Waket MPR Bicara Urgensi Penanganan Stunting Jelang Bonus Demografi

ADVERTISEMENT

Waket MPR Bicara Urgensi Penanganan Stunting Jelang Bonus Demografi

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Rabu, 07 Sep 2022 20:34 WIB
MPR
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan peningkatan SDM berkualitas dan berdaya saing membutuhkan dukungan dari sektor kesehatan. Salah satunya terkait pemenuhan gizi bagi anak dan balita dalam rangka pencegahan stunting dalam menyongsong bonus demografi.

"Saat ini kita sebenarnya berada pada situasi darurat gizi dengan angka stunting yang cukup tinggi. Bagaimana kita harus memperbaiki kondisi ini untuk menciptakan masyarakat yang baik secara jasmani dan rohani, ini merupakan tantangan yang harus kita jawab bersama," kata Lestari Moerdijat dalam keterangannya, Rabu (7/9/2022).

Saat membuka diskusi daring bertema 'Problem Gizi dan Pengelolaan Makanan' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Lestari menilai upaya meningkatkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing juga merupakan salah satu prioritas nasional untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Untuk itu, ia menegaskan upaya percepatan pencegahan stunting yang konvergen, baik pada perencanaan, pelaksanaan, termasuk pemantauan dan evaluasinya di berbagai tingkat pemerintahan, termasuk desa, harus bisa segera direalisasikan.

Sejumlah tantangan itu, lanjut Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, tidak boleh diabaikan agar kita mampu melahirkan generasi penerus yang sehat. Ia menggarisbawahi upaya untuk mendorong pemenuhan gizi masyarakat merupakan bagian dari langkah dalam percepatan pemulihan ekonomi, lewat perhatian terhadap pola konsumsi makanan sehat bagi para tenaga kerja.

Lestari mengulas berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 prevalensi obesitas di kalangan orang dewasa Indonesia meningkat hampir dua kali lipat, dari 19,1% pada 2007 menjadi 35,4% pada 2018.

Terkait hal tersebut, anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu mengatakan mencegah stunting dan obesitas harus menjadi tugas bersama dalam upaya peningkatan SDM.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI Ni Made Diah Permata Laksmi mengakui kondisi gizi balita di Indonesia memang masih menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan. Hal itu disebabkan sejumlah faktor asupan gizi, kualitas dan keanekaragaman pangan yang belum memadai hampir di seluruh Indonesia.

Selain itu, Ni Made Diah menuturkan di tingkat masyarakat juga terjadi ancaman obesitas karena pola makan tidak diimbangi aktivitas fisik yang memadai lewat perubahan gaya hidup. Konsumsi yang tidak memenuhi gizi seimbang, lanjutnya, juga menciptakan risiko mudah terkena penyakit sehingga sangat diperlukan ketersediaan pangan yang cukup.

Ni Made Diah memaparkan kondisi pascapandemi yang berdampak pada perekonomian keluarga, , sangat mempengaruhi upaya pemenuhan gizi berimbang. Oleh sebab itu, Kementerian Kesehatan sedang mengupayakan transformasi kesehatan lewat transformasi layanan kesehatan primer, edukasi, dan skrining kesehatan.

Dikatakan Ni Made Diah, Intervensi gizi seimbang harus dilakukan sejak Ibu hamil untuk menghindari ancaman anemia yang bisa berdampak pada pertumbuhan bayi.

Deputi Bidang Pelatihan Penelitian dan Pengembangan BKKBN Muhammad Rizal Damanik menambahkan kecukupan gizi merupakan salah satu isu kesehatan yang dihadapi Indonesia. Hal-hal dasar yang menyebabkan terjadinya kekurangan gizi, jelas Rizal, masih sering terjadi di masyarakat, seperti budaya sarapan yang kurang memadai dan kurang beragamnya makanan yang dikonsumsi.

Rizal memaparkan diperkirakan pada 2029 satu dari dua orang di Indonesia akan menghadapi obesitas. Adapun dalam upaya percepatan pencapaian target penurunan angka stunting, Rizal menyampaikan pihaknya menerjunkan Tim Pendamping Keluarga di desa-desa.

Selanjutnya, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Annis Catur Adi berpendapat masih banyaknya pemahaman yang salah terkait pemenuhan gizi di lingkungan keluarga Indonesia, menjadi salah satu faktor pendorong masalah kesehatan masyarakat. Untuk mengatasi kondisi itu, Annis menekankan seluruh pihak harus kerja keras, kerja cerdas dan tawakal.

Annis menjabarkan stunting merupakan masalah serius dan genting, karena tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik. Namun, juga mempengaruhi perkembangan otak dan organ lainnya yang rawan memicu penyakit terhadap anak dan balita. Oleh sebab itu, intervensi asupan gizi pada usia bayi masih di dalam kandungan hingga dua tahun merupakan langkah penting.

Annis menguraikan kekurangan gizi bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal pola hidup. Masyarakat disebut Annis sering kali mengabaikan keragaman sumber pangan, padahal di Indonesia banyak sumber pangan bergizi.

Menimpali paparan di atas, Direktur The Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia Agnes A. Mallipu menegaskan pihaknya terus berupaya mendorong konsumsi berkelanjutan makanan bergizi untuk semua lewat perubahan sistem pangan di Indonesia. Perubahan sistem pangan, menurut Agnes, harus dilakukan mulai tahap storage, processing hingga konsumsi dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi.

Lebih lanjut, Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP Partai NasDem Amelia Anggraini berpendapat masalah gizi di Indonesia kerap kali disebabkan kurangnya aktivitas fisik, gangguan pola makan, keberagaman makanan dan persoalan budaya. Amelia menilai perlu kerja sama lintas sektor agar bangsa ini mampu mengatasi faktor-faktor penyebab masalah gizi tersebut.

Di akhir diskusi, jurnalis senior Saur Hutabarat menyoroti bahaya ancaman obesitas terhadap generasi penerus bangsa. Saur mengulas saat ini di sejumlah negara maju seperti Singapura, negara-negara Eropa dan Amerika kesulitan menurunkan angka obesitas warganya, yang berpotensi pada peningkatan ancaman kesehatan masyarakat. Indonesia, tegas Saur, harus mewaspadai ancaman itu lewat upaya peduli terhadap konsumsi gizi berimbang dan menimbang badan secara rutin dalam upaya menghindari obesitas.

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT