5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 11 Mei 2026 17:37 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: AFP/FABRICE COFFRINI)
Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: AFP/FABRICE COFFRINI)
Jakarta -

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa pengerahan pasukan Prancis ke Selat Hormuz "tidak pernah dipertimbangkan" tanpa adanya "koordinasi dengan Iran". Penegasan ini disampaikan setelah Teheran memperingatkan bahwa kehadiran kapal Prancis di Selat Hormuz akan direspons secara tegas.

Macron dalam pernyataannya, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (11/5/2026), juga menegaskan kesiapan Prancis untuk mendukung upaya-upaya yang bertujuan memulihkan lalu lintas maritim di jalur perairan strategis tersebut, saat kapal induk Charles de Gaulle berlayar ke Laut Merah bagian selatan.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Senin (11/5/2026):

- Ada soal Kompensasi-Selat Hormuz di Proposal Iran yang Ditolak Trump

Iran mengajukan proposal balasan untuk merespons rencana perdamaian yang diajukan Amerika Serikat (AS). Dalam proposalnya, Iran menuntut kompensasi penuh atas kerusakan perang dari AS dan menekankan agar kedaulatan Teheran atas Selat Hormuz Diakui.

Proposal terbaru Iran itu, seperti dilaporkan Press TV dan Anadolu Agency, Senin (11/5/2026), juga menuntut dicabutnya semua sanksi yang menjerat Teheran dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Proposal balasan Teheran itu diajukan melalui mediator Pakistan dan diteruskan kepada AS pada Minggu (10/5) waktu setempat.

- Mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra Bebas dari Penjara

Mantan Perdana Menteri (PM) Thailand, Thaksin Shinawatra, dibebaskan lebih awal dari penjara di Bangkok, ibu kota Thailand pada hari Senin (11/5).

Miliarder telekomunikasi berusia 76 tahun itu telah menjalani hukuman delapan bulan dari vonis satu tahun penjara karena korupsi. Dia akan diwajibkan mengenakan alat pemantau elektronik selama masa percobaan empat bulannya.

Dilansir kantor berita AFP, Senin (11/5/2026), Thaksin memeluk anggota keluarganya di luar penjara, di mana ratusan pendukung yang mengenakan kemeja merah khas mereka, berkumpul. Beberapa di antaranya meneriakkan "kami mencintai Thaksin".

- Netanyahu Bilang Perang Iran Belum Berakhir, Uranium Harus Dihilangkan

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasokan uranium yang diperkaya milik Iran harus "dihilangkan", sebelum perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran dapat dianggap berakhir.

"Ini belum berakhir, karena masih ada material nuklir -- uranium yang diperkaya -- yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada situs-situs pengayaan yang harus dibongkar," kata Netanyahu dalam wawancara di program "60 Minutes" di CBS, dilansir Al Arabiya, Senin (11/5/2026).

"Anda masuk dan Anda mengambilnya," kata pemimpin Israel itu ketika ditanya bagaimana uranium tersebut dapat dihilangkan.

- Myanmar Ngeluh Dikucilkan ASEAN

Pemerintah Myanmar mengeluhkan perlakuan diskriminatif yang mengucilkan negara tersebut dari blok Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Keluhan ini disampaikan setelah konferensi tingkat tinggi (KTT) ASEAN yang digelar pekan lalu, mem-blacklist kepemimpinan pasca-kudeta Myanmar.

ASEAN yang beranggotakan 11 negara, seperti dilansir AFP, Senin (11/5/2026), mengucilkan Myanmar dari KTT sejak militer negara itu pada tahun 2021 menggulingkan pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi dan menahan tokoh demokrasi tersebut, yang memicu perang sipil.

Setelah lima tahun memimpin pemerintahan militer, junta Myanmar menggelar pemilu yang sangat terbatas, yang mengecualikan partainya Suu Kyi, bulan lalu.

- Iran Ingatkan soal Kapal Perang Prancis di Hormuz, Macron Bilang Gini

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa pengerahan pasukan Prancis ke Selat Hormuz "tidak pernah dipertimbangkan" tanpa adanya "koordinasi dengan Iran". Penegasan ini disampaikan setelah Teheran memperingatkan bahwa kehadiran kapal Prancis di Selat Hormuz akan direspons secara tegas.

Macron dalam pernyataannya, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (11/5/2026), juga menegaskan kesiapan Prancis untuk mendukung upaya-upaya yang bertujuan memulihkan lalu lintas maritim di jalur perairan strategis tersebut, saat kapal induk Charles de Gaulle berlayar ke Laut Merah bagian selatan.

"Pengerahan pasukan Prancis tidak pernah dipertimbangkan," tegas Macron saat berbicara dalam konferensi pers di Nairobi bersama Presiden Kenya William Ruto.

Lihat juga Video Terpopuler Sepekan: Kecelakaan Maut Bus ALS, Predator Santriwati Ditangkap

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait