Protes Kematian Mahsa Amini Kian Ngeri hingga Bakar Rumah Khomeini

ADVERTISEMENT

Protes Kematian Mahsa Amini Kian Ngeri hingga Bakar Rumah Khomeini

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 19 Nov 2022 08:00 WIB
In this Wednesday, Sept. 21, 2022, photo taken by an individual not employed by the Associated Press and obtained by the AP outside Iran, protesters chant slogans during a protest over the death of a woman who was detained by the morality police, in downtown Tehran, Iran. Iranians saw their access to Instagram, one of the few Western social media platforms still available in the country, disrupted on Wednesday following days of the mass protests. (AP Photo)
Unjuk rasa memprores kematian Mahsa Amini di Iran (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Gelombang demonstrasi di Iran akibat kematian Mahsa Amini semakin mengerikan. Rumah lama mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ruhollah Khomeini yang juga pendiri negara Iran dibakar.

Unjuk rasa marak terjadi di berbagai wilayah Iran sejak 16 September lalu, ketika seorang wanita Kurdi Iran bernama Mahsa Amini (22) meninggal sekitar tiga hari usai pingsan dalam tahanan polisi moral. Dia ditahan di Teheran atas dugaan melanggar aturan hijab yang ketat.

Presiden Iran Ebrahim Raisi menuduh Amerika Serikat menggunakan 'kebijakan destabilisasi' terhadap republik Islam tersebut atas aksi-aksi protes kematian Mahsa Amini.

Dilansir kantor berita AFP, Kamis (13/10/2022), kekerasan jalanan telah menyebabkan puluhan kematian, sebagian besar pengunjuk rasa tetapi juga anggota pasukan keamanan. Ratusan demonstran juga telah ditangkap.

"Menyusul kegagalan Amerika dalam militerisasi dan sanksi, Washington dan sekutunya telah menggunakan kebijakan destabilisasi yang gagal," kata Raisi pada pertemuan puncak di Kazakhstan.

Iran telah 'membatalkan opsi militer Amerika dan ... memberikan kekalahan memalukan terhadap kebijakan sanksi dan tekanan maksimum,' katanya, dikutip oleh kantornya.

Diketahui bahwa Washington telah memberlakukan serangkaian sanksi yang melumpuhkan terhadap Teheran sejak 2018, ketika presiden AS saat itu Donald Trump menarik negaranya dari perjanjian nuklir antara Iran dan kekuatan dunia.

Sebelumnya, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga menuduh musuh bebuyutan Iran: Amerika Serikat dan Israel mengobarkan "kerusuhan".

"Hari ini, semua orang mengkonfirmasi keterlibatan musuh dalam kerusuhan jalanan ini," kata Khamenei.

Baca berita selengkapnya di halaman berikutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT