International Updates

Macron Dilempar Telur, Sekretaris Nazi Diadili Atas Pembunuhan 10.000 Orang

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 18:25 WIB
Presiden Prancis Emannuel Macron kembali dilempar telur. Bukan cuma Macron, para pemimpin negara dan tokoh publik ini juga pernah diserang di depan umum.
Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dilempari telur saat mengunjungi pameran perdagangan makanan internasional di Lyon. Seorang pemuda berusia 19 tahun dan berstatus mahasiswa ditahan terkait insiden yang terjadi di tengah kerumunan itu.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (28/9/2021), video insiden pada Senin (27/9) waktu setempat itu menunjukkan momen saat Macron berjalan melewati kerumunan orang ketika tiba-tiba sebutir telur dilemparkan ke arahnya. Telur itu mengenai bahu Macron, namun tidak pecah.

Dua pengawal Macron kemudian tampak mendekati sang Presiden.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Selasa (28/9/2021):

- Eks Sekretaris Nazi Akan Diadili Atas Pembunuhan 10 Ribu Orang

Seorang mantan sekretaris kamp konsentrasi Nazi yang kini berusia 96 tahun menghadapi persidangan di Jerman atas tuduhan terlibat dalam pembunuhan 10.000 orang. Ini menjadi persidangan pertama dalam beberapa tahun terakhir, terhadap seorang wanita dalam kasus kamp konsentrasi Nazi.

Seperti dilansir AFP, Selasa (28/9/2021), Irmgard Furchner (96) masih remaja ketika bekerja di kantor direktur kamp Nazi di Stutthof, Polandia, dekat kota Danzig yang kini dikenal sebagai Gdansk. Dia bekerja sebagai sekretaris di kantor tersebut antara Juni 1943 hingga April 1945 silam.

Furchner akan mulai disidang di kota Itzehoe pada Kamis (30/9) mendatang.

"Membantu mereka yang bertanggung jawab di kamp dalam pembunuhan sistematis terhadap para tahanan Yahudi, partisan Polandia, dan tahanan perang Soviet Rusia dalam fungsinya sebagai stenografer dan sekretaris komandan kamp," sebut jaksa setempat.

- Belum Juga Divaksin Corona, Ribuan Nakes New York Terancam Dipecat

Sejumlah rumah sakit (RS) di New York, Amerika Serikat (AS), bersiap memecat ribuan tenaga kesehatan (nakes) yang tidak mematuhi aturan wajib vaksin virus Corona (COVID-19). Aturan wajib vaksin Corona itu efektif berlaku mulai Senin (27/9) waktu setempat.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (28/9/2021), situasi ini berpotensi memicu kekurangan staf di beberapa rumah sakit setempat. Dengan sejumlah rumah sakit di wilayah New York bagian utara mulai membatasi layanan demi mengatasi kekurangan staf.

Dalam konferensi pers, Wali Kota New York, Bill de Blasio, menyatakan bahwa rumah sakit yang ada di kota New York belum melihat dampak besar dari aturan wajib vaksin Corona, namun dia mengkhawatirkan area-area lainnya di negara bagian New York yang tingkat vaksinasinya rendah.

Catholic Health, salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di New York bagian barat, menyatakan akan menunda beberapa operasi bedah elektif saat berupaya meningkatkan tingkat vaksinasi, yang mencapai 90 persen nakes pada Minggu (26/9) sore waktu setempat.

- PM Israel Bersumpah Tak Akan Biarkan Iran Punya Senjata Nuklir

Perdana Menteri (PM) Israel, Naftali Bennett, menyebut Iran telah melewati 'semua garis merah' untuk program nuklirnya. Bennett bersumpah bahwa Israel tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Selasa (28/9/2021), dalam pidato pertamanya di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Bennett menuduh Iran berniat mendominasi kawasan Timur Tengah di bawah 'payung nuklir'.