Dear Pelancong, Jangan Tolak Suguhan Minuman di Acara Adat Dayak!

ADVERTISEMENT

Dear Pelancong, Jangan Tolak Suguhan Minuman di Acara Adat Dayak!

Dea Duta Aulia - detikNews
Sabtu, 01 Okt 2022 09:59 WIB
Bung Kupuak merupakan kampung adat tua Suku Dayak Bidayuh yang ada di Jagoi Babang, Kalimantan Barat. Yuk kita lihat suasananya.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kekayaan budaya Indonesia tidak hanya sebatas bahasa, suku, dan alamnya saja. Namun aspek lain seperti kuliner juga menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki Indonesia.

Tidak sedikit kuliner yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia hanya disuguhkan pada saat acara adat atau hari besar saja, salah satunya tuak khas suku Dayak Bidayuh. Tuak merupakan minuman tradisional yang kerap hadir saat ritual adat Dayak Bidayuh.

Kepala Dusun Jagoi Babang Libik mengatakan minuman tradisional tuak tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat suku Dayak. Pasalnya minuman tersebut kerap hadir saat ritual adat berlangsung. Bahkan tuak kerap digunakan sebagai sesajen untuk penghormatan kepada para leluhur.

"Mereka buat ritual memberikan tuak, makanan itulah yang mereka berikan untuk ruh nenek moyang," kata Libik saat ditemui detikcom di Jagoi Babang beberapa waktu lalu.

Dikutip dari Kemendikbud Ristek menyebutkan tuak merupakan minuman khas suku Dayak di Kalimantan Barat yang terbuat dari fermentasi nira atau beras ketan. Dari penampilan, minuman ini berwarna putih seperti air cucian beras. Adapun tuak memiliki jenis yang berbeda-beda seperti tuak enau, tuak ketan, dan tuak jahe.

Tak hanya itu, Kemendikbud Ristek menyebutkan tradisi minum tuak merupakan wujud lambang semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan persahabatan. Pasalnya tuak kerap hadir saat upacara atau pesta adat saja. Menariknya, tuak kerap dianggap oleh masyarakat sebagai minuman yang berfungsi sebagai pencegah penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh.

"Tuak sebagai acara adat. Tuak tebu itu ada juga kami buat itukan acaranya pas Gawai. Tuak dari beras, ubi jalar, dan enau juga ada," kata Libik.

Saat acara adat Dayak berlangsung, biasanya ada sejumlah orang yang menawarkan para penari hingga pengunjung minuman tradisional tersebut. Biasanya, tuak diwadahkan dengan gelas yang terbuat dari bambu dan diminum secara bergilir.

"Saat acara adat Dayak berlangsung, biasanya ada sejumlah warga yang memberikan minuman (tuak) kepada para penari hingga tamu-tamu," katanya.

Para tamu yang ditawarkan tuak harus meminum minuman tersebut. Sekalipun tidak diminum sebaiknya bisa menyentuh dan memegang gelas yang diberikan. Pasalnya hal tersebut sebagai wujud menghargai tuan rumah.

"Biasanya tamu-tamu dari jauh itu wajib meminum tidak memandang agama dan suku. Dia harus minum. Kalau sudah disuguhkan minuman itu dia harus minum berputar karena itu tradisi," katanya.

Meskipun begitu, Libik mengatakan hal itu hanya berlaku saat acara adat berlangsung saja. Di luar itu, masyarakat boleh menolak kalau disuguhkan minuman tradisional tersebut.

"Pokoknya waktu diminum pas acara itu saja," jelasnya.

Berkaitan dengan itu, Libik mengatakan budaya bertamu masyarakat suku Dayak cukup kental. Ia mengatakan tamu yang berkunjung ke rumah masyarakat suku Dayak sebisa mungkin jangan menolak suguhan makanan atau minuman seperti kopi saat bertamu. Sekalipun tidak ingin memakan atau meminumnya maka sebisa mungkin memegang gelas atau piring yang disuguhkan.

"Kalau di sini (Jagoi Babang) setidaknya gelasnya disentuh," tutup Libik.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak juga 'Mendengar Mimpi Mereka, Siswa-Siswi SD Dari Perbatasan':

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT