Pemerintah Kuba mengumumkan bahwa sedikitnya 32 warganya tewas selama serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Caracas , ibu kota Venezuela, pada Sabtu (3/1) dini hari. Operasi militer Washington itu berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro, yang kemudian diterbangkan ke AS untuk diadili.
Rentetan serangan militer AS terhadap Venezuela pada akhir pekan itu memicu reaksi keras dari sekutu-sekutu Caracas, termasuk Havana, yang melontarkan kecaman terhadap Washington.
Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, sebelumnya menyebut serangan AS terhadap Venezuela sebagai "serangan kriminal" dan menyebut "zona perdamaian kita sedang diserang secara brutal".
Dalam pengumuman terbaru via televisi nasionalnya, seperti dilansir AFP, Senin (5/1/2026), pemerintah Kuba mengumumkan warga negaranya menjadi korban jiwa dalam rentetan serangan AS di Venezuela tersebut.
Otoritas Havana menyebut serangan Washington terhadap Caracas itu sebagai "serangan kriminal".
"Sebagai akibat dari serangan kriminal yang dilancarkan oleh pemerintah Amerika Serikat (terhadap Venezuela), sebanyak 32 warga Kuba kehilangan nyawa mereka dalam operasi tempur," kata pemerintah Kuba dalam pernyataan yang dibacakan di televisi nasional negara itu pada Minggu (4/1) waktu setempat.
Tidak dijelaskan lebih lanjut soal kronologi kematian puluhan warga Kuba di Venezuela tersebut.
Presiden AS Donald Trump, saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1) waktu setempat, menyebut sejumlah besar personel keamanan Kuba yang mengawal Maduro tewas dalam operasi militer AS.
(nvc/ita)