simbol-simbol kerajaan, menawarkan harapan baru, sehingga orang tertarik menjadi pengikutnya," jelas Rycko.

Polisi mengungkap aneka bujuk rayu dilancarkan Toto dan Fanni untuk merekrut para punggawanya. Salah satunya janji mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bebas dari malapetaka.

Selain itu, Toto mengaku mendapatkan wangsit untuk mendirikan kelanjutan Kerajaan Mataram, yang berpusat di Kecamatan Bayan, Purworejo. Untuk meyakinkan para korban, Toto juga berbekal berbagai kartu-kartu yang bertulisan 'PBB United Nations'.

Selain itu, ternyata Toto dan Fanni bukan merupakan pasangan suami-istri (pasutri) yang sah.

Tonton juga video 'Membuka Selubung Keraton Agung Sejagat':

[Gambas:Video 20detik]