ADVERTISEMENT

Politikus PKB: RI Perlu Antisipasi Absennya Negara Penolak Rusia di G20

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 26 Mar 2022 19:00 WIB
Sekjen PBNU Ahmad Helmy Faishal Zaini di Kediaman Maruf Amin.
Helmy Faishal Zaini dari PKB (Adhi Indra/detikcom)
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) tidak ingin Rusia hadir di KTT G20 di Indonesia nanti, kecuali Ukraina juga hadir. Australia bahkan ogah bersanding dengan Presiden Vladimir Putin. Indonesia sebagai tuan rumah perlu mengantisipasi kemungkinan boikot negara-negara anti-Rusia di forum G20 nanti.

"Pemerintah perlu menyusun strategi untuk menghadapi kemungkinan ancaman ketidakhadiran negara-negara yang sama wacanakan tuntutan agar Rusia tidak diundang. Ini penting sebagai langkah antisipatif," kata anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKB, Helmy Faishal Zaini, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/3/2022).

Helmy menyimak perkembangan terkini soal desakan Barat agar G20 menolak kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin. Apa pun desakan Barat, Indonesia harus terus bekerja menyiapkan forum G20 sesuai tata tertib. Lagi pula, G20 adalah forum ekonomi yang penting untuk dunia pascapandemi COVID-19.

"Lebih jauh tentu dunia berharap bahwa meski G20 adalah merupakan forum ekonomi, akan tetapi diharapkan juga sekaligus sebagai proses pencairan hubungan Rusia dan Ukraina," kata Helmy.

Pemerintah Indonesia juga dimintanya mengambil langkah strategis dalam forum G20.

Sikap Barat

Sebelumnya, negara-negara Barat atau sekutu Amerika Serikat (AS) yang menolak kedatangan Rusia ke KTT G20 di Bali adalah Australia. Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengaku ogah duduk bersanding dengan Putin di KTT G20.

"Gagasan untuk duduk di sekitar meja dengan Vladimir Putin, yang Amerika Serikat sudah dalam posisi menyerukan kejahatan perang di Ukraina, bagi saya adalah langkah yang terlalu jauh," kata Morrison saat konferensi pers seperti dilansir dari CNN, Kamis (24/3).

Presiden AS Joe Biden meyakini Rusia harus dikeluarkan dari G20. Biden mengatakan, jika Indonesia sebagai Presiden G20 dan negara anggota lainnya tidak setuju, Ukraina harus diundang ke pertemuan G20 tahun ini.

"Jawaban saya adalah iya, tergantung pada G20," ucap Biden ketika ditanya soal apakah Rusia harus dikeluarkan dari G20 di sela-sela kunjungannya ke Brussels, Belgia, seperti dilansir CNN dan Reuters, Jumat (25/3).

Biden mengatakan, jika negara-negara anggota G20 lainnya, termasuk Indonesia, yang memegang Presidensi G20 tahun ini, tidak setuju untuk mengeluarkan Rusia, Ukraina--yang bukan negara anggota G20--harus diizinkan hadir dalam KTT G20 di Bali.

"Itu tergantung pada G20. Itu dibahas hari ini, dan saya mengemukakan kemungkinan bahwa, jika itu tidak bisa dilakukan--jika Indonesia dan yang lain tidak setuju--maka dalam pandangan saya, kita harus meminta agar baik Ukraina bisa menghadiri pertemuan juga... pada dasarnya (memiliki) Ukraina untuk bisa menghadiri pertemuan G20 dan mengamati," jelas Biden dalam pernyataannya.

Lihat Video: Bertemu Cak Imin, Dubes Ukraina Berharap G20 Jadi Sarana Perdamaian

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/idh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT