Ada soal Kompensasi-Selat Hormuz di Proposal Iran yang Ditolak Trump

Ada soal Kompensasi-Selat Hormuz di Proposal Iran yang Ditolak Trump

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 11 Mei 2026 11:47 WIB
Presiden AS Donald Trump (dok. AFP/MANDEL NGAN)
Presiden AS Donald Trump (dok. AFP/MANDEL NGAN)
Teheran -

Iran mengajukan proposal balasan untuk merespons rencana perdamaian yang diajukan Amerika Serikat (AS). Dalam proposalnya, Iran menuntut kompensasi penuh atas kerusakan perang dari AS dan menekankan agar kedaulatan Teheran atas Selat Hormuz Diakui.

Proposal terbaru Iran itu, seperti dilaporkan Press TV dan Anadolu Agency, Senin (11/5/2026), juga menuntut dicabutnya semua sanksi yang menjerat Teheran dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Proposal balasan Teheran itu diajukan melalui mediator Pakistan dan diteruskan kepada AS pada Minggu (10/5) waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proposal tersebut, menurut Press TV, menekankan "hak-hak fundamental bangsa Iran".

Proposal itu diajukan Iran setelah negara itu menolak rencana perdamaian usulan AS, dengan alasan rencana perdamaian itu mengharuskan kepatuhan terhadap "tuntutan berlebihan" yang diajukan Presiden Donald Trump.

"Tidak ada seorang pun di Iran yang menulis rencana untuk menyenangkan Trump. Tim negosiasi hanya menulis untuk hak-hak bangsa Iran. Jika Trump tidak senang dengan itu, itu sebenarnya lebih baik," kata seorang sumber yang mengetahui isi proposal Iran itu saat berbicara kepada Tasnim News Agency.

"Trump sama sekali tidak menyukai kenyataan; itulah mengapa dia terus kalah dari Iran," sebut sumber tersebut.

Trump, pada Minggu (10/5), mengungkapkan bahwa dirinya telah meninjau respons terbaru Iran dan menyatakan penolakan terhadap proposal balasan yang diajukan Teheran. Trump menyebut proposal terbaru Iran itu "sama sekali tidak dapat diterima".

"Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima!" kata Trump saat melalui akun Truth Social miliknya, dilansir AFP.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Iran juga secara efektif menutup jalur perairan vital Selat Homuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas, sejak pertempuran berlangsung. AS merespons dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Teheran, dalam upaya menekan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Gencatan senjata diberlakukan sejak awal April lalu melalui mediasi Pakistan, yang kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang ditentukan. Perundingan damai yang digelar di Islamabad pada pertengahan April lalu gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Tonton juga video "Iran Siap Kejutkan AS dengan Metode Perang Baru Jika Diserang Lagi"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait