Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan untuk mengubah nama negara bagian New Mexico, yang ada di wilayah AS sendiri, menjadi "New America". Otoritas Iran mengumumkan kenaikan harga bensin imbas langkah AS memperketat sanksi untuk mengisolasi perekonomian Teheran.
Dalam usulannya, Trump menyebut "NEW AMERICA" lebih bergengsi untuk menyebut negara bagian New Mexico. Usulan itu ditolak Gubernur New Mexico, Michelle Lujan Grisham, yang menyebut Trump hanya ingin "mengalihkan perhatian rakyat Amerika" dari berbagai masalah, seperti lonjakan harga bahan bakar.
Sementara itu, kenaikan harga bensin hanya berlaku bagi para konsumen di Iran yang memiliki tingkat penggunaan tinggi. Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengumumkan bahwa harga bensin untuk tingkat ketiga -- penggunaan di atas 110 liter -- naik dua kali lipat menjadi 10.000 Toman per liter, dari tadinya 5.000 Toman per liter. Satu Toman setara dengan 10 Rial Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Senin (7/9/2026):
- Berulah Lagi, Trump Usul Ganti Nama New Mexico Jadi 'New America'
Kegemaran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengubah nama lokasi atau wilayah belum berakhir. Yang terbaru, Trump mengusulkan agar nama negara bagian New Mexico, yang ada di wilayah AS sendiri, diganti menjadi "New America".
Usulan ini, seperti dilansir AFP, Senin (7/9/2026), dicetuskan beberapa hari setelah Trump menandatangani perintah eksekutif terbarunya untuk mengganti nama Danau Ontario, yang terletak di perbatasan AS dan Kanada, menjadi "Danau Amerika" di tengah perang dagang kedua negara.
Usulan terbaru Trump itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Gubernur New Mexico, Michelle Lujan Grisham.
- Terhimpit Tekanan Ekonomi AS, Iran Naikkan Harga Bensin
Otoritas Iran mengumumkan kenaikan harga bensin bagi para konsumen yang memiliki tingkat penggunaan tinggi. Pengumuman ini menyusul langkah Amerika Serikat (AS) yang memperketat sanksi untuk mengisolasi perekonomian Teheran, saat konflik kedua negara terus berlarut-larut.
Sistem kuota Iran menetapkan harga bensin dalam tiga tingkatan, yakni 1.500 Toman per liter untuk 60 liter pertama yang digunakan dalam satu bulan, kemudian 3.000 Toman per liter untuk 50 liter berikutnya, dan 5.000 Toman per liter untuk jumlah penggunaan di atas itu.
Toman merupakan satuan hitung dan mata uang informal yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari di Iran. Satu Toman setara dengan 10 Rial Iran.
- Kim Jong Un Bertekad Bangun Angkatan Laut Bersenjata Nuklir
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un bertekad untuk menjadikan Angkatan Laut Korut menjadi kekuatan militer bersenjatakan nuklir. Tekad ini disampaikan saat Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya menggelar latihan maritim gabungan pekan ini.
Latihan maritim pekan ini, yang melibatkan AS, Korea Selatan (Korsel) dan Jepang, merupakan latihan gabungan yang digelar sejak tahun 2023 lalu sebagai upaya, menurut para pejabat negara tersebut, untuk menangkal ancaman rudal dan nuklir Korut.
Tekad Kim Jong Un itu, seperti dilansir AFP, Senin (7/9/2026), disampaikan saat menghadiri peresmian kapal perang Kang Kon -- kapal perang Korut yang sempat miring dan hampir terbalik saat diluncurkan pada Mei 2025 -- di kota pelabuhan Wonsan pada Minggu (6/9) waktu setempat.
- Malaysia Cabut Status Darurat Kabut Asap di Sarawak Imbas Karhutla RI
Otoritas Malaysia mencabut status darurat kabut asap di negara bagian Sarawak pada Senin (7/9) waktu setempat. Namun dinyatakan juga bahwa tingkat polusi udara di wilayah tersebut masih terdeteksi pada level "sangat tidak sehat", imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia.
Otoritas Kuala Lumpur, seperti dilansir AFP, Senin (7/9/2026), mengumumkan penetapan status darurat di Sarawak pada Jumat (4/9) pekan lalu, setelah mendapat persetujuan Raja Malaysia, Sultan Ibrahim.
Penetapan itu menyusul situasi kritis di area Serian, yang berjarak 65 kilometer di sebelah selatan Kuching, ibu kota Sarawak.
- Iran Siap Beri Balasan yang 'Lebih Menyakitkan' Jika AS Terus Menyerang
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengancam serangan pembalasan yang lebih dahsyat jika Amerika Serikat (AS) terus melanjutkan serangan terhadap negaranya. Ghalibaf menegaskan bahwa era untuk serangan pembalasan yang proporsional "telah berakhir".
Ancaman terbaru ini, seperti dilansir AFP, Senin (7/9/2026), disampaikan Ghalibaf setelah Teheran menyerang kapal-kapal perang AS di Selat Hormuz, untuk membalas serangan pasukan Amerika terhadap kapal-kapal tanker Iran.
Aksi saling serang tersebut, yang diawali oleh serangan skala besar AS pekan lalu, terjadi di tengah kebuntuan dalam konflik yang telah berkecamuk selama enam bulan terakhir antara kedua negara.










































