ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Saya Membeli Video Porno, Salahnya di Mana?

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 08 Apr 2022 08:01 WIB
Boris Tampubolon
Boris Tampubolon
Jakarta -

Polisi meminta keterangan Marshel Widianto terkait pembelian konten porno Dea OnlyFans yang ia beli seharga Rp 1,4 juta. Orang pun bertanya-tanya, apakah salah membeli konten video porno?

Hal itu menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate, yaitu:

Saya pria dewasa dan membeli video porno untuk konsumsi pribadi. Tidak saya sebarkan dan hanya disimpan di Hp saya. Lalu apakah salah? Kalau salah, di mana salahnya?

Terima kasih

Untuk menjawab pertanyaan pembaca detik's Advocate di atas, kami meminta pendapat advokat Boris Tampubolon, S.H. Berikut penjelasan lengkapnya:

Selaku advokat atau praktisi hukum, hemat saya, dalam konteks hukum pidana, seseorang bisa dipidana kalau sedari awal ada niat jahat (mens rea) di dalam dirinya. Jadi tidak cukup dengan ada perbuatan pidana saja, melainkan harus ada niat jahat juga.

Dalam konteks seseorang membeli video porno, menurut saya itu tidak bisa serta merta dipersalahkan. Sepanjang tidak ada niat jahat yang bersangkutan untuk menyebarluaskan, artinya murni untuk keperluan pribadi.

Memang ada ketentuan Pasal 4 ayat 1 UU Pornografi yang menyatakan:

"Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:
a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
b. kekerasan seksual;
c. masturbasi atau onani;
d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
e. alat kelamin; atau
f. pornografi anak."

Namun kata memperjualbelikan ini, hemat saya, tidak tepat bila ditafsirkan untuk ditujukan kepada orang yang membeli konten dewasa.

Di dalam hukum dikenal macam-macam metode penafsiran hukum. Jadi bila ingin benar-benar mengetahui makna dari suatu aturan tidak cukup dengan melihat teksnya saja, namun harus baca keseluruhan undang-undang tersebut agar mengerti konteks, sejarah serta maksud dan tujuan itu undang-undang itu dibuat. Dengan begitu maka kita bisa memaknai makna atau arti teks dengan benar sesuai dengan maksud dan tujuan pembuat undang-undangnya.

Sepanjang tidak ada niat jahat untuk menyebarluaskan, artinya murni untuk keperluan pribadi, itu tidak bisa dipersalahkan. Boris Tampubolon, S.H.

Bila melihat Penjelasan Umum Undang-Undang Pornografi, maka semangat Undang- Undang Pornografi itu adalah mencegah penyebarluasan pornografi. Jadi bila dikaitkan dengan kata "memperjualbelikan" maka itu bukan diartikan orang yang menjual dan orang yang membeli, melaikan orang yang "membuat dapat diperjualbelikan", dengan kata lain, ada orang yang menciptakan suatu sistem, atau "pasar" atau platform sehingga konten dewasa itu dapat disebarluaskan dengan cara bisa diakses atau bahkan dijualbelikan.

Jadi menurut saya, sepanjang tidak ada niat jahat yang bersangkutan untuk menyebarluaskan, artinya murni untuk keperluan pribadi, itu tidak bisa dipersalahkan.

Pihak-pihak yang membuat dapat diperjualbelikan konten dewasa inilah yang bisa dipersalahkan.

Demikian jawaban kami

Terima kasih

Boris Tampubolon, S.H.

Advokat dan Founder Dalimunthe & Tampubolon Lawyers (DNT Lawyers)


Tentang detik's Advocate

detik's Advocate adalah rubrik di detikcom berupa tanya-jawab dan konsultasi hukum dari pembaca detikcom. Semua pertanyaan akan dijawab dan dikupas tuntas oleh para pakar di bidangnya.

Pembaca boleh bertanya semua hal tentang hukum, baik masalah pidana, perdata, keluarga, hubungan dengan kekasih, UU Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), hukum merekam hubungan badan (UU Pornografi), hukum waris, perlindungan konsumen dan lain-lain.

Identitas penanya bisa ditulis terang atau disamarkan, disesuaikan dengan keinginan pembaca. Seluruh identitas penanya kami jamin akan dirahasiakan.

detik's advocate

Pertanyaan dan masalah hukum/pertanyaan seputar hukum di atas, bisa dikirim ke kami ya di email: redaksi@detik.com dan di-cc ke-email: andi.saputra@detik.com

Semua jawaban di rubrik ini bersifat informatif belaka dan bukan bagian dari legal opinion yang bisa dijadikan alat bukti di pengadilan serta tidak bisa digugat.

Simak juga 'Marshel Widianto Yakin Akan Jadi Bahan Candaan Teman soal Beli Video Porno':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/asp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT