Milisi Houthi di Yaman merebut kota pelabuhan Mokha pada hari Kamis (10/09), memicu kekhawatiran bahwa negara itu dapat kembali mengalami perang saudara.
Mokha terletak sekitar 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Laut Merah telah menjadi jalur alternatif utama bagi Selat Hormuz, yang pelayarannya terganggu akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. Gangguan tersebut turut mengakibatkan lonjakan harga minyak dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara Houthi, Abdulsalam, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kebebasan navigasi dan perdagangan internasional di Laut Merah serta selat tersebut tetap aman. Menurutnya, operasi Houthi hanya ditujukan pada target-target tertentu.
Sebelumnya, Houthi pernah menyerang kapal-kapal internasional di Laut Merah. Mereka menyatakan tindakan itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza.
Di sisi lain, pemberontak Houthi menuduh Arab Saudi melancarkan serangan udara di Provinsi Taiz, wilayah barat daya Yaman.
"Musuh Saudi melancarkan 10 serangan di Distrik Dhubab, Taiz bagian barat," demikian laporan media televisi Al-Masirah milik Houthi, yang dikutip AFP.
Dhubab berada tepat di selatan Mokha.
Pertempuran antara Houthi dan pemerintah Yaman
Dalam beberapa bulan terakhir, pertempuran antara Houthi dan pemerintah Yaman, yang diakui secara internasional, makin intensif. Situasi ini terjadi setelah sekitar empat tahun relatif tenang, sementara Houthi meningkatkan upaya untuk memperkuat kendali mereka atas wilayah pesisir negara tersebut.
Perebutan Mokha menjadi keberhasilan terbesar Houthi sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB berlaku pada 2022.
Saat ini kelompok Houthi yang didukung Iran menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, serta sebagian besar wilayah padat penduduk di bagian utara dan barat negara tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Yaman berkedudukan di Kota Aden dan mendapat dukungan kuat dari Arab Saudi. Perang saudara di Yaman telah menewaskan lebih dari 150.000 orang serta membuat jutaan warga menghadapi risiko kelaparan.
Warga Mokha melarikan diri ke selatan
Tiga dokter mengatakan kepada Associated Press (AP) bahwa mereka meninggalkan sebuah rumah sakit di Mokha setelah daerah itu dikuasai Houthi. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurut para dokter tersebut, banyak warga lain juga melarikan diri ke arah selatan menuju Kota Aden.
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi terus memperluas pengaruhnya di Provinsi Taiz, wilayah tempat Kota Mokha berada. Informasi tersebut disampaikan oleh Ahmed al-Mawazi, anggota angkatan bersenjata Yaman, dan Abdel Kader al-Sharabi, anggota pasukan pendukung pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Keduanya mengatakan bahwa pemberontak Houthi telah menguasai wilayah al-Shaqira di Taiz, yang merupakan jalur pasokan penting bagi pasukan pemerintah Yaman di bagian selatan Hodeida.
Menurut Baraa Shiban, peneliti di Royal United Services Institute di London, wilayah pegunungan di sekitar Taiz memberikan posisi strategis bagi Houthi karena dapat mengawasi pantai barat Yaman.
Shiban menambahkan, Houthi berpotensi membuat pelayaran di Laut Merah menjadi lebih berbahaya dengan menanam ranjau laut, seperti yang pernah dilakukan Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Farea al-Muslimi, peneliti Chatham House, mengatakan bahwa perebutan Mokha dapat memberi Iran tambahan pengaruh dalam negosiasinya dengan Amerika Serikat.
Yaman minta bantuan internasional untuk menghadapi Houthi
"Perang yang kembali pecah ini seharusnya mengkhawatirkan kita semua," kata utusan khusus PBB untuk Yaman dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB pada Kamis (10/09).
Menurut utusan tersebut, Hans Grundberg, situasi saat ini secara efektif menandai berakhirnya masa tenang yang relatif telah berlangsung lebih dari empat tahun sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB.
Grundberg mendesak komunitas internasional untuk menangani "fase baru yang lebih berbahaya" ini. Ia memperingatkan bahwa jika tidak dikendalikan, dampaknya tidak akan terbatas hanya di dalam wilayah Yaman.
Duta Besar Yaman untuk PBB, Abdullah Al-Saadi, mengatakan bahwa terbentuknya satu negara Yaman yang memiliki monopoli atas senjata dan kedaulatan penuh di seluruh wilayah negara merupakan jaminan mendasar bagi keamanan Yaman, Arab Saudi, dan kawasan sekitarnya.
Ia meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengecam eskalasi militer yang dilakukan Houthi dan menerapkan langkah-langkah yang melarang pasokan senjata, komponen, teknologi, serta keahlian militer kepada kelompok tersebut, yang menurutnya terus memperburuk konflik.
Duta Besar Arab Saudi untuk PBB, Abdulaziz Alwasil, menegaskan bahwa negaranya tetap mendukung perdamaian di Yaman. Namun, ia menambahkan bahwa Arab Saudi akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah serangan-serangan Houthi.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Hani Anggraini
Editor: Adelia Dinda Sani
Tonton juga video "Baku Tembak Tentara Yaman dan Pasukan Houthi"
(ita/ita)









































