ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Ngeri, Ini 4 Pantangan yang Masih Dipercaya Masyarakat Dayak Bidayuh

Dea Duta Aulia - detikNews
Minggu, 02 Okt 2022 09:18 WIB
Bung Kupuak merupakan kampung adat tua Suku Dayak Bidayuh yang ada di Jagoi Babang, Kalimantan Barat. Yuk kita lihat suasananya.
Foto: Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Saat berkunjung ke Kalimantan Barat rasanya kurang pas kalau tidak main ke daerah perbatasan seperti Jagoi Babang. Kecamatan yang termasuk bagian dari Kabupaten Bengkayang ini memiliki sejumlah objek wisata mulai dari kampung budaya, kerajinan tangan, hingga PLBN Jagoi Babang.

Tak hanya itu, Jagoi Babang yang mayoritas penduduknya Dayak Bidayuh juga masih kental dengan tradisi khas nenek moyang. Bahkan tak sedikit setiap ritual ada yang mereka jalankan kerap menggunakan unsur magis.

Meskipun kaya akan budaya, sebelum mengunjungi Jagoi Babang alangkah baiknya mengetahui sejumlah pantangan yang terdapat di sana. Nah berikut adalah sejumlah pantangan yang masih kerap dipercayai oleh masyarakat Dayak Bidayuh.

Burung Kutiak

Bung Kupuak merupakan kampung adat tua Suku Dayak Bidayuh yang ada di Jagoi Babang, Kalimantan Barat. Yuk kita lihat suasananya.Menurut cerita rakyat jika mendengar suara burung tersebut bisa menandakan pertanda buruk (Foto: Rifkianto Nugroho)

Kepala Dusun Jagoi Babang Libik mengatakan ada sejumlah pantangan yang masih dipercayai oleh masyarakat suku Dayak Bidayuh. Mereka percaya jika pantangan dilanggar maka akan membawa sial hingga mengancam jiwa.

Libik menjelaskan salah satu pantangan yang masih dipegang teguh oleh masyarakat suku Dayak Bidayuh yakni suara buruk Kuiak. Menurut cerita rakyat jika mendengar suara burung tersebut bisa menandakan pertanda buruk. Bahkan ketika seseorang mendengar suara tersebut alangkah baiknya untuk berhenti melakukan aktivitas sejenak hingga suara burung Kutiak tidak terdengar.

"Itu saya kalau pagi-pagi mau kerja dengar suara burung Kutiak itu saat hidupkan motor, saya berhenti dulu istirahat di situ 10 -30 menit baru hidup motor lagi kalau sudah tidak mendengar suara burung tersebut," kata Libik saat ditemui detikcom di Jagoi Babang beberapa waktu lalu.

Adat Meladang

Libik mengatakan saat membuka ladang pun juga ada pantangan yang masih dipegang teguh oleh masyarakat. Menurutnya, masyarakat tidak boleh sembarangan dalam membuka ladang.

Di salah satu pedalaman Kalimantan Barat dan dekat dengan perbatasan Sarawak, Malaysia, ada satu kampung kreatif warga suku Dayak Bidayuh. Disebut kampung kreatif karena kebanyakan warganya, terutama perempuan, merupakan pengrajin anyaman rotan berupa tas yang disebut sebagai Juah.Ilustrasi masyarakat Dayak Bidayuh hendak meladang (Foto: Rifkianto Nugroho)

Biasanya saat mau membuka lahan dilakukan ritual pemotongan ayam terlebih dahulu. Ritual tersebut merupakan bagian dari budaya untuk meminta izin kepada para penghuni lahan tersebut.

"Biasa potong ayam sebelum buka lahan di situ untuk minta izin. Jadi tidak sembarangan juga," jelasnya.

Tak hanya itu, jika saat proses pembukaan ladang, parang yang diletakan di takin (tas tradisional) tiba-tiba jatuh tanpa sebab yang jelas, maka hal tersebut pertanda buruk. Libik mengatakan kalau hal tersebut terjadi masyarakat akan mengurungkan niatnya untuk membuka lahan yang telah ditentukan.

"Kalau mau meladang pun begitu juga. Dulu sempat sama mamak saya mau buka ladang. Pas kami pergi itu, sampai lokasi ladang parang mamak saya jatuh (tanpa sebab yang jelas) kami belakang tidak liat. Tidak jadilah buka landang. Karena itu pertanda tidak bagus, tanah itu jangan dijadikan ladang," jelasnya.

Jika pertanda tersebut muncul biasanya pembukaan ladang yang telah ditentukan akan diundur hingga batas waktu yang cukup lama.

"Takut nanti terjadi apa-apa. Itu lahan didiemin 1 tahun 2 tahun baru digarap lagi. Budaya itu masih banyak dipegang oleh masyarakat," kata Libik.

Adat Bertamu

Saat bertamu ke rumah suku Dayak Bidayuh pun ada adat yang mesti diperhatikan. Adat tersebut semata-mata mengajarkan pentingnya menghargai tuan rumah.

Libik mengatakan ketika seseorang bertamu biasanya tuan rumah akan menyuguhkan sejumlah makanan dan minuman. Suguhan tersebut sebisa mungkin dimakan makan atau dinikmati oleh para tamu.

Sekalipun tidak dimakan atau diminum sebaiknya wadahnya disentuh. Sebab hal tersebut merupakan wujud menghargai tuan rumah atau pemberi makanan.

Hal serupa pun bakal dilakukan oleh orang Dayak Bidayuh. Jika ditawarkan sesuatu oleh seseorang dan tidak ingin menikmatinya biasanya mereka hanya akan menyentuhnya sebagai wujud menghargai.

"Kalau di sini gitu, kalau tidak diminum setidaknya disentuh saja," kata Libik.

Memberikan 'Makan' Mandau Adat

Mandau merupakan senjata tradisional khas Suku Dayak yang melegenda. Salah satu pembuatnya bernama Ahok (65). Yuk kita lihat proses pembuatannya.Mandau merupakan senjata tradisional khas Suku Dayak yang melegenda. Salah satu pembuatnya bernama Ahok (65) (Foto: Rifkianto Nugroho)

Menurut kepercayaan warga setempat, mandau adat memiliki sifat 'panas' artinya kerap mencari darah. Oleh karena itu ketika Gawai, biasanya mandau adat dibuatkan ritual khusus dengan menghadirkan sesajen. Mandau adat lalu dicipratkan darah ayam atau babi.

"Perawatan Mandau adat digosok darah ayam, babi setahun sekali biasanya pas mau gawai. Biasanya mereka buat ritual hamparkan tikar biasanya mereka menghadirkan sesajen keluar Mandau. Mandau dicipratkan darah ayam atau babi. Di luar gawai tidak ada perawatan," ujarnya.

Meskipun menghadirkan banyar cerita rakyat, Jagoi Babang tergolong kecamatan yang wajib dikunjungi saat berlibur di Kalimantan Barat. Pasalnya kecamatan tersebut sudah memiliki sejumlah fasilitas umum yang bisa dimanfaatkan oleh para wisatawan, salah satunya akses perbankan.

Untuk akses perbankan, para wisatawan bisa memanfaatkan layanan Bank BRI yang kantornya terdapat di Seluas. Jika merasa jauh, wisatawan juga menggunakan layanan Agen BRILink yang banyak tersebar di kawasan tersebut. Agen BRILink akan memberikan layanan keuangan seperti ambil, transfer uang, dan lainnya layaknya di kantor bank.

"Kalau untuk wilayah yang di perbatasan di Jagoi Babang, ada kurang lebih 3 Agen BRIlink yang melayani wilayah perbatasan," kata Kaunit BRI Seluas Zerry Hudha.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Gagah dan Berani, Kesan Pertama Memakai Baju Adat Suku Dayak, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT