Suami Tidak Beri Nafkah, Bisakah Saya Gugat dan Pidanakan?

ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Suami Tidak Beri Nafkah, Bisakah Saya Gugat dan Pidanakan?

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 01 Des 2022 09:29 WIB
Kantor Hukum Dalimunthe and Tampubolon Lawyers (DNT Lawyers) mengadakan launching buku “Strategi Menangani dan Memenangkan Perkara di Pengadilan (Perspektif Advokat), Jakarta, Jumat (7/10/2022). Buku karya Managing Partner DNT Lawyers, Boris Tampubolon ini mengulas strategi bagi para advokat dan praktisi hukum untuk mengetahui cara menyusun teori kasus untuk pembelaan, teknik bertanya kepada saksi atau ahli, menyusun dan membuat pleodi yang baik dan prinsip-prinsip yang wajib dikuasasi dalam persidangan.
Boris Tampubolon (dok.pri)
Jakarta -

Ikatan pernikahan mengakibatkan hak dan kewajiban bagi pasangan suami dan istri. Lalu bagaimana bila salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya?

Berikut pertanyannya:

Saya Indri dari Surabaya.

Suami saya sudah 1 tahun ini tidak pernah lagi menafkahi saya dan anak-anak. Padahal dia tidak sedang dalam kekurangan. Dia juga sudah jarang pulang, alasannya harus mengurus usahanya yang ada di luar kota. Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan dia.

Pertanyaannya, saya ingin dia menafkahi saya dan anak-anak saya. Secara hukum apa yang bisa lakukan terhadap suami saya agar dia bertangggung jawab ?

Indri, Surabaya

Pembaca detikcom juga bisa mengajukan pertanyaan serupa dan dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com.

Untuk menjawab pertanyaan pembaca detik's Advocate di atas, kami meminta pendapat advokat Boris Tampubolon, S.H. Berikut penjelasan lengkapnya:

Terima Kasih atas pertanyaannya dan kami turut prihatin atas kejadian yang menimpa keluarga Anda. Semoga permasalahan ini cepat selesai.

Secara hukum ada dua hal yang bisa dilakukan.Pertama,secara perdata yaitu mengajukan gugatan nafkah terhadap suami Anda.Kedua,secara pidana yaitu melaporkan suami anda ke polisi karena telah melakukan penelantaran terhadap keluarga.

I. Gugatan Nafkah

Pada prinsipnya, adalah kewajiban suami untuk melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga yang mana di dalamnya termasuk kewajiban suami sebagai kepala keluarga untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya(lihat Pasal 34 ayat 1 UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan/UUP).

Jika suami tidak melaksanakan kewajiban tersebut maka menurut hukum, isteri dapat mengajukan gugatan nafkah ke Pengadilan. Dasar hukumnyaPasal 34 UUP berbunyi :

"Jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugutan kepada Pengadilan".

Perlu dipahami, Gugatan nafkah ini tidak ada hubungannya dengan gugatan cerai. Dengan kata lain, Gugatan nafkah bisa diajukan isteri terhadap suami tanpa harus bercerai/mengajukan gugatan cerai.

Lebih baik jika permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan, dan semoga ada penyelesaian yang baik untuk kebaikan semuaBoris Tampubolon, advokat

II. Penelantaran Keluarga

Tindakan suami anda yang tidak menafkahi Anda dan anak-anak bisa dikategorikan sebagai tindak pidana penelantaran dalam rumah tangga sebagaimana diatur dalam Pasal 49 UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Karena ini merupakan perbuatan pidana maka Anda bisa melaporkan suami Anda ke polisi.

Yang dimaksud dengan penelantaran dalam lingkup rumah tangga adalah "melakukan penelantaran kepada orang yang menurut hukum yang berlaku baginya atau karena perjanjian dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut"(lihat Pasal 9 UU PKDRT).

Sedang,Pasal 49 UU PKDRT mengatakan:

setiap orang yang melakukan penelantaran dalam rumah tangga dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah). Begitu juga dengan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bisa digunakan untuk menjerat suami Anda.

Namun, adalah lebih baik jika permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan, dan semoga ada penyelesaian yang baik untuk kebaikan semua.

Terima kasih

Boris Tampubolon, S.H
Advokat, dan Founder Dalimunthe & Tampubolon Lawyers (DNT Lawyers)

Tentang detik's Advocate

detik's Advocate adalah rubrik di detikcom berupa tanya-jawab dan konsultasi hukum dari pembaca detikcom. Semua pertanyaan akan dijawab dan dikupas tuntas oleh para pakar di bidangnya.

Pembaca boleh bertanya semua hal tentang hukum, baik masalah pidana, perdata, keluarga, hubungan dengan kekasih, UU Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), hukum merekam hubungan badan (UU Pornografi), hukum internasional, hukum waris, hukum pajak, perlindungan konsumen dan lain-lain.

Identitas penanya bisa ditulis terang atau disamarkan, disesuaikan dengan keinginan pembaca. Seluruh identitas penanya kami jamin akan dirahasiakan.

detik's advocate

Pertanyaan dan masalah hukum/pertanyaan seputar hukum di atas, bisa dikirim ke kami ya di email: redaksi@detik.com dan di-cc ke-email: andi.saputra@detik.com

Semua jawaban di rubrik ini bersifat informatif belaka dan bukan bagian dari legal opinion yang bisa dijadikan alat bukti di pengadilan serta tidak bisa digugat.

Simak juga 'Bisakah Pelaku KDRT Pulih Total?':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/asp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT