Balen, dari Sosok Pemberontak Jadi Perdana Menteri Nepal

Balen, dari Sosok Pemberontak Jadi Perdana Menteri Nepal

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 16 Mar 2026 16:01 WIB
Balen, dari Sosok Pemberontak Jadi Perdana Menteri Nepal
Jakarta -

Ribuan orang turun ke jalan di Damak, Distrik Jhapa di Nepal timur, pada malam 7 Maret. Mereka berlari mengikuti sebuah mobil yang bergerak pelan dalam suasana penuh kegembiraan, perayaan, dan harapan.

Sorakan mereka semakin keras setiap kali sosok pria yang berdiri melalui sunroof mobil itu mengangkat tangannya atau menyapa kerumunan dengan kedua telapak tangan yang dirapatkan.

"Balen! Balen! Balen!" teriak mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di pusat euforia itu adalah Balendra Shah, lebih dikenal sebagai Balen. Pada usia 35 tahun, mantan Wali Kota Kathmandu itu muncul sebagai salah satu tokoh politik nasional yang paling tak terduga. Bagi banyak orang, ia adalah calon perdana menteri Nepal.

Pada Jumat (13/03), Komisi Pemilihan Nepal mengonfirmasi kemenangan telak Balen dan partainya, Rastriya Swatantra Party (RSP).

ADVERTISEMENT

Kemenangannya ke panggung nasional jauh dari kata konvensional.

Kemenangan maksimal bagi kandidat yang minimalis

Kesuksesan Balen Shah ditandai strategi yang tidak biasa: minim berbicara. Ia jarang tampil di publik atau terlibat dalam interaksi panjang dengan media. Ketika berbicara, ia memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, sebuah sikap yang oleh para analis dianggap sebagai strategi kampanye yang disengaja.

Dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitam khasnya, Balen berkeliling ke berbagai daerah pemilihan untuk bertemu langsung dengan para pemilih. Kadang ia menyetir sendiri menuju lokasi kampanye. Di kesempatan lain, ia berjalan di tengah para pendukungnya. Ia melambaikan tangan, berjabat tangan, mendengarkan warga, dan mencicipi kuliner lokal. Namun, ia secara konsisten menghindari pidato panjang dan janji-janji besar.

Selain beberapa kampanye, penampilannya di depan publik biasanya singkat. Ketika berbicara menyapa massa, Balen mengandalkan dialek lokal atau pernyataan pendek untuk menjalin kedekatan dengan para pemilih.

Hasil pemilu menunjukkan bahwa pendekatan minimalis ini berhasil. Balen dan partainya meraih kemenangan telak. Dari 275 kursi di parlemen Nepal, RSP memenangkan 182 kursi.

Bagi banyak pemilih, yang penting bukan hanya siapa sosok Balen, tetapi juga bahwa ia bukan bagian dari elite lama yang kerap dianggap korup dan mementingkan diri sendiri.

"Balen telah memberi harapan kepada kaum muda, ia mendapat kepercayaan mereka. Ia tidak terlibat dalam korupsi di Nepal," kata seorang pemilih kepada DW.

Bahkan saat menang, Balen tetap mempertahankan sikapnya yang pendiam. Berdiri melalui sunroof kendaraannya, ia merapatkan kedua tangan sebagai tanda terima kasih. Lalu ia mengangkat sebuah poster yang bertuliskan: "Kalian yang pantas mendapat ucapan selamat. Kemenangan ini milik kalian."

Efek Balen

Seorang insinyur struktur secara profesi serta penyair dan raper sebagai passion, Balen bergabung dengan RSP tidak lama sebelum pemilu dan dengan cepat menjadi salah satu pemimpin senior partai tersebut. Partai itu bahkan mengumumkannya sebagai kandidat perdana menteri.

Para analis mengatakan popularitas pribadinya menjadi faktor penentu.

"Kemenangan telak RSP sebagian besar berpusat pada Balen," kata analis politik Krishna Khanal kepada DW.

"Begitu partai itu mempresentasikannya sebagai kandidat perdana menteri, dampaknya terhadap pemilih sangat kuat," lanjut Khanal.

Lanskap politik Nepal sebenarnya telah berubah jauh sebelum pemungutan suara. September lalu, sebuah "gerakan Gen Z" berskala nasional yang dipicu kemarahan terhadap korupsi dan buruknya tata kelola pemerintahan, memaksa perdana menteri saat itu, KP Sharma Oli, untuk mundur. Presiden Ram Chandra Paudel kemudian menunjuk pemerintahan sementara sebagai penggantinya.

Saat itu, banyak aktivis awalnya mendorong Balen untuk memimpin pemerintahan sementara tersebut.

"Namun, ketika ia justru mendukung mantan Ketua Mahkamah Agung Sushila Karki, popularitasnya semakin meningkat," kata Khanal.

Langkah ini dipandang sebagai manuver taktis yang memungkinkan Balen menghindari peran kepemimpinan secara langsung, dan fokus pada pemilu.

Menantang dominasi kelompok lama

Banyak pengamat memperkirakan Balen akan maju sebagai calon anggota parlemen dari Kathmandu, tempat ia membangun dukungan kuat selama menjabat sebagai wali kota. Namun, ia justru mengumumkan pencalonannya dari daerah pemilihan Jhapa 5, sekitar 330 kilometer di timur ibu kota.

Selama beberapa dekade, distrik tersebut dikenal sebagai basis politik mantan perdana menteri KP Sharma Oli. Sebelum pemilu ini, Oli telah mengikuti tujuh pemilihan di berbagai daerah pemilihan di Jhapa dan memenangkan enam di antaranya. Ia juga pernah menjabat empat kali sebagai perdana menteri Nepal.

Namun, lanskap politik berubah setelah protes gen Z.

Ketika suara dihitung, Balen meraih kemenangan telak dengan 68.348 suara, mengalahkan Oli yang memperoleh 18.734 suara.

Menurut analis Krishna Khanal, hasil tersebut menegaskan meningkatnya frustrasi publik terhadap kekuatan politik arus utama. "Masyarakat sudah lelah dengan partai-partai lama karena kinerja mereka yang buruk dan citra korup yang melekat," ujarnya.

Perjalanan politik yang singkat

Dibandingkan dengan tokoh-tokoh politik senior di Nepal, kenaikan Balen terbilang sangat cepat. Ia memasuki politik elektoral pada pemilihan lokal 2022, dengan mencalonkan diri sebagai kandidat independen untuk Wali Kota Kathmandu. Mengalahkan kandidat dari partai-partai besar, ia menang dan menjadi wali kota independen pertama di ibu kota tersebut.

Selama masa jabatannya, sejumlah inisiatif mendapat sambutan publik, termasuk reformasi di sekolah komunitas, program beasiswa, pengelolaan parkir, serta upaya pelestarian situs-situs warisan arkeologis.

Namun, laporan kinerja dari National Natural Resources and Fiscal Commission menempatkan Kathmandu di posisi terbawah di antara enam kota metropolitan di Nepal, berdasarkan indikator seperti pengelolaan anggaran dan efisiensi administrasi. Meski begitu, para analis menilai gaya kepemimpinan Balen yang turun langsung ke lapangan membantu menjaga daya tariknya di mata publik.

"Banyak pemilih muda menilai politisi bukan dari prinsip politiknya, tetapi dari tindakan yang terlihat," kata Khanal.

Pada 2025, Balen memasuki politik nasional meskipun masa jabatannya sebagai wali kota masih tersisa lebih dari satu tahun.

Suara politik seorang penyair pemberontak

Sebelum terjun ke politik, Balen sudah dikenal oleh penikmat musik karena nada pemberontaknya. Sebagai penyair dan raper, ia kerap mengkritik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketimpangan sosial.

Setelah mengikuti berbagai duel rap pada 2013, ia terus mengembangkan karier musiknya. Menurut Asim Shah, latar belakang artistik ini membantu membentuk kesadaran politiknya.

"Lagu dan puisinya sama lugasnya dengan cara ia berbicara," kata Shah.

Para pendukungnya berpendapat bahwa tema-tema yang ia angkat dalam musik, seperti tata kelola pemerintahan yang baik, transparansi, dan perubahan sosial, kemudian tercermin dalam kebijakannya saat menjabat sebagai wali kota.

Namun, ia juga menghadapi kritik atas tindakannya terhadap pedagang kaki lima serta unggahan media sosial yang dinilai agresif atau kontroversial.

Dari jalanan Kathmandu ke kursi perdana menteri

Dengan Rastriya Swatantra Party berhasil mengamankan mayoritas di parlemen, jalan Balen menuju kursi perdana menteri kini tampak hampir pasti. Namun, para analis memperingatkan bahwa tantangan terbesar justru berada di depan.

"Pemerintahan mayoritas tidak memberi ruang untuk alasan. Balen dan kabinetnya harus benar-benar bekerja dan memberikan hasil," kata analis politik Khanal.

Perjalanannya dari raper pemberontak menjadi insinyur, wali kota independen, dan kini calon perdana menteri telah memikat perhatian banyak orang di Nepal.

Namun, seperti yang dikatakan Asim Shah: "Suara yang dulu menggema di jalan-jalan Kathmandu kini akan bergema di dalam parlemen. Balen dikenal karena keberaniannya mengajukan pertanyaan. Sekarang, pekerjaannya adalah memberikan jawaban."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Cinta Zanidya

Editor: Hani Anggraini

Tonton juga video "Habis Digulingkan Gen Z, Eks PM Nepal Maju Lagi di Pemilu"

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads