Mengingat Lagi 6 Kesaksian Penting di Sidang Sambo dkk

ADVERTISEMENT

Mengingat Lagi 6 Kesaksian Penting di Sidang Sambo dkk

Wilda Hayatun Nufus, Zunita Putri - detikNews
Minggu, 20 Nov 2022 16:20 WIB
Ferdy Sambo selalu membawa buku berwarna hitamnya dalam sidang. Sementara Putri Candrawathi hari terlihat membawa map plastik berwarna oranye.
Foto: Mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Sidang perkara pembunuhan berencana terhadap Brigadir N Yosua Hutabarat dengan terdakwa mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo dkk kembali digelar besok di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, setelah ditunda selama sepekan. Persidangan-persidangan yang telah digelar sebelumnya banyak mengungkap kesaksian penting. Apa saja?

detikcom merangkum 6 kesaksian penting yang tak hanya membuat publik tercengang, tapi juga majelis hakim pun ikutan dibuat terkaget-kaget. Kesaksian itu mulai dari sopir ambulans disuruh menunggu hingga pagi usai mengantar jenazah Yosua ke rumah sakit hingga penyebab Sambo ditakuti penyidik usai Yosua dibunuh.

Berikut 6 kesaksian penting di sidang Sambo yang dirangkum, Minggu (20/11/2022):

1. Hakim Kaget Sopir Ambulans Tunggu Jenazah Yosua di RS Sampai Pagi

Hakim sempat dibuat kaget saat mendengar kesaksian sopir ambulans bernama Ahmad Syahrul. Sopir ambulans yang mengevakuasi jenazah Yosua itu mengaku disuruh menunggu hingga pagi usai mengantar jenazah Yosua ke RS Polri.

Syahrul awalnya menceritakan dia mengevakuasi jenazah di rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga pada Jumat (8/7). Syahrul mengatakan dirinya tidak tahu siapa jenazah yang dievakuasinya itu. Apalagi, katanya, wajah jenazah saat itu ditutupi masker.

Ahmad mengatakan dirinya diminta mengantarkan jenazah Yosua ke RS Polri dengan ditemani satu anggota Provos Polri. Namun, setiba di RS Polri, dia merasa heran karena jenazah Yosua dibawa dulu ke IGD, bukan langsung ke kamar jenazah.

"Pertama sampai itu nggak langsung masuk forensik Yang Mulia, ke kamar jenazah. Tidak (dibawa ke kamar jenazah) ke IGD. Dan saya bertanya sama yang temani saya 'pak izin kok ke IGD dulu? Biasanya kalau saya langsung ke kamar jenazah, ke forensik,' dia bilang 'wah saya nggak tahu mas saya ikutin perintah aja, saya nggak ngerti'," ujar Ahmad saat bersaksi di PN Jaksel, Senin (7/11).

Petugas IGD, kata Ahmad Syahrul, juga kaget melihat ada kantong jenazah. Dia mengatakan petugas IGD akhirnya memerintahkan agar jenazah langsung dibawa ke kamar jenazah.

Usai mengantar jenazah, Syahrul mengaku disuruh menunggu di RS Polri oleh salah satu polisi. Dia mengaku tak tahu mengapa disuruh menunggu padahal tak lagi melakukan apapun.

"Setelah saya drop jenazah ke troli jenazah. Saya parkir mobil, terus saya bilang 'Saya izin pamit Pak'. Sama anggota di RS terus bapak-bapak tersebut bilang katanya 'Sebentar dulu ya Mas, tunggu dulu'. Saya tunggu tempat masjid di samping tembok sampai jam mau subuh yang mulia," kata Syahrul.

"Hah, mau subuh saudara nungguin?" tanya ketua majelis hakim Wahyu Iman Santosa yang dijawab 'Iya' oleh Ahmad Syahrul.

"Buset! Hanya tunggu jenazah tanpa tahu ada apa-apa?" ujar hakim dan diamini lagi juga oleh Ahmad.

2. Sambo Ditakuti Penyidik Usai Yosua Dibunuh

Mantan Kanit I Satreskrim Polres Jaksel AKP Rifaizal Samual mengungkap rahasia Ferdy Sambo ditakuti anak buahnya di kepolisian sejak awal kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat muncul ke permukaan. Perintah Ferdy Sambo saat itu pun tak bisa dibantah dan ditolak Samual yang kala itu bertindak sebagai penyidik kasus tersebut. Apa sebenarnya kekuatan Sambo?

Fakta itu terungkap di persidangan dalam sidang lanjutan pembunuhan Yosua dengan terdakwa mantan Karopaminal Divisi Propam Polri Hendra Kurniawan dan mantan Kaden A Biro Paminal Divisi Propam Polri Agus Nurpatria di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (3/11). Rifaizal saat itu dihadirkan sebagai saksi dari jaksa penuntut umum.

Sekadar diketahui, Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria Adi Purnama didakwa merusak CCTV yang membuat terhalanginya penyidikan kasus pembunuhan Yosua Hutabarat. Perbuatan itu dilakukan Agus dan Hendra bersama dengan empat orang lainnya.

"Terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apapun yang berakibat terganggunya sistem elektronik dan/atau mengakibatkan sistem elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya," ujar jaksa saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Rabu (19/10).

Empat terdakwa lain yang dimaksud adalah Kompol Chuck Putranto, Kompol Baiquni Wibowo, dan AKP Irfan Widyanto, AKBP Arif Rachman Arifin. Mereka didakwa dengan berkas terpisah.

Hakim pada saat itu mencecar Samual apakah ada keraguan yang terlihat dari mantan Kasat Reskrim Polres Jaksel Ridwan Soplanit dalam mengambil keputusan berkaitan dengan kejadian penembakan di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga. Samual kemudian menjelaskan kemungkinan keraguan itu muncul karena yang memerintahkan saat itu adalah seorang Kadiv Propam jenderal bintang dua yakni Ferdy Sambo.

"Izin Yang Mulia, izin menjawab. Jadi untuk poin tersebut, ini menurut pendapat saya sebagai bawahan, jadi memang pada saat pelaporan itu saya sampaikan itu emang perintah Pak Sambo pak, jadi mungkin keraguan yang dihadapi beliau adalah yang memerintahkan seorang kadiv propam Pak, mungkin itu," kata Samual.

Di sinilah, Samual mengungkap tak satupun anggota polisi yang bisa membantah perintah Sambo saat itu. Mengingat, kata Samual, jenderal polisi bintang dua di tubuh Polri itu sangat banyak. Akan tetapi, yang menjabat sebagai Kadiv Propam hanya satu dan memiliki kewenangan khusus terhadap polisi umum.

"Siap Yang Mulia jadi, saya sampaikan seperti apa yang saya sampaikan, bahwa seorang Kadiv Propam berpangkat Irjen pol, bintang dua di Polri ini banyak Pak, akan tetapi Kadiv Propam ini hanya satu, kalau di TNI kan ya POM nya TNI, artinya memiliki kewenangan khusus terhadap polisi umum," ungkap Samual.

Samual mengakui dirinya langsung melaksanakan apa yang diperintah oleh Ferdy Sambo saat awal kejadian olah TKP pembunuhan Yosua. Karena menurut keyakinannya, perintah Ferdy Sambo itu sudah benar dan seluruh saksi yang diperiksa saat itu meyakinkan adanya peristiwa tembak menembak di rumah Ferdy Sambo.

"Jadi mohon izin dengan jujur di sini saya menjawab, saya pun ketika diperintahkan beliau langsung laksanakan Pak, tetapi perintah pada saat itu saya tahu adalah perintah yang benar, kejadian tembak menembak pada saat itu adalah merupakan suatu hal yang benar karena kenapa, karena seluruh saksi meyakinkan seluruh penyidik yang ada di TKP bahwa itu adalah benar peristiwa tembak menembak," tuturnya.

Lihat juga video 'Irfan Widiyanto Luruskan Alasannya Mundur Jadi Korspri Ferdy Sambo':

[Gambas:Video 20detik]



Putri Candrawathi sebut Yosua bukan ajudannya. Baca di halaman berikutnya>>



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT