ADVERTISEMENT

Beda 2 Pimpinan KPK Saat Spanduk 'Desakan' Nyapres Mengemuka

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 31 Mei 2022 12:17 WIB
(dok. istimewa/tangkapan layar dari kanal YouTube KPK)
Ketua KPK Firli Bahuri (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Tak ada hujan tak ada angin muncul spanduk berwajah Ketua KPK Firli Bahuri dengan narasi dukungan baginya untuk maju dalam Pilpres 2024. Firli sendiri sudah memberikan klarifikasi dengan pengakuan tak tahu-menahu soal itu.

Di sisi lain, Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango memberikan tanggapan sedikit berbeda. Dia menyarankan agar publik lebih baik membantu KPK dengan membuat spanduk dengan wajah-wajah buron KPK agar lebih gampang dikenali seperti Harun Masiku.

Bermula dari beredarnya sejumlah spanduk dan baliho dengan ukuran jumbo di beberapa daerah. Gambar dari baliho itu beredar pula di media sosial.

Baliho-baliho itu menampilkan wajah Firli berukuran besar dengan tulisan 'Kami Butuh Presiden yang Getol Berantas Korupsi' serta 'Firli Bahuri untuk Indonesia'. Sementara baliho kedua yang bergambar Firli bertulisan 'Masyarakat Banten Mendesak Tokoh Anti Korupsi Maju di Pilpres 2024'. Kemudian juga terdapat tagar #DukungIndonesiaBersih.

Tanggapan Firli Bahuri

Dicek melalui akun Twitter resminya, @firlibahuri, Firli mengawali penjelasannya dengan tanda pagar atau tagar #SpandukDukungFBI. Apa maksudnya?

"#SpandukDukungFBI Selamat akhir pekan sahabat antikorupsi, beberapa teman mengirimkan beberapa gambar dan video kepada saya yang menggambarkan adanya spanduk yang beredar di beberapa sudut kota. Saya oleh mereka dimintai penjelasan tentang apakah ini memang sebuah langkah kerja atau suatu yang tidak terencana. Bahkan sebagian ada yang menyindir saya tentang kenapa mereka tidak diajak sebagai tim sukses," ucap Firli mengawali cuitannya itu.

"Ada yang lebih jauh bertanya tentang harus mendaftar diri menjadi relawan di mana. Ada-ada aja pikir saya. Memang ini tidak bisa dihindari sebagai public figure," imbuhnya.

Firli mengklaim tidak tahu sama sekali mengenai spanduk dukungan itu. Di sisi lain, dia menyebut ada sebagian masyarakat yang tidak tahu cara mengekspresikan dukungan sehingga muncullah spanduk itu.

"Mungkin saja, atau ada dua kemungkinan yang terjadi; yang pertama adalah sekelompok orang sengaja menyebarkannya untuk memprovokasi keterlibatan saya dalam politik. Padahal saya sudah berulang kali tegaskan bahwa saya adalah penegak hukum yang sama sekali tidak boleh berpolitik," ucap Firli.

"Kemungkinan kedua adalah sebagian masyarakat kita memang tidak mengerti bagaimana cara mengekspresikan pendapat dan prosedur penyampaian pendapat terkait presiden yang akan datang sehingga mereka secara apa adanya mencoba mencantumkan aspirasi mereka di atas sebuah spanduk. Memang di sebagian spanduk itu sebenarnya tidak ada kalimat atau kata kata tentang saya sebagiannya artinya mungkin saja mereka hanya menghendaki siapa pun yang bisa memberantas korupsi itulah orang yang mereka ingin calonkan," imbuhnya.

Di akhir kata, Firli menegaskan diri bahwa KPK saat ini tidak berpolitik. Dia mengakhiri cuitannya dengan 'Salam FBI'.

"Sekali lagi saya mengulang kembali komentar seperti ini kepada publik untuk menegaskan dan menjelaskan posisi sulit saya sebagai orang yang ditarik kiri kanan. Sebelumnya saya juga menjelaskan posisi lembaga yang saya pimpin karena dia ditarik kiri kanan terlibat dalam kecenderungan opini dan arus politik. Terus terang kami adalah lembaga penegak hukum dan saya sebagai profesi adalah penegak hukum. Percayalah para sahabat, semua yang terjadi di KPK adalah proses hukum dan tidak ada kejadian politik. Selamat berakhir pekan dan sehat selalu semuanya. Salam FBI," kata Firli.

Yang menarik dari penjelasan panjang lebar Firli itu ada pada singkatan FBI. Bila ditelusuri dari cuitan-cuitan Firli sebelumnya, ternyata FBI itu singkatan dari Firli Bahuri untuk Indonesia. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas jargon 'Firli Bahuri untuk Indonesia' itu digunakan pula pada baliho dukungan yang beredar yang diklaim tidak diketahui Firli itu.

Tanggapan Nawawi

Di sisi lain, Nawawi selaku kolega Firli dalam memimpin KPK berbicara lain. Dia menyarankan masyarakat sebaiknya membuat spanduk para buronan jika ingin mendukung KPK, salah satunya Harun Masiku.

"Dengan rumusan seperti itu, hemat saya, kalau masyarakat berkeinginan mendukung kerja-kerja KPK, mungkin pemasangan spanduk atau pun baliho itu akan lebih pas kalau memuat gambar para DPO KPK, seperti Harun Masiku," kata Nawawi.

Nawawi kemudian menyoal Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Perubahan Kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Menurutnya, spanduk berwajah buron seperti Harun Masiku lebih bermanfaat dibanding baliho dukungan Firli Bahuri menjadi capres.

"Pemberantasan tindak pidana korupsi adalah serangkaian kegiatan untuk mencegah dan memberantas terjadinya tindak pidana korupsi, melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan disidang pengadilan, dengan peran serta masyarakat," katanya.

"Ini bukan berarti KPK kekurangan anggaran untuk membuat stiker ataupun spanduk bergambar para DPO KPK," imbuhnya.

Lihat juga video 'LHKPN Terbaru Rilis, Siapa Paling Tajir dari 5 Pimpinan KPK?':

[Gambas:Video 20detik]



(dhn/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT