International Updates

Pasukan Myanmar Gempur Kota-Puluhan Rumah Hancur, Rekor Kasus Corona China

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 30 Okt 2021 18:03 WIB
YANGON, MYANMAR - APRIL 03: Smoke rises from tires set alight by anti-coup protesters on April 03, 2021 in Yangon, Myanmar. Myanmars military Junta continued a brutal crackdown on a nationwide civil disobedience movement in which thousands of people have turned out in continued defiance of live ammunition. Local media and monitoring organizations estimate that over 500 people have been killed since the coup began. (Photo by Getty Images/Getty Images)
ilustrasi (Foto: Getty Images/Getty Images)
Jakarta -

Pasukan Myanmar menggempur sebuah kota yang bergolak, hingga menimbulkan kebakaran yang menghancurkan puluhan rumah, serta kantor badan amal Save the Children.

Negara Asia Tenggara itu berada dalam kekacauan sejak kudeta militer pada Februari, dengan lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas dalam tindakan keras pasukan Myanmar terhadap para demonstran antikudeta.

Di seluruh Myanmar, "pasukan pertahanan diri" bermunculan untuk menghadapi junta militer, yang kemudian meningkatkan serangan dan pembalasan berdarah.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (30/10/2021):

- Presiden Ukraina Serukan Warganya Divaksin: Gunakan Otak Anda!

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyerukan warganya untuk melakukan vaksinasi, seiring negara tersebut berjuang untuk mengendalikan lonjakan kasus infeksi virus Corona.

Pada Jumat (29/10) waktu setempat, Ukraina melaporkan 26.870 kasus baru COVID-19 dalam waktu 24 jam, yang merupakan angka rekor untuk negara bekas Uni Soviet tersebut.

"Saya meminta semua orang untuk mematikan media sosial dan menghidupkan otak Anda," cetus Zelensky seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (30/10/2021).

- Panas! Arab Saudi Usir Dubes Lebanon dan Tarik Dubesnya

Pemerintah Arab Saudi mengumumkan penarikan Duta Besarnya untuk Lebanon dan memberi waktu 48 jam bagi Dubes Lebanon untuk meninggalkan kerajaan tersebut. Ini dilakukan setelah seorang menteri Lebanon membuat pernyataan yang "menghina" tentang perang Yaman.

Seperti diberitakan AFP, Sabtu (30/10/2021), Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan, kerajaan memerintahkan "pemanggilan Duta Besar di Lebanon untuk konsultasi, dan kepergian Duta Besar Lebanon dari kerajaan dalam waktu 48 jam atas pernyataan "menghina" yang dibuat minggu ini oleh Menteri Informasi Lebanon."

Disebutkan bahwa pemerintah Saudi juga "memutuskan untuk menghentikan semua impor Lebanon".

- Pertemuan Manis Biden-Macron Usai Ribut Soal Kapal Selam Nuklir

Presiden Amerika Serikat Joe Biden bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyusul ketegangan kedua negara terkait kesepakatan kapal selam bertenaga nuklir AS-Inggris-Australia. Ini merupakan pertemuan pertama bagi kedua pemimpin itu sejak pertikaian bulan lalu soal kesepakatan kapal selam baru, AUKUS, yang menyebabkan Australia membatalkan kesepakatan pembelian kapal selam Prancis.

Simak video 'Biang Kerok Kasus Covid-19 di China Naik Lagi hingga Lockdown!':

[Gambas:Video 20detik]