Arab Saudi emosi usai Iran meluncurkan serangan ke sejumlah fasilitas terkait Amerika Serikat (AS) di wilayahnya. Saudi bersiap membalas Iran.
Dirangkum detikcom, Rabu (4/3/2026), Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman telah menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Januari lalu. Saat itu, MBS menegaskan tak akan mengizinkan serangan ke Iran dilakukan dari wilayahnya.
Pada Sabtu (28/2), AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran pun meluncurkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan AS di negara-negara Teluk. Salah satu negara yang terdampak serangan balasan Iran itu ialah Arab Saudi.
Ledakan terdengar di Riyadh pada Sabtu (28/2) dan Minggu (1/3). Kerajaan Arab Saudi kemudian menyatakan kecaman sekeras-kerasnya terhadap serangan Iran itu. Saudi menyebut serangan itu telah berhasil dicegat.
"Serangan-serangan ini tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun atau dengan cara apa pun, dan serangan tersebut terjadi meskipun pihak berwenang Iran mengetahui bahwa Kerajaan telah menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorialnya digunakan untuk menargetkan Iran," demikian keterangan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.
Meski diprotes Saudi, Iran tetap melanjutkan serangan balasan ke fasilitas terkait AS. Pada Selasa (3/3), serangan drone Iran menghantam Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Riyadh, Saudi.
Serangan Iran juga menghantam markas CIA di Riyadh. Tak ada laporan korban jiwa akibat serangan-serangan Iran di Saudi.
(haf/rfs)