Terhimpit Tekanan Ekonomi AS, Iran Naikkan Harga Bensin

Terhimpit Tekanan Ekonomi AS, Iran Naikkan Harga Bensin

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 07 Sep 2026 11:48 WIB
Antrean panjang kendaraan di salah satu pom bensin di Teheran, ibu kota Iran pada akhir Agustus lalu setelah AS menjatuhkan rentetan sanksi terbaru (dok. AFP)
Antrean panjang kendaraan di salah satu pom bensin di Teheran, ibu kota Iran pada akhir Agustus lalu setelah AS menjatuhkan rentetan sanksi terbaru (dok. AFP)
Teheran -

Otoritas Iran mengumumkan kenaikan harga bensin bagi para konsumen yang memiliki tingkat penggunaan tinggi. Pengumuman ini menyusul langkah Amerika Serikat (AS) yang memperketat sanksi untuk mengisolasi perekonomian Teheran, saat konflik kedua negara terus berlarut-larut.

Sistem kuota Iran menetapkan harga bensin dalam tiga tingkatan, yakni 1.500 Toman per liter untuk 60 liter pertama yang digunakan dalam satu bulan, kemudian 3.000 Toman per liter untuk 50 liter berikutnya, dan 5.000 Toman per liter untuk jumlah penggunaan di atas itu.

Toman merupakan satuan hitung dan mata uang informal yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari di Iran. Satu Toman setara dengan 10 Rial Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, seperti dilansir AFP, Senin (7/9/2026), mengumumkan pada Minggu (6/9) bahwa harga untuk tingkat ketiga akan naik dua kali lipat menjadi 10.000 Toman per liter.

"Tarifnya akan naik menjadi 10.000 Toman mulai pagi hari, tanggal 8 September," kata Mohajerani dalam pernyataan yang dirilis media pemerintah Iran.

"Berbagai angka sempat dibahas dalam pertemuan para ahli, namun karena presiden (Masoud Pezeshkian-red) telah berjanji kepada masyarakat, maka ditetapkanlah tarif 10.000 Toman," ucapnya.

Dalam pernyataan lanjutan, Mohajerani menyatakan bahwa harga bensin untuk tingkat pertama dan kedua tidak akan berubah.

Iran, yang merupakan produsen minyak utama dengan harga bahan bakar yang termasuk paling murah di dunia, telah bertahun-tahun memberikan subsidi besar untuk bensin. Hal ini membuat setiap perubahan harga menjadi isu sensitif secara politik.

Perkembangan ini terjadi saat kondisi mata uang Iran diperdagangkan di pasar gelap, pada Minggu (6/9), dengan nilai tukar mencapai lebih dari 2,2 juta Rial Iran per dolar Amerika. Angka itu didasarkan pada situs-situs yang memantau nilai tukar mata uang tersebut.

Sebelum perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari lalu, nilai tukar Rial Iran berada pada kisaran 1,7 juta Rial Iran per dolar Amerika. Pada akhir April, nilai tukarnya sempat menyentuh rekor terendah, yakni 1,8 juta Rial Iran per dolar Amerika.

Akhir bulan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memaparkan rencana untuk "mencekik perekonomian" Iran, dengan harapan dalam menggunakan tekanan finansial untuk mempercepat berakhirnya perang.

Langkah-langkah baru ini melengkapi rezim sanksi yang telah diterapkan oleh AS dan sekutunya sejak tahun 2018, ketika Presiden AS Donald Trump menarik negaranya keluar dari kesepakatan internasional dengan Iran terkait program nuklirnya.

AS juga memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dalam upaya menekan ekspor minyak negara tersebut hingga ke angka nol.

Lihat juga Video Iran Balas Serangan AS, Kapal Induk & Kapal Perusak Jadi Sasaran

Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini