ADVERTISEMENT

Ajaran Kartosuwiryo Jadi Pedoman Khilafatul Muslimin, Begini Isinya

Matius Alfons - detikNews
Jumat, 17 Jun 2022 07:08 WIB

Hijrah

Kartosuwiryo kerap mengenalkan istilah 'hijrah'. Hijrah versi Kartosuwiryo ini adalah sebuah metode membentuk komunitas sendiri, tanpa kerja sama, dan aktif melawan kekuatan penjajah.

Kartosuwiryo mengembangkan konsep hijrah dengan mengacu pada Al-Qur'an dan sunnah. Kartosuwiryo juga kerap menghubungkan antara hijrah dan jihad.

Jihad, dalam benak Kartosuwiryo, adalah perang terhadap diri sendiri. Maksudnya, memindahkan dan memerangi diri sendiri dari perilaku tidak Islami menjadi Islami.

Jihad

Kartosuwiryo khawatir jika terjadi perpecahan antar sesama pejuang Darul Islam. Untuk itu, ia selalu menekankan pentingnya membersihkan niat dan ikhlas berjuang semata-mata untuk melaksanakan amanah Allah.

Ia memberikan 3 poin penting landasan jiwa ksatria kepada anggota Darul Islam, yakni rasa cinta setia kepada Allah SWT, Rasulullah, dan Imam Negara Islam Indonesia.

Negara Islam

Kartosuwiryo sejak awal sudah memiliki gagasan suatu masyarakat Islam yang benar-benar sempurna secara ideologi ataupun ide. Kartosuwiryo pernah menulis:

"Bahwa semua orang dapat ikut membangunkan dunia baru yang memberi jaminan akan kemakmuran, bagi tiap-tiap bagian daripada Keluarga Asia Timur Raya, apabila mereka kembali kepada ajaran Rasulullah dan umat Islam sadar akan kedudukannya"

Dalam buku 'Daftar Usaha Hidjrah PSSI', Kartosuwiryo membagi struktur masyarakat Indonesia menjadi 3 bagian. Pertama, masyarakat Hindia Belanda sebagai penjajah. Kedua, masyarakat Indonesia yang belum memiliki hukum ataupun hak dan tidak mempunyai pemerintahan sendiri. Ketiga, masyarakat Islam yang bernaung di bawah Darul Islam.

Kartosuwiryo juga membedakan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Islam. Masyarakat Indonesia berjuang demi tanah airnya dan berbakti kepada negeri. Sementara masyarakat Islam atau Darul Islam tidak berbakti kepada Indonesia atau siapa pun, melainkan hanya ingin berbakti kepada Allah SWT.

Jadi maksud terbentuknya Darul Islam bukan Indonesia Raya, melainkan Darul Islam yang sesempurnanya. Pemikiran dan gagasannya ini yang menggiring Kartosuwiryo terobsesi mendirikan Negara Islam Indonesia.

Menurutnya, Negara Islam Indonesia adalah wadah satu-satunya untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat.

Tauhid

Kartosuwiryo bercita-cita mendirikan negara Islam. Kartosuwiryo lantas menanamkan konsep tauhid dengan 4 kerangka, yakni:

1. La mathluba illallah: Tiada yang dicari dan diusahakan kecuali rahmat Allah
2. La maqhuda illallah: Tiada titik tujuan kecuali idzharnya pemimpin pembawa amanat Allah
3. La ma'buda illallah: Tiada yang disembah kecuali Allah
4. La maujuda illallah: Tiada yang wujud mutlak kecuali Allah

Dasar tauhid yang dia yakini ini juga disampaikan kepada siswanya yang belajar di Institut Suffah.


(maa/zap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT