Ngeri! Ada Setengah Tengkorak Kepala Kerap Digunakan untuk Tolak Bala

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Ngeri! Ada Setengah Tengkorak Kepala Kerap Digunakan untuk Tolak Bala

Dea Duta Aulia - detikNews
Jumat, 30 Sep 2022 17:20 WIB
Rumah Adat Bung Kupuak
Foto: dok. detikcom/Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Beragam budaya yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Saking kayanya, hampir setiap daerah memiliki budaya, bahasa, seni, dan suku yang berbeda.

Salah satu daerah yang masih kental melestarikan budaya tradisional terdapat di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Mayoritas masyarakat yang merupakan suku Dayak Bidayuh masih memegang teguh tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.

Kepala Dusun Jagoi Babang Libik mengakui masyarakat suku Dayak Bidayuh tidak terlepas dari beragam warisan leluhur. Ia mengatakan berdasarkan cerita turun menurun pertama kali masyarakat Suku Dayak Bidayuh menemukan tempat tinggalnya di Indonesia karena mendengar suara alam.

Begitu juga ketika melakukan ritual adat, hal-hal apa saja yang harus dijalankan mereka akan kerjakan. Serta apapun yang menjadi pantangan tidak mereka jalankan. Hal itu sengaja dilakukan agar tradisi leluhur tetap lestari dan tidak dimakan zaman.

"Asal muasal Jagoi Babang ini dulu awal berdirinya dari nenek moyang kami. Awalnya mereka berpindah dan menemukan tempat ini (Jagoi Babang) mereka menemukan dari suara burung dan semut bahwa tempat ini cocok untuk dijadikan sebagai perkampungan. (Jagoi Babang) Sudah berusia 182 tahun," kata Libik saat ditemui oleh detikcom di Jagoi Babang beberapa waktu lalu.

Tempat Tengkorak di Bung KupuakRumah kecil tersebut tergolong tempat sakral karena menyimpan sejumlah benda peninggalan leluhur seperti kepala setengah tengkorak manusia, tanduk rusa, batu katak, dan lainnya (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Tak hanya itu, Libik mengatakan ada sejumlah tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat suku Dayak Bidayuh di Jagoi Babang. Salah satunya melakukan ritual di rumah kecil yang terdapat di Bung Kupuak.

Rumah kecil tersebut tergolong tempat sakral karena menyimpan sejumlah benda peninggalan leluhur seperti kepala setengah tengkorak manusia, tanduk rusa, batu katak, dan lainnya.

"Rumah kecil yang ada tengkorak. Tempat kami menyimpan sesajen. Itukan ada tanduk rusa, ada katak yang berubah jadi batu yang ditemukan oleh mantan kepala adat," kata Libik.

Sebab tengkorak tersebut kerap dijadikan media untuk ritual meminta perlindungan agar daerah tempat masyarakat tinggal tidak diganggu oleh hal-hal yang tidak diinginkan.

Libik menuturkan yang bisa melakukan ritual itu hanya orang-orang tertentu yakni para sesepuh dari suku Dayak Bidayuh.

"Kalau ada hal-hal yang terjadi misal perang suku, kami pasti minta salah satu sesepuh memberikan sesajen agar kampung kami ini dilindungi agar hal-hal (negatif) tidak sampai daerah kami," kata Libik.

Kampung Budaya Bung KupuakKampung Budaya Bung Kupu'ak Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho

Menurutnya, ritual untuk tolak bala dengan memanfaatkan media setengah tengkorak manusia tidak hanya dilakukan ketika era perang suku saja. Namun era seperti saat ini masih tetap dijalankan. Ia mencontohkan saat pandemi COVID-19 melanda, sejumlah sesepuh beberapa kali melakukan ritual agar hal buruk tidak menimpa kampung.

"Misal waktu COVID-19 itu pun beberapa kali kami ke sini (rumah kecil) untuk meminta pertolongan kepada roh nenek moyang agar melindungi daerah kami," tutupnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT