Percaya Nggak Percaya, Ini Cerita Mistis Seputar Makam Mbah Precet

Kartika Bagus - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 18:50 WIB
Bicara soal makam yang terletak di lokasi tak biasa, ternyata ada juga di Kota Solo. Tepatnya di pinggir jalan kampung Teposanan, Kelurahan Sriwedari, Solo.
Makam Mbah Precet di pinggir jalan kampung Solo. (Foto: Kartika Bagus)

Makam Mbah Precet ini biasa ramai pada hari Selasa dan Jumat. Biasanya sekitar pukul 21.00 WIB ada orang yang datang untuk berdoa maupun menebar bunga di makam tersebut.

Lokasi makam Mbah Precet mulanya merupakan bekas area pemakaman. Makam-makam di area tersebut kemudian dipindah ke lokasi lain pada sekitar tahun 1980-an. Hanya satu makam yang akhirnya tidak dipindah, yakni makam Mbah Precet.

Sebelumnya, Ketua Komunitas Sejarah di Solo yakni Solo Societeit, Dhani Saptoni, mengatakan berdasar cerita masyarakat, Mbah Precet ini seorang bromocorah atau penjahat.

"(Mbah Precet) Yang dihukum mati kemudian dimakamkan di situ, dan pada zaman dahulu di sekitar lokasi itu sangat angker," kata Dhani.

Bicara soal makam yang terletak di lokasi tak biasa, ternyata ada juga di Kota Solo. Tepatnya di pinggir jalan kampung Teposanan, Kelurahan Sriwedari, Solo.Potret Makam Bertabur Bunga di Pinggir Jalan Kampung Solo Foto: Kartika Bagus

Namun, lanjut Dhani kalau dilihat dari toponimi atau asal usul penamaan wilayah, kata Dhani, arti Precet adalah orang kecil. Dhani menceritakan Kampung Teposonan tempat Mbah Precet dimakamkan, ada tiga tokoh penting yang menjadi penanda Kampung Teposonan.

"Yakni Teposono 1 di era Panembahan Senopati, awal Kerajaan Mataram Islam. Teposono ke-2 adalah putra Amangkurat IV adalah ayah dari RM Garendi (Sunan Kuning) pemimpin pemberontakan Geger Pecinan di Kartasura, karena sakit hati terhadap peristiwa hukuman mati ayahnya. Sementara yang terakhir adalah Teposono 3 putra dari Paku Buwono ke-4", urainya.

"Lantas pertanyaannya, apa hubungan Kiai Precet dengan dua tokoh Teposono ini, yang jelas ketiganya sama-sama dihukum mati. Dan semuanya adalah tokoh yang menjadi legenda di bumi Mataram," lanjut Dhani.

Halaman

(ams/sip)