Salman Rushdie Dirawat dengan Ventilator Usai Ditikam, Bisa Kehilangan Mata

ADVERTISEMENT

Salman Rushdie Dirawat dengan Ventilator Usai Ditikam, Bisa Kehilangan Mata

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 13 Agu 2022 11:22 WIB
FILE - Author Salman Rushdie appears during the Mississippi Book Festival in Jackson, Miss., on Aug. 18, 2018. Rushdie, whose writing led to death threats, has been attacked on stage at an event in western New York (AP Photo/Rogelio V. Solis, File)
Novelis Salman Rushdie dalam foto tahun 2018 (AP Photo/Rogelio V. Solis, File)

Ralph Henry Reese (73) yang menjadi pewawancara Rushdie dalam acara yang digelar Institut Chautauqua itu turut mengalami cedera. Dia mengalami luka-luka di bagian wajah dan sempat dirawat di rumah sakit, namun sudah diperbolehkan pulang.

Sejumlah orang yang hadir dan menyaksikan langsung penikaman itu menuturkan bahwa pelaku menikam Rushdie berulang kali secara brutal.

Salah satunya Carl LeVan yang seorang profesor politik pada Universitas Amerika yang menuturkan kepada AFP bahwa dirinya melihat pelaku berlari ke atas panggung menuju Rushdie yang sedang duduk dan 'menikamnya berulang kali dan secara kejam'.

Disebutkan LeVan bahwa pelaku tampak 'berupaya menikam Rushdie sebanyak mungkin sebelum dia diamankan'. LeVan meyakini pelaku 'berusaha membunuh' Rushdie dalam serangan itu.

Diketahui bahwa Rushdie yang kelahiran Mumbai, India ini menjadi sorotan saat novel keduanya yang berjudul 'Midnight's Children' yang terbit tahun 1981 menuai pujian internasional dan meraih penghargaan bergengsi Inggris, Booker Prize, untuk penggambarannya soal India pascakemerdekaan.

Namun buku keempatnya yang berjudul 'The Satanic Verses' yang terbit tahun 1988 memicu reaksi keras dari dunia Islam. Sejumlah Muslim menilai buku itu mengandung beberapa bagian yang menistakan ajaran Islam. Sebagian umat Muslim lainnya menyebut buku itu tidak menghormati Nabi Muhammad SAW.

Buku itu bahkan dilarang terbit di banyak negara dengan populasi mayoritas Muslim sejak diterbitkan tahun 1988 silam.

Beberapa bulan usai buku 'The Satanic Verses' terbit, pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini, sampai mengeluarkan fatwa yang menyerukan umat Muslim untuk membunuh Rushdie dan siapapun yang terlibat dalam penerbitan buku itu karena penistaan agama.

Rushdie yang lahir di keluarga Muslim namun tidak mempraktikkan ajaran Islam, kini mengidentifikasi dirinya sebagai seorang ateis. Dia terpaksa hidup dalam persembunyian selama bertahun-tahun karena ancaman pembunuhan yang diterimanya.

Penerjemah buku 'The Satanic Verse' di Jepang, Hitoshi Igarashi, bahkan diketahui tewas dibunuh tahun 1991.

Saat pindah ke Inggris, Rushdie diberi perlindungan polisi oleh pemerintah, terutama saat berada di sekolah dan di rumahnya. Dia menghabiskan waktu selama nyaris satu dekade hidup dalam persembunyian, terus berpindah-pindah rumah dan tidak bisa memberitahu anak-anaknya di mana dia tinggal.

Rushdie mulai keluar dari persembunyiannya pada akhir tahun 1990-an, setelah pemerintah Iran pada tahun 1998 menyatakan tidak mendukung pembunuhan Rushdie. Dia kemudian menjadi warga negara AS sejak tahun 2016 dan tinggal di New York City.

Saat fatwa diterbitkan Iran, sejumlah organisasi Iran, beberapa berafiliasi dengan pemerintah, menetapkan imbalan sebesar US$ 4 juta untuk pembunuhan Rushdie. Tahun 2016, kantor berita Fars dan beberapa outlet media Iran lainnya menaikkan imbalan untuk pembunuhan Rushdie sebesar US$ 600.000.

Kemudian tahun 2019, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyebut fatwa yang diterbitkan Khomenei soal Rushdie 'tidak bisa dibatalkan'. Dalam laporannya soal serangan terhadap Rushdie, Fars menyebutnya sebagai murtad yang 'menghina Nabi'.


(nvc/idh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT