Puluhan anak muda Nepal berkumpul di gedung parlemen yang hangus terbakar pada Selasa (8/9) waktu setempat. Aksi ini untuk memperingati setahun unjuk rasa antikorupsi mematikan yang menggulingkan pemerintahan sebelumnya.
Aksi tersebut, seperti dilansir AFP, Selasa (8/9/2026), juga dimaksudkan untuk mengenang mereka yang tewas dalam unjuk rasa tersebut, di tengah suasana duka yang menyelimuti negara tersebut akibat banyaknya korban jiwa dalam banjir bandang dahsyat yang menerjang dua pekan lalu.
Unjuk rasa yang digelar pada 8-9 September 2025 lalu itu awalnya dipicu oleh kemarahan terhadap larangan sementara pemerintah terhadap media sosial, namun kemudian meluas didorong oleh rasa frustrasi yang lebih mendalami akibat kesulitan ekonomi, korupsi, dan praktik politik yang mengakar.
Aksi protes yang diwarnai kerusuhan itu menewaskan sedikitnya 76 orang dan berujung pada pembakaran gedung parlemen di Kathmandu, juga pada kantor Perdana Menteri (PM) dan gedung-gedung pemerintahan lainnya.
Unjuk rasa tersebut juga melengserkan pemerintahan PM KP Sharma Oli, yang kemudian memicu serangkaian kejadian hingga terpilihnya PM muda, Balendra Shah, pada Maret lalu.
"Hilangnya nyawa tentu saja merupakan hal yang mengerikan. Tetapi dampaknya terhadap politik sepadan, kita telah melihat adanya perubahan," kata mantan demonstran, Aastha Shrestha (23), di lokasi bangunan yang telah hancur tersebut.
"Rasanya pemerintah (saat ini) menghargai pengorbanan yang telah kami lakukan," ucapnya kepada AFP.
Spanduk-spanduk yang menampilkan foto-foto orang yang tewas dalam unjuk rasa tersebut dipasang di area gedung parlemen.
(nvc/ita)