Bentrokan Sengit Houthi vs Pasukan Yaman Berlanjut, 300 Orang Tewas

Bentrokan Sengit Houthi vs Pasukan Yaman Berlanjut, 300 Orang Tewas

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 07 Sep 2026 12:42 WIB
Para pendukung Houthi di Yaman (dok. REUTERS/Khaled Abdullah)
Para pendukung Houthi di Yaman (dok. REUTERS/Khaled Abdullah)
Sanaa -

Bentrokan sengit antara kelompok pemberontak Houthi dan pasukan pemerintah Yaman di wilayah barat daya Yaman terus berlanjut hingga akhir pekan. Jumlah korban tewas dalam bentrokan, yang diwarnai penyerbuan Houthi terhadap akses menuju Laut Merah yang strategis itu, bertambah melampaui 300 orang.

Ratusan keluarga dilaporkan terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka demi menyelamatkan diri dari rentetan kekerasan tersebut.

Kedua kubu, seperti dilansir AFP, Senin (7/9/2026), telah bertempur selama berhari-hari demi menguasai akses menuju ke Laut Merah. Ini menjadi eskalasi konflik yang paling mematikan di Yaman sejak gencatan senjata yang disepakati tahun 2022, runtuh pada Juli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bentrokan sengit itu berawal ketika Houthi melancarkan serangan pada Kamis (3/9) pekan lalu, dengan tujuan memutus akses ke kota pelabuhan Mokha, yang dikuasai pasukan pemerintah Yaman dan telah digempur selama berminggu-minggu.

Pasukan Houthi juga terus bergerak maju ke area-area yang berbatasan dengan Selat Bab al-Mandeb, gerbang masuk selatan di perairan Laut Merah.

Seorang pejabat militer pemerintah Yaman mengatakan kepada AFP bahwa pada Sabtu (5/9) malam, pasukan Houthi berhasil "memutus ruas jalanan yang menghubungkan Taiz dengan Mokha".

Berdasarkan data yang dihimpun AFP dari berbagai sumber militer dan medis dari kedua kubu yang berkonflik, lebih dari 300 kombatan dan sejumlah warga sipil tewas sejak dimulainya serangan Houthi tersebut.

Laporan terpisah oleh dua pejabat militer dari pasukan pemerintah Yaman, yang didukung Arab Saudi, menyebutkan bahwa sedikitnya 84 tentara mereka tewas dalam bentrokan antara Sabtu (5/9) siang hingga Minggu (6/9) dini hari. Sebagian besar tentara Yaman itu tewas akibat serangan rudal Houthi.

Sementara itu, empat sumber militer Houthi menyebutkan bahwa 57 petempur mereka tewas dalam periode yang sama.

Sebelum periode itu, dilaporkan sedikitnya 81 orang tewas dalam bentrokan yang sama.

Pada Sabtu (5/9) waktu setempat, keluarga-keluarga yang melarikan diri dari pertempuran di Maqbanah dan Kabal Habasi, yang masuk area Taiz, mencari perlindungan di kamp pengungsi internal Al-Bareen.

Kemudian pada Minggu (6/9), para jurnalis AFP di Yaman menyaksikan orang-orang yang pengungsi mendirikan tempat penampungan darurat di kamp lainnya di area yang sama.

"Tembakan datang ke arah kami dari atas dan dari bawah. Mereka mengepung kami dari segala arah, kami melarikan diri bersama anak-anak kami, bahkan tanpa sempat mengenakan sepatu," tutur Rawdhah Hasan, seorang wanita Yaman yang mengungsi dari Maqbanah.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk koordinasi kemanusiaan, OCHA, memperkirakan bahwa sedikitnya 1.790 keluarga terpaksa mengungsi akibat "serangan artileri dan bentrokan sengit" di distrik Maqbanah dan Jabal Habashi.

Juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan "keprihatinan mendalam atas bentrokan militer yang sedang berlangsung" di Yaman dan memperingatkan "dampak buruk di bidang politik, ekonomi, dan keamanan bagi Yaman dan rakyatnya".

Secara terpisah, seorang pejabat militer dari pemerintah Yaman yang diakui internasional, dan berbasis di Aden, mengatakan bahwa bentrokan mulai mereda pada Minggu (6/9) dini hari. Dia mengklaim pasukan pemerintah "berhasil menguasai posisi di sebelah utara Hays setelah bergerak maju di wilayah tersebut" -- merujuk pada garis depan pertempuran yang terletak kurang dari 30 kilometer dari pesisir Laut Merah.

Namun dia juga menambahkan bahwa Houthi bergerak maju ke sebelah barat Taiz, yang ada di selatan Hays, dalam upaya menuju ke Bab al-Mandeb.

Menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran, titik perlintasan Selat Bab al-Mandeb yang strategis menjadi semakin penting sebagai jalur alternatif. Selat tersebut menghubungkan Asia dengan Eropa melalui Terusan Suez.

Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini