Bentrokan sengit antara kelompok pemberontak Houthi dan pasukan pemerintah Yaman di wilayah barat daya Yaman terus berlanjut hingga akhir pekan. Jumlah korban tewas dalam bentrokan, yang diwarnai penyerbuan Houthi terhadap akses menuju Laut Merah yang strategis itu, bertambah melampaui 300 orang.
Ratusan keluarga dilaporkan terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka demi menyelamatkan diri dari rentetan kekerasan tersebut.
Kedua kubu, seperti dilansir AFP, Senin (7/9/2026), telah bertempur selama berhari-hari demi menguasai akses menuju ke Laut Merah. Ini menjadi eskalasi konflik yang paling mematikan di Yaman sejak gencatan senjata yang disepakati tahun 2022, runtuh pada Juli.
Bentrokan sengit itu berawal ketika Houthi melancarkan serangan pada Kamis (3/9) pekan lalu, dengan tujuan memutus akses ke kota pelabuhan Mokha, yang dikuasai pasukan pemerintah Yaman dan telah digempur selama berminggu-minggu.
Pasukan Houthi juga terus bergerak maju ke area-area yang berbatasan dengan Selat Bab al-Mandeb, gerbang masuk selatan di perairan Laut Merah.
Seorang pejabat militer pemerintah Yaman mengatakan kepada AFP bahwa pada Sabtu (5/9) malam, pasukan Houthi berhasil "memutus ruas jalanan yang menghubungkan Taiz dengan Mokha".
Berdasarkan data yang dihimpun AFP dari berbagai sumber militer dan medis dari kedua kubu yang berkonflik, lebih dari 300 kombatan dan sejumlah warga sipil tewas sejak dimulainya serangan Houthi tersebut.
Laporan terpisah oleh dua pejabat militer dari pasukan pemerintah Yaman, yang didukung Arab Saudi, menyebutkan bahwa sedikitnya 84 tentara mereka tewas dalam bentrokan antara Sabtu (5/9) siang hingga Minggu (6/9) dini hari. Sebagian besar tentara Yaman itu tewas akibat serangan rudal Houthi.
(nvc/dhn)