×
Ad

Ukraina Diskusi dengan Sekutu Eropa Usai Tolak Rencana Damai Usulan AS

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 22 Nov 2025 15:56 WIB
Asap pekat menyelimuti langit ibu kota Kyiv di Ukraina usai serangan drone dan rudal Rusia beberapa waktu lalu (dok. REUTERS/Valentyn Ogirenko)
Kyiv -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina, Andrii Sybiha, mengatakan Kyiv telah membahas rencana perdamaian usulan Amerika Serikat (AS), untuk mengakhiri perang dengan Rusia, dengan sekutu-sekutu Eropa. Sybiha menyebut pembicaraan dengan mitra-mitra Eropa itu membahas langkah-langkah selanjutnya.

Dalam pernyataan via media sosial X, seperti dilansir AFP, Sabtu (22/11/2025), Sybiha menuturkan bahwa panggilan telepon bersama dengan para Menlu Prancis, Inggris, Polandia, Finlandia, dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, serta perwakilan Italia dan Jerman, itu "tepat pada waktunya dan bermakna".

Dia mengatakan bahwa dirinya telah menyampaikan hasil "kontak terkini dan pembahasan logika langkah-langkah selanjutnya" kepada Presiden Volodymyr Zelensky.

"Kami membahas secara detail soal unsur-unsur proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat dan kerja sama kami untuk membuka jalan yang memungkinkan menuju perdamaian yang adil," ucap Sybiha dalam pernyataannya.

Zelensky, dalam pidatonya pada Jumat (21/11), menolak rencana perdamaian usulan AS itu, yang disebutnya memberikan "pilihan yang sangat sulit" bagi Ukraina.

Dia bahkan menyebut rencana perdamaian berisi 28 poin itu membuat Ukraina harus memilih untuk kehilangan martabat atau berisiko kehilangan dukungan dari sekutu utamanya, AS. Namun Zelensky juga menegaskan dirinya akan mengusulkan alternatif untuk rencana perdamaian tersebut.

Rencana perdamaian yang diklaim oleh Washington disusun "secara diam-diam" bersama kedua belah pihak selama sebulan terakhir itu, akan mewajibkan Ukraina untuk menyerahkan sebagian wilayah timurnya kepada Rusia, memangkas jumlah pasukan militernya, dan berjanji untuk tidak pernah bergabung NATO.

Sebagian besar ketentuan dalam rencana perdamaian itu tampak banyak memenuhi tuntutan Moskow setelah invasi terhadap Kyiv pada Februari 2022 lalu.




(nvc/idh)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork